Robot Humanoid Mulai Dijual di Indonesia, Berapa Harganya dan Bisa Buat Apa

Daftar Isi

 

Robot Humanoid Mulai Dijual di Indonesia, Berapa Harganya dan Bisa Buat Apa?



Robot yang selama ini identik dengan film fiksi ilmiah perlahan mulai masuk ke kehidupan nyata. Bukan hanya menjadi bahan demonstrasi di pameran teknologi, robot berkaki dua dan robot berkaki empat kini mulai dipasarkan secara komersial, termasuk di Indonesia.

Salah satu perusahaan yang membawa teknologi tersebut ke pasar Tanah Air adalah AiMOGA Robotics. Perusahaan ini mulai memasarkan robot humanoid Mornine dan robot anjing Argos di Indonesia. Harganya pun cukup mencolok. Mornine dipasarkan dengan harga sekitar Rp800 juta hingga Rp1 miliar, sedangkan Argos ditawarkan mulai sekitar Rp50 juta.

Kedua produk tersebut diperkenalkan dalam pembukaan experience store pertama AiMOGA di Jakarta pada Rabu, 9 September. Kehadirannya menjadi menarik karena menunjukkan bahwa robot berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai bergeser dari sekadar proyek riset menuju produk yang dapat dibeli dan digunakan dalam kehidupan nyata.

Namun, dengan harga ratusan juta rupiah untuk robot humanoid, sebenarnya apa yang didapatkan pengguna? Apakah Mornine benar-benar bisa menjadi "asisten pribadi" seperti yang digambarkan dalam film? Lalu, bagaimana dengan Argos yang harganya jauh lebih rendah?

Mornine, Robot Humanoid Setinggi Manusia

Mornine merupakan robot humanoid yang dirancang dengan bentuk menyerupai manusia. Robot ini memiliki tinggi sekitar 167 sentimeter dan bobot sekitar 70 kilogram.

Dengan ukuran tersebut, Mornine memang tidak bisa lagi disebut sebagai robot kecil untuk sekadar demonstrasi. Bentuknya dirancang agar dapat beroperasi di lingkungan yang memang dibuat untuk manusia.

Salah satu teknologi penting yang dibawa Mornine adalah integrasi AI multimodal berbasis large language model atau LLM. Artinya, kemampuan robot tidak hanya bergantung pada gerakan yang sudah diprogram sebelumnya.

Mornine juga dilengkapi kamera, sensor, mikrofon, dan teknologi 3D LiDAR. Kombinasi perangkat tersebut memungkinkan robot memperoleh informasi mengenai lingkungan di sekitarnya sekaligus membantu proses navigasi.

Kamera dapat digunakan untuk menangkap informasi visual, mikrofon membantu robot menerima suara, sedangkan sensor dan LiDAR berperan dalam memahami lingkungan serta membantu robot bergerak secara mandiri.

Kombinasi AI dan berbagai sensor inilah yang menjadi pembeda utama antara robot humanoid modern dengan robot konvensional yang hanya menjalankan gerakan berdasarkan program tetap.

Bukan Sekadar Robot yang Bisa Berjalan

Kemampuan berjalan tentu menjadi salah satu hal menarik dari robot humanoid. Namun, fungsi Mornine yang ditawarkan AiMOGA jauh lebih luas daripada sekadar menunjukkan kemampuan berjalan menggunakan dua kaki.

Robot ini diposisikan sebagai human assistant atau asisten manusia.

Dalam lingkungan komersial, Mornine dapat digunakan untuk menyambut tamu, memberikan informasi, membantu entertainment, hingga menyampaikan pengetahuan mengenai suatu produk secara konsisten.

Bayangkan sebuah robot yang berdiri di lobby gedung atau pusat perbelanjaan. Ketika seseorang datang dan membutuhkan informasi, robot tersebut dapat berinteraksi menggunakan bahasa manusia dan memberikan jawaban berdasarkan sistem AI yang dimilikinya.

Konsep yang sama dapat diterapkan di rumah sakit, fasilitas pelayanan publik, institusi pendidikan, hingga berbagai lingkungan industri.

Menurut AiMOGA, robot tersebut dapat digunakan untuk fungsi pelayanan seperti customer service di lobby mall, gedung, maupun rumah sakit.

Namun, perusahaan menekankan bahwa Mornine bukan dirancang untuk menggantikan manusia sepenuhnya.

Posisinya lebih sebagai alat bantu untuk mengambil alih pekerjaan tertentu yang bersifat repetitif atau tidak membutuhkan keterlibatan manusia secara penuh.

Baca juga : Cara Cek Kualitas Udara Lewat HP dan Google Maps, Begini Panduannya

Kenapa Harga Mornine Mencapai Rp1 Miliar?

Harga sekitar Rp800 juta hingga Rp1 miliar tentu membuat Mornine bukan produk yang bisa dibeli sembarang konsumen.

Jika dibandingkan dengan smartphone, laptop, atau bahkan mobil, nominal tersebut memang sangat besar. Tetapi robot humanoid merupakan perangkat dengan kompleksitas yang jauh berbeda.

Sebuah robot humanoid membutuhkan kombinasi mekanik, aktuator, sensor, kamera, sistem navigasi, komputer, baterai, serta perangkat lunak AI.

Robot juga harus mampu menjaga keseimbangan ketika bergerak, memahami lingkungan, mengenali objek, menerima perintah, dan berinteraksi dengan manusia. Semua kemampuan tersebut membutuhkan integrasi perangkat keras dan software yang kompleks.

Karena itu, harga ratusan juta rupiah tidak hanya membayar bentuk tubuh robot, tetapi juga teknologi yang membuat robot tersebut dapat berfungsi sebagai mesin yang berinteraksi dengan dunia fisik.

Untuk saat ini, Mornine lebih masuk akal jika digunakan perusahaan, rumah sakit, pusat perbelanjaan, institusi pendidikan, industri, atau organisasi yang memang memiliki kebutuhan terhadap otomatisasi dan pelayanan berbasis robot.

Argos, Robot Anjing yang Lebih Terjangkau

Jika Mornine terasa seperti produk dari masa depan yang harganya masih jauh dari jangkauan konsumen biasa, AiMOGA juga menawarkan Argos.

Berbeda dengan Mornine yang berbentuk manusia, Argos merupakan robot berkaki empat dengan konsep yang menyerupai anjing robot.

Harga global Argos disebut berada di kisaran 15.800 yuan, sementara di Indonesia dipasarkan sekitar Rp50 juta.

Nominal tersebut masih mahal untuk sebuah perangkat pendamping, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan robot humanoid.

Argos dilengkapi kamera, mikrofon, radar, speaker, dan lampu penerangan. Robot ini juga dapat menerima perintah melalui suara maupun sentuhan.

Fungsi yang ditawarkan cukup beragam. Argos dapat digunakan sebagai robot pendamping, menemani pengguna berjalan-jalan, membantu membawa barang, hingga melakukan fungsi pengawasan tertentu seperti membantu mengawasi anak.

Karakteristik berkaki empat juga membuat konsep Argos menarik untuk lingkungan yang membutuhkan mobilitas robot tanpa harus menggunakan bentuk humanoid.

Robot Anjing Bukan Sekadar Mainan Mahal

Melihat harganya, mungkin ada yang menganggap Argos hanya sebagai mainan mahal untuk orang kaya.

Memang, penggunaan sebagai companion atau pendamping bisa menjadi salah satu skenarionya. Namun, kemampuan kamera, radar, mikrofon, speaker, dan navigasi membuat robot berkaki empat memiliki potensi penggunaan yang lebih luas.

Robot seperti Argos dapat digunakan untuk membawa benda dalam kondisi tertentu, membantu pemantauan area, atau menjadi perangkat interaktif dalam lingkungan rumah.

Namun, pengguna tetap perlu memahami batas kemampuannya. Robot pendamping tidak sama dengan manusia atau hewan peliharaan. Kemampuan pengawasan juga tidak boleh diartikan bahwa robot dapat menggantikan pengawasan orang dewasa secara penuh.

Untuk kebutuhan serius seperti keamanan, robot tetap menjadi bagian dari sistem yang lebih besar, bukan solusi tunggal.

Dari Robot Mainan Menuju Asisten Berbasis AI

Hal menarik dari kehadiran Mornine dan Argos di Indonesia bukan hanya soal harga.

Keduanya menunjukkan arah perkembangan industri robot yang semakin terhubung dengan AI.

Dulu, robot sering kali hanya melakukan satu tugas tertentu. Misalnya robot industri mengangkat benda di jalur produksi dengan gerakan yang sama berulang kali.

Sekarang, perkembangan AI membuat robot dapat diberikan kemampuan untuk memahami perintah manusia, mengenali lingkungan, serta merespons kondisi yang berubah.

Dengan model AI multimodal, robot berpotensi menggabungkan berbagai jenis input sekaligus, seperti suara, gambar, dan informasi dari sensor.

Inilah yang membuat konsep robot sebagai "asisten" menjadi semakin realistis.

Meski begitu, kemampuan AI tidak otomatis berarti robot bisa melakukan semua pekerjaan manusia. Dunia fisik jauh lebih rumit dibandingkan lingkungan digital.

Robot harus menghadapi permukaan yang berbeda, benda yang posisinya berubah, manusia yang bergerak secara tidak terduga, serta berbagai kondisi lain yang sulit diprediksi.

Karena itu, kemampuan robot dalam praktik tetap bergantung pada desain mekanik, sensor, software, lingkungan operasi, dan skenario penggunaan.

Sudah Dikirim ke Ribuan Unit dan Puluhan Negara

Menurut informasi AiMOGA, perusahaan tersebut telah mengirimkan lebih dari 2.000 unit produknya dan menjangkau lebih dari 60 negara.

Produk-produknya juga disebut telah diterapkan dalam ratusan skenario nyata di berbagai sektor, termasuk otomotif dan layanan medis.

Angka tersebut menunjukkan bahwa robot humanoid dan robot berkaki empat mulai mendapatkan tempat dalam eksperimen maupun implementasi teknologi di dunia nyata.

Namun, jumlah unit tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan perangkat elektronik konsumen seperti smartphone atau laptop.

Hal ini cukup wajar karena teknologi robotik memiliki tantangan produksi dan biaya yang berbeda. Robot tidak hanya perlu diproduksi, tetapi juga harus diuji untuk memastikan mekanik, sensor, software, baterai, dan sistem keselamatannya dapat bekerja dengan baik.

Sudah Punya Sertifikasi Keamanan

Untuk Mornine, AiMOGA menyebut produknya telah memperoleh beberapa sertifikasi, termasuk CE-MD atau Machinery Safety Directive dari Uni Eropa, EN 18031 yang berkaitan dengan cybersecurity dan perlindungan data, serta CE-RED atau Radio Equipment Directive.

Produk tersebut juga disebut telah memperoleh sertifikasi FCC dari Amerika Serikat.

Kehadiran sertifikasi menjadi aspek penting karena robot yang terhubung dengan AI tidak hanya berurusan dengan persoalan mekanik.

Robot dapat memiliki kamera dan mikrofon, sehingga berpotensi mengumpulkan informasi mengenai lingkungan tempatnya beroperasi. Karena itu, aspek keamanan perangkat, komunikasi, dan perlindungan data menjadi sama pentingnya dengan kemampuan robot bergerak.

Bagi perusahaan atau institusi yang ingin menggunakan robot seperti ini, aspek privasi dan keamanan data seharusnya menjadi bagian dari pertimbangan sebelum membeli.

Apakah Robot Humanoid Akan Jadi Umum di Indonesia?

Kehadiran Mornine dengan harga sekitar Rp800 juta sampai Rp1 miliar memang belum menunjukkan bahwa setiap rumah di Indonesia akan memiliki robot humanoid dalam waktu dekat.

Namun, penjualan komersial seperti ini menjadi salah satu tanda bahwa teknologi robot sedang memasuki tahap baru.

Kemungkinan besar, adopsi awal akan lebih banyak terjadi di sektor bisnis dan institusi yang dapat menghitung manfaat ekonominya secara jelas.

Jika sebuah robot dapat membantu melayani pelanggan, memberikan informasi selama berjam-jam, membantu pekerjaan tertentu, atau menjalankan tugas repetitif, perusahaan bisa menghitung apakah biaya pembelian dan pemeliharaannya sebanding dengan manfaat yang diperoleh.

Sementara itu, robot seperti Argos dengan harga sekitar Rp50 juta memiliki peluang lebih luas sebagai perangkat pendamping, hiburan, eksperimen teknologi, maupun perangkat bantu untuk kebutuhan tertentu.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah robot humanoid akan hadir di Indonesia. Robot tersebut sudah mulai dijual.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah seberapa cepat teknologi robot berbasis AI menjadi cukup murah, aman, dan berguna untuk digunakan oleh masyarakat secara lebih luas.

Untuk saat ini, Mornine dan Argos masih menjadi produk teknologi premium. Mornine menawarkan konsep asisten humanoid dengan kemampuan AI dan sensor yang kompleks, sedangkan Argos menghadirkan pendekatan robot berkaki empat yang lebih sederhana dan relatif terjangkau.

Jika perkembangan AI, komponen robotik, baterai, dan manufaktur terus berjalan, bukan tidak mungkin harga robot semacam ini perlahan turun. Dan ketika hal itu terjadi, robot yang sekarang terlihat seperti teknologi masa depan bisa saja berubah menjadi perangkat biasa yang ditemukan di lebih banyak rumah, toko, rumah sakit, dan tempat kerja.

Posting Komentar