Cara Cek Kualitas Udara Lewat HP dan Google Maps, Begini Panduannya
Cara Cek Kualitas Udara Lewat HP dan Google Maps, Begini Panduannya
Kualitas udara menjadi salah satu hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum beraktivitas di luar rumah. Udara yang terlihat bersih belum tentu memiliki kualitas yang benar-benar baik. Berbagai polutan berukuran sangat kecil dapat berada di udara tanpa terlihat oleh mata, salah satunya adalah particulate matter atau PM2.5.
Kabar baiknya, masyarakat kini tidak perlu menggunakan alat khusus untuk sekadar mendapatkan gambaran mengenai kondisi udara di suatu wilayah. Informasi kualitas udara dapat dipantau melalui sejumlah aplikasi di HP, layanan peta digital seperti Google Maps, hingga layanan resmi pemerintah seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dengan memanfaatkan layanan tersebut, pengguna bisa mengetahui apakah udara di lokasi tertentu tergolong baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, atau bahkan berbahaya. Informasi ini kemudian dapat menjadi pertimbangan sebelum jogging, bersepeda, bepergian, bekerja di luar ruangan, atau melakukan aktivitas lain yang membuat seseorang terpapar udara luar dalam waktu lama.
Mengapa Kualitas Udara Perlu Dicek?
Selama ini, banyak orang menganggap kondisi udara cukup dilihat dari ada atau tidaknya asap, kabut, atau bau yang menyengat. Padahal, sejumlah polutan tidak dapat dilihat secara langsung.
PM2.5 merupakan salah satu parameter yang banyak digunakan dalam pemantauan kualitas udara. Sesuai namanya, PM2.5 mengacu pada partikel yang memiliki diameter hingga sekitar 2,5 mikrometer. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat terbawa di udara dan menjadi perhatian dalam pemantauan polusi.
Partikel tersebut dapat berasal dari berbagai sumber. Asap kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran, emisi industri, debu, hingga kebakaran dapat berkontribusi terhadap keberadaan partikulat di udara.
Karena ukurannya kecil, PM2.5 tidak bisa dinilai hanya dengan melihat kondisi lingkungan secara kasatmata. Di sinilah aplikasi dan layanan pemantauan kualitas udara menjadi berguna.
Cara Cek Kualitas Udara Lewat Google Maps
Salah satu cara praktis untuk mengetahui kondisi udara di suatu wilayah adalah menggunakan Google Maps. Layanan peta digital ini tidak hanya digunakan untuk mencari alamat, menentukan rute perjalanan, atau menemukan tempat tertentu, tetapi juga dapat menampilkan informasi mengenai kondisi lingkungan di sejumlah lokasi.
Untuk mengeceknya, buka aplikasi Google Maps di HP. Kemudian cari lokasi atau kota yang ingin dipantau. Setelah lokasi ditemukan, pengguna dapat membuka opsi Layers atau Lapisan yang biasanya berada di bagian antarmuka peta.
Jika fitur kualitas udara tersedia untuk wilayah dan perangkat pengguna, pilih lapisan Air Quality atau Kualitas Udara. Google Maps kemudian akan menampilkan informasi kualitas udara pada area yang dipilih.
Tampilan dan ketersediaan fitur dapat berbeda tergantung wilayah, perangkat, serta pembaruan layanan. Karena itu, apabila opsi kualitas udara tidak muncul, bukan berarti wilayah tersebut bebas polusi. Bisa saja informasi kualitas udara memang belum tersedia melalui layanan tersebut.
Google Maps lebih cocok digunakan ketika pengguna ingin memperoleh gambaran cepat mengenai kondisi udara suatu area, terutama saat sedang merencanakan perjalanan atau ingin membandingkan kondisi beberapa lokasi.
Baca juga : Cara Mengamankan Data HP Sebelum Dibawa ke Tempat Service
Cara Cek Kualitas Udara Melalui BMKG
Selain menggunakan layanan pihak ketiga, masyarakat Indonesia juga dapat memanfaatkan layanan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Layanan kualitas udara BMKG menyediakan informasi mengenai konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah Indonesia. Ini membuatnya cukup relevan bagi pengguna yang ingin mengetahui kondisi udara berdasarkan pemantauan di wilayah dalam negeri.
Cara menggunakannya relatif sederhana.
Pertama, buka situs layanan kualitas udara BMKG melalui browser di HP atau komputer. Setelah halaman terbuka, cari atau pilih kota yang ingin dipantau.
Selanjutnya, perhatikan angka konsentrasi PM2.5 yang ditampilkan. Jangan hanya melihat angka tersebut, tetapi perhatikan juga kategori kualitas udara yang menyertainya.
Kategori tersebut membantu pengguna memahami apakah angka PM2.5 yang ditampilkan masih berada pada tingkat yang tergolong baik atau sudah masuk kategori yang perlu diwaspadai.
Memahami Kategori PM2.5
Angka PM2.5 biasanya ditampilkan menggunakan satuan mikrogram per meter kubik atau µg/m³. Semakin tinggi konsentrasinya, semakin buruk kondisi udara yang terukur.
Dalam informasi yang diberikan pada layanan BMKG, konsentrasi PM2.5 dikelompokkan menjadi beberapa kategori.
0–15,5 µg/m³ — Baik
Pada rentang ini, kualitas udara berada dalam kategori baik. Kondisi seperti ini secara umum lebih nyaman untuk melakukan aktivitas luar ruangan.
15,6–55,4 µg/m³ — Sedang
Kualitas udara masuk kategori sedang. Kondisi ini belum berarti udara sangat buruk, tetapi masyarakat tetap perlu memperhatikan situasi, terutama jika seseorang sensitif terhadap polusi udara.
55,5–150,4 µg/m³ — Tidak Sehat
Ketika konsentrasi PM2.5 sudah masuk rentang ini, kualitas udara tergolong tidak sehat. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya mulai dipertimbangkan kembali, khususnya aktivitas yang membutuhkan banyak tenaga dan membuat seseorang bernapas lebih cepat.
150,5–250,4 µg/m³ — Sangat Tidak Sehat
Kategori ini menunjukkan kondisi udara yang jauh lebih buruk. Mengurangi paparan udara luar menjadi langkah yang lebih masuk akal, terutama bagi kelompok yang sensitif.
Lebih dari 250,5 µg/m³ — Berbahaya
Konsentrasi PM2.5 yang berada di atas ambang tersebut masuk kategori berbahaya. Kondisi seperti ini menjadi alasan kuat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan informasi serta rekomendasi dari sumber resmi.
Perlu diingat bahwa angka dan kategori merupakan informasi pemantauan pada waktu dan lokasi tertentu. Kondisi kualitas udara dapat berubah seiring waktu akibat cuaca, angin, aktivitas kendaraan, pembakaran, dan berbagai faktor lainnya.
Jangan Salah Mengartikan Angka Kualitas Udara
Ada satu hal penting yang sering dilupakan ketika melihat aplikasi kualitas udara: angka tersebut bukan kondisi yang berlaku selamanya.
Misalnya, sebuah wilayah menunjukkan kualitas udara sedang pada pagi hari. Beberapa jam kemudian, kondisinya bisa berubah karena arah angin atau peningkatan aktivitas kendaraan.
Sebaliknya, kualitas udara yang terlihat buruk pada satu waktu belum tentu tetap buruk sepanjang hari.
Karena itu, jika tujuan pengecekan adalah menentukan apakah aman melakukan aktivitas di luar ruangan, sebaiknya informasi dilihat mendekati waktu aktivitas. Untuk kegiatan yang berlangsung lama, pemantauan secara berkala juga lebih masuk akal.
Pengguna juga sebaiknya tidak terpaku pada satu aplikasi saja ketika terdapat perbedaan informasi. Setiap layanan dapat menggunakan sumber data, stasiun pemantauan, metode pengolahan, atau waktu pembaruan yang berbeda.
Kapan Sebaiknya Mengecek Kualitas Udara?
Pengecekan kualitas udara bisa dilakukan sebelum berbagai aktivitas.
Bagi orang yang rutin jogging atau bersepeda, misalnya, kondisi udara dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan waktu olahraga. Jika kualitas udara sedang buruk, aktivitas dapat dipindahkan ke waktu lain atau dilakukan di dalam ruangan.
Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan juga dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengetahui kondisi lingkungan sebelum bekerja.
Begitu pula ketika hendak bepergian ke kota lain. Pengguna dapat mengecek kondisi udara di daerah tujuan sebelum berangkat.
Namun, informasi kualitas udara sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan dalam kondisi ekstrem. Jika terdapat peringatan resmi mengenai asap kebakaran, erupsi gunung api, atau kejadian lain yang berpotensi memengaruhi kualitas udara, ikuti informasi dan rekomendasi dari lembaga terkait.
Aplikasi HP Membuat Pemantauan Jadi Lebih Praktis
Dulu, mengetahui kualitas udara mungkin terasa seperti sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh lembaga pemerintah atau menggunakan alat khusus. Sekarang, masyarakat dapat memperoleh informasi tersebut langsung dari perangkat yang hampir selalu dibawa setiap hari.
Google Maps dapat menjadi pilihan praktis untuk melihat kondisi udara berdasarkan area pada peta, sedangkan layanan BMKG dapat digunakan untuk memperoleh informasi pemantauan PM2.5 di sejumlah wilayah Indonesia.
Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi. Ketika sedang mencari lokasi tertentu, Google Maps bisa menjadi pilihan yang praktis. Sementara itu, layanan BMKG dapat menjadi rujukan penting untuk melihat data kualitas udara yang disediakan khusus untuk wilayah Indonesia.
Yang paling penting adalah memahami apa yang sedang dilihat. Jangan sampai pengguna hanya melihat angka PM2.5 tanpa mengetahui satuannya atau kategori kualitas udaranya.
Cek Udara Sebelum Keluar Rumah
Memeriksa kualitas udara lewat HP sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Beberapa langkah sederhana sudah cukup untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi lingkungan sebelum beraktivitas.
Pengguna dapat membuka Google Maps dan memeriksa lapisan kualitas udara jika fitur tersebut tersedia. Alternatif lainnya adalah membuka layanan kualitas udara BMKG, memilih kota yang ingin dipantau, kemudian melihat konsentrasi PM2.5 beserta kategorinya.
PM2.5 sendiri merupakan partikel berukuran sangat kecil yang menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara. Ketika konsentrasinya meningkat, kategori kualitas udara juga bergerak menuju kondisi yang lebih buruk.
Jadi, sebelum jogging, bersepeda, bepergian, atau melakukan pekerjaan di luar ruangan, tidak ada salahnya meluangkan waktu beberapa detik untuk mengecek kondisi udara.
Dengan kebiasaan sederhana tersebut, HP bukan hanya menjadi alat untuk mencari rute atau berkomunikasi, tetapi juga dapat membantu pengguna membuat keputusan yang lebih bijak mengenai aktivitas di lingkungan luar.

Posting Komentar