Meta Muse AI Bisa Kerja untuk Anda, Tapi Justru Bikin Khawatir Soal Privasi

Daftar Isi

 

Meta Muse AI Bisa Kerja untuk Anda, Tapi Justru Bikin Khawatir Soal Privasi



Kecerdasan buatan kini mulai bergerak jauh melampaui sekadar menjawab pertanyaan. AI generatif generasi terbaru mulai diberi kemampuan untuk benar-benar melakukan pekerjaan atas nama penggunanya, mulai dari mengatur email, mencari barang belanjaan, merencanakan perjalanan, hingga membantu mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.

Meta mencoba masuk ke wilayah tersebut melalui Muse, asisten AI yang dirancang untuk mengerjakan berbagai tugas secara lebih mandiri. Kehadiran Muse menjadi langkah menarik karena Meta selama ini lebih dikenal melalui platform media sosial dan hiburan seperti Facebook serta Instagram, bukan sebagai perusahaan yang identik dengan perangkat produktivitas.

Namun, kemampuan Muse justru menghadirkan sebuah pertanyaan besar: seberapa banyak informasi pribadi yang harus diberikan kepada AI agar ia bisa benar-benar membantu?

Pengalaman mencoba Muse menunjukkan bahwa teknologi ini memang cukup mengesankan dalam melakukan pekerjaan sederhana. Masalahnya, semakin pintar Muse bekerja, semakin besar pula akses yang dibutuhkannya terhadap kehidupan digital penggunanya.

Muse Dirancang untuk Mengerjakan Pekerjaan, Bukan Sekadar Menjawab

Konsep Muse berbeda dari chatbot biasa. AI ini dirancang sebagai agen yang dapat menjalankan tindakan melalui komputer virtual berbasis cloud.

Artinya, pengguna tidak hanya memberikan pertanyaan kemudian menerima jawaban. Muse dapat melakukan serangkaian langkah untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Salah satu pengujian yang dilakukan adalah meminta Muse membersihkan kotak masuk Gmail. Tugasnya cukup sederhana: memilah email yang dianggap tidak diperlukan dan menghapusnya.

Tetapi agar bisa melakukannya, pengguna harus menghubungkan akun Google dan memberikan izin kepada Muse untuk mengakses, membaca, serta menghapus email.

Proses login ternyata tidak berjalan mulus ketika dicoba melalui perangkat seluler. Halaman login Google sempat mengalami gangguan dan terus mengarahkan kembali ke situs Muse. Setelah berpindah ke laptop, proses akhirnya berhasil.

Muse kemudian mampu menghapus ribuan email promosi dan berbagai pembaruan yang menumpuk di inbox.

Dari sisi kemampuan, hasilnya cukup mengesankan. Muse benar-benar berhasil melakukan pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu cukup lama jika dilakukan secara manual.

Tetapi dari sisi privasi, ada persoalan yang jauh lebih serius.

Bayangkan memberikan akses kepada sebuah AI untuk membaca isi email pribadi Anda. Email bukan sekadar kumpulan pesan biasa. Di dalamnya bisa terdapat informasi pekerjaan, transaksi, percakapan pribadi, dokumen, alamat, hingga berbagai data sensitif lainnya.

Di sinilah kemampuan agentic AI mulai terasa berbeda. Semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan AI, semakin banyak pula akses yang secara praktis harus diberikan kepadanya.

Baca juga :ENIAC: Kisah Komputer Raksasa yang Mengubah Sejarah Teknologi Komputasi

Belanja Online Jadi Lebih Praktis

Pengujian berikutnya dilakukan dengan menghubungkan akun Amazon ke Muse.

Muse kemudian diminta mencari pakaian olahraga berdasarkan ukuran, model, dan warna tertentu. Untuk tugas seperti ini, kemampuan AI agent memang terasa sangat praktis.

Muse tidak hanya mencari barang sesuai kriteria, tetapi juga memperhatikan isi keranjang belanja. Ketika menemukan barang lain yang sudah berada di dalam keranjang, Muse bertanya apakah pengguna ingin menghapus barang tersebut.

Hal kecil seperti ini justru menunjukkan potensi AI agent.

Muse tidak sekadar menjalankan instruksi secara membabi buta. Ia mencoba memahami konteks dan menghindari tindakan yang mungkin tidak diinginkan pengguna.

Setelah mendapatkan persetujuan, Muse berhasil membeli tank top sesuai permintaan tanpa melakukan pembelian tambahan.

Pengalaman ini memperlihatkan sisi positif agentic AI. AI bisa menjadi semacam asisten digital yang menangani pekerjaan administratif dan membosankan.

Namun, konsekuensinya juga jelas. Ketika AI sudah diberi kemampuan melakukan transaksi, persoalan keamanan berubah menjadi jauh lebih penting.

AI yang hanya memberikan rekomendasi tentu berbeda dengan AI yang memiliki kemampuan melakukan pembelian menggunakan akun dan metode pembayaran pengguna.

Muse Bisa Membuat Gambar, Video, hingga Halaman Interaktif

Kemampuan Muse ternyata tidak berhenti pada email dan belanja.

Asisten ini juga memiliki fitur untuk membuat podcast berbasis AI, menghasilkan gambar dan video, serta membuat dokumen atau halaman interaktif yang disebut sebagai “artifacts”.

Menariknya, perilaku Muse dalam menghasilkan konten tidak selalu konsisten.

Ketika diminta membuat gambar karakter kartun berupa tikus dengan celana merah, permintaan tersebut ditolak. Permintaan lain berupa karakter kartun laki-laki dengan topi merah, celana terusan biru, rambut cokelat, dan kumis juga tidak berhasil.

Namun, ketika diminta membuat gambar acara peluncuran produk dengan perangkat yang menggunakan logo Apple, Muse justru menghasilkan berbagai gambar dan video.

Hasilnya bahkan menampilkan perangkat yang menyerupai iPhone lipat, Apple Watch, dan AirPods. Logo Apple terlihat digunakan secara sangat menonjol, termasuk pada panggung dan perangkat.

Gambar tersebut juga menampilkan ikon aplikasi yang menyerupai aplikasi bawaan Apple. Namun, beberapa detailnya justru menunjukkan kesalahan khas AI generatif. Misalnya, App Store diberi nama “Photos”, sedangkan beberapa aplikasi lainnya diberi label yang tidak sesuai.

Muse juga menolak ketika diminta membuat gambar CEO Apple.

Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa AI generatif tidak selalu memiliki batasan yang sederhana dan konsisten dalam memahami konteks sebuah permintaan.

Fitur Feed Justru Membuat Pengalaman Terasa Aneh

Bagian paling menarik dari pengujian Muse muncul ketika beralih ke tab Feed.

Fitur ini memungkinkan Muse membuat semacam feed berita berdasarkan instruksi teks. Prompt bawaan yang diberikan Meta meminta AI membuat feed berdasarkan minat pengguna dengan gaya yang jelas, langsung, mudah dipindai, dan sebisa mungkin tidak menggunakan clickbait.

Hasilnya berupa berbagai ringkasan berita yang dianggap relevan.

Muse menampilkan topik mengenai peluncuran iPhone Duo, kondisi ombak berbahaya di pesisir California, hingga kapal tanker yang hancur dalam perang Iran.

Yang membuat pengalaman tersebut terasa berbeda adalah Muse juga menampilkan berita dari negara bagian tempat pengguna sedang mengunjungi keluarganya.

Ketika ditanya dari mana informasi lokasi tersebut berasal, Muse mengatakan bahwa informasi itu diambil dari alamat pengiriman Amazon yang sebelumnya digunakan ketika akun tersebut dihubungkan.

Di titik ini, kemampuan personalisasi Muse mulai terasa sedikit mengganggu.

Sebab, pengguna mungkin tidak secara sadar pernah memberi tahu Muse bahwa dirinya sedang berada di lokasi tersebut. Informasi itu ditemukan AI dari data lain yang sebelumnya diberikan untuk keperluan berbeda.

AI Ternyata Bisa Mengetahui Minat yang Sangat Spesifik

Pengujian kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan sederhana: informasi apa lagi yang diketahui Muse tentang pengguna berdasarkan akun Instagram dan Facebook yang digunakan untuk mengakses layanan tersebut?

Jawabannya cukup mengejutkan.

Muse mampu menyebutkan berbagai minat yang sangat spesifik, mulai dari anime, CrossFit, Labrador retriever, satwa liar Florida, hingga nostalgia era 1990-an dan 2000-an.

Yang membuatnya semakin menarik adalah banyak dari topik tersebut memang terasa mirip dengan konten yang sering muncul di Instagram Reels pengguna.

Ketika ditanya bagaimana Muse bisa mengetahui daftar minat tersebut, AI menjelaskan bahwa informasi tersebut tidak ditampilkan secara lengkap di antarmuka Instagram. Muse mengklaim membaca informasi tersebut melalui data API akun, yang menurutnya dapat menampilkan informasi lebih banyak dibandingkan tampilan aplikasi biasa.

Pengguna kemudian memeriksa daftar “Ad topics” di pengaturan Instagram.

Memang ada beberapa kategori seperti olahraga, musik, dan elektronik. Namun, daftar tersebut tidak memberikan tingkat detail yang sama seperti informasi yang sebelumnya diberikan Muse.

Inilah bagian yang paling membuat pengalaman tersebut terasa tidak nyaman.

Bukan semata-mata karena AI mengetahui minat pengguna. Platform digital memang sudah lama menggunakan data perilaku untuk personalisasi.

Masalahnya adalah ketika sebuah AI dapat mengungkapkan informasi mengenai diri kita yang bahkan tidak kita sadari tersedia di balik antarmuka aplikasi.

Meta Punya Tantangan Besar: Membangun Kepercayaan

Meta mengatakan Muse dirancang hanya bertukar data dengan aplikasi pihak ketiga yang memang dibutuhkan agar fitur dapat bekerja. Perusahaan juga menyatakan bahwa informasi pengguna tidak dibagikan kepada pengiklan.

Pernyataan tersebut tentu penting. Namun, bagi pengguna, persoalannya tidak berhenti pada apakah data dijual kepada pengiklan atau tidak.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar: data apa yang dapat diakses AI, bagaimana data tersebut digunakan, berapa lama disimpan, dan sejauh mana pengguna benar-benar memahami akses yang telah diberikan?

Agentic AI membutuhkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan chatbot biasa.

Jika chatbot hanya menjawab pertanyaan, kesalahan jawabannya mungkin cukup membuat pengguna kesal. Tetapi jika AI memiliki akses ke email, akun belanja, media sosial, dan bahkan kemampuan melakukan transaksi, konsekuensinya jauh lebih besar.

Bayangkan AI salah menghapus email penting, membeli barang yang tidak diinginkan, atau menggunakan informasi pribadi di luar konteks yang dipahami pengguna.

Karena itu, perkembangan agentic AI bukan hanya perlombaan mengenai siapa yang memiliki AI paling pintar. Ini juga merupakan perlombaan mengenai siapa yang paling mampu membuat pengguna merasa aman.

Muse Menunjukkan Masa Depan AI Sekaligus Masalahnya

Secara kemampuan, Muse menunjukkan gambaran menarik mengenai masa depan asisten digital.

AI dapat membersihkan inbox, membantu belanja, memberikan rekomendasi, membuat konten, menyusun feed personal, bahkan menyimpan daftar ide dan tujuan berdasarkan percakapan dengan pengguna.

Muse juga dapat memberikan saran mengenai berbagai cara pemanfaatannya, seperti membandingkan produk, mencari langganan yang terlupakan, membantu membatalkan layanan tertentu, hingga mengingatkan jadwal perilisan produk.

Dengan kata lain, Muse memang berhasil menangani banyak pekerjaan kecil yang selama ini menghabiskan waktu manusia.

Tetapi justru karena itulah masalah privasi menjadi semakin penting.

AI agent yang benar-benar berguna harus mengetahui cukup banyak tentang penggunanya. Namun, semakin banyak yang diketahui, semakin besar pula risiko jika akses tersebut disalahgunakan, bocor, atau digunakan di luar ekspektasi pengguna.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Meta mungkin bukan membuat Muse lebih pintar.

Tantangan sebenarnya adalah membuat pengguna cukup percaya untuk memberikan akses kepada AI tersebut.

Sebab, meminta AI mencari produk olahraga bukanlah persoalan besar. Tetapi meminta AI membaca ribuan email pribadi, memahami kebiasaan media sosial, mengetahui lokasi pengguna dari alamat pengiriman, lalu memiliki kemampuan melakukan transaksi menggunakan akun yang sama, sudah masuk ke level hubungan yang jauh lebih personal.

Muse memperlihatkan bahwa era AI yang bisa “mengurus pekerjaan kita” memang semakin dekat. Namun, teknologi tersebut juga mengingatkan bahwa kenyamanan digital hampir selalu memiliki harga.

Dan untuk agentic AI, harga tersebut mungkin bukan sekadar uang, melainkan tingkat kepercayaan dan jumlah data pribadi yang bersedia kita serahkan.

Posting Komentar