Kenapa Grafis Nintendo Switch 2 Masih Kalah dari PS5? Ini Alasan Utamanya

Daftar Isi

 

Kenapa Grafis Nintendo Switch 2 Masih Kalah dari PS5? Ini Alasan Utamanya



Nintendo Switch 2 hadir sebagai penerus Nintendo Switch dengan peningkatan hardware yang cukup besar. Konsol hybrid ini sudah mendukung teknologi seperti NVIDIA DLSS, ray tracing, serta output hingga 4K ketika digunakan dalam mode TV. GPU yang digunakan juga sudah berbasis arsitektur NVIDIA Ampere, jauh lebih modern dibandingkan perangkat generasi sebelumnya.

Namun, ketika membandingkan kualitas grafis secara langsung dengan PlayStation 5, Nintendo Switch 2 masih belum mampu menyamai konsol Sony tersebut. Perbedaan ini terutama terlihat ketika game yang sama tersedia di kedua platform.

Menariknya, masalahnya bukan karena Nintendo Switch 2 tidak memiliki teknologi grafis modern. Justru konsol tersebut mempunyai sejumlah fitur yang sangat membantu meningkatkan kualitas visual. Persoalannya adalah Nintendo harus merancang Switch 2 sebagai perangkat hybrid yang bisa digunakan di TV sekaligus dalam bentuk handheld.

Sementara itu, PS5 dirancang sebagai konsol rumahan yang tidak perlu memikirkan keterbatasan daya dan mobilitas dengan cara yang sama.

Lantas, mengapa kemampuan grafis Nintendo Switch 2 masih berada di bawah PS5? Berikut beberapa alasannya.

1. Tenaga GPU PS5 Jauh Lebih Besar

Salah satu faktor paling jelas adalah kemampuan komputasi GPU.

Nintendo Switch 2 menggunakan GPU NVIDIA berbasis arsitektur Ampere dengan performa sekitar 3,072 TFLOPS ketika konsol berada dalam mode docked. Sementara itu, PlayStation 5 menggunakan GPU AMD berbasis RDNA 2 dengan performa hingga sekitar 10,3 TFLOPS.

Angka TFLOPS memang tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya patokan untuk menentukan kualitas grafis. Arsitektur GPU NVIDIA Ampere dan AMD RDNA 2 berbeda, sehingga perbandingan angka tersebut tidak sepenuhnya apple-to-apple.

Meski begitu, perbedaan kemampuan komputasi tersebut tetap memberikan gambaran mengenai ruang performa yang tersedia pada masing-masing konsol.

PS5 memiliki lebih banyak tenaga untuk menjalankan berbagai pekerjaan grafis secara bersamaan. Misalnya resolusi tinggi, pencahayaan kompleks, bayangan, tekstur, kepadatan objek, efek visual, serta fitur rendering lainnya.

Sebaliknya, Switch 2 harus lebih selektif dalam menentukan fitur mana yang dapat dipertahankan ketika menjalankan game berat.

Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Nintendo Switch generasi pertama juga menghadapi situasi serupa ketika dibandingkan dengan PS4. Switch mampu menjalankan banyak game populer dengan optimasi khusus, tetapi hardware yang lebih terbatas membuat kualitas visualnya harus disesuaikan.

2. Desain Hybrid Membatasi Konsumsi Daya

Inilah salah satu alasan paling penting mengapa Switch 2 tidak bisa sekadar menggunakan hardware dengan performa setara PS5.

Nintendo Switch 2 merupakan konsol hybrid. Perangkat ini harus bisa digunakan dalam dua kondisi yang sangat berbeda, yaitu terhubung ke TV melalui dock dan digunakan secara langsung sebagai perangkat handheld.

Ketika docked, GPU Switch 2 dapat bekerja pada sekitar 3,072 TFLOPS. Namun, ketika digunakan dalam mode handheld, performanya turun menjadi sekitar 1,71 TFLOPS.

Penurunan tersebut berkaitan dengan kebutuhan perangkat untuk menghemat daya dan menjaga karakteristik penggunaan portabel.

Bayangkan jika Nintendo memasang hardware dengan konsumsi daya setara konsol rumahan. Ukuran baterai mungkin harus diperbesar, panas yang dihasilkan meningkat, sistem pendinginan menjadi lebih kompleks, dan perangkat bisa menjadi jauh lebih berat.

Hal tersebut tentu bertentangan dengan konsep Switch sebagai konsol yang bisa dibawa ke mana-mana.

PS5 tidak menghadapi kompromi tersebut. Konsol Sony selalu digunakan dalam kondisi terhubung ke sumber listrik dan memiliki sistem pendinginan yang dirancang untuk perangkat rumahan.

Dengan ruang daya dan pendinginan yang lebih besar, PS5 dapat mempertahankan performa GPU tinggi dalam waktu lama.

Jadi, keterbatasan grafis Switch 2 bukan hanya soal teknologi GPU, tetapi juga konsekuensi dari desain hybrid yang menjadi salah satu identitas utama konsol tersebut.

3. Resolusi Internal Switch 2 Bisa Lebih Rendah

Salah satu trik penting yang digunakan Nintendo Switch 2 untuk menghasilkan gambar lebih tajam adalah DLSS.

Teknologi NVIDIA tersebut memungkinkan game dirender pada resolusi internal yang lebih rendah sebelum gambar direkonstruksi menjadi resolusi output yang lebih tinggi.

Cara ini cukup efektif untuk mengurangi beban GPU.

Sebagai contoh, berdasarkan informasi dalam sumber, Cyberpunk 2077 pada Switch 2 dapat menggunakan resolusi internal sekitar 720p dalam mode docked, kemudian memanfaatkan DLSS untuk menghasilkan output 1080p.

Bagi pengguna, hasil akhirnya dapat terlihat jauh lebih tajam dibandingkan jika gambar 720p tersebut hanya diperbesar menggunakan metode scaling biasa.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. DLSS dapat membantu kualitas gambar, tetapi tidak secara ajaib menambah seluruh detail yang sejak awal tidak dirender.

Jika sebuah game harus mengurangi jumlah objek, kualitas pencahayaan, kepadatan NPC, detail bayangan, atau kualitas efek visual untuk menjaga performa, DLSS tidak bisa sepenuhnya menghilangkan perbedaan tersebut.

PS5 memiliki ruang performa lebih besar untuk merender gambar dengan resolusi internal yang lebih tinggi sebelum melakukan proses rekonstruksi atau teknik peningkatan gambar lainnya.

Karena itu, perbedaan kualitas dapat terlihat lebih jelas ketika game bergerak dan bukan hanya ketika pemain melihat satu screenshot.

Baca juga : 6 Game Metroidvania yang Bisa Tamat Kurang dari 10 Jam, Cocok untuk Petualangan Singkat

4. Pengaturan Grafis Harus Disesuaikan

Perbedaan kemampuan hardware pada akhirnya memaksa pengembang melakukan penyesuaian terhadap versi game Switch 2.

Analisis Digital Foundry terhadap Pragmata, misalnya, menemukan sejumlah pengurangan pada versi Switch 2 dibandingkan versi PS5. Beberapa aspek yang terdampak mencakup pencahayaan, bayangan, tekstur, ambient occlusion, serta rendering rambut.

Hal serupa juga terlihat pada Resident Evil Requiem.

Versi Switch 2 memiliki sejumlah kompromi visual, termasuk tidak menggunakan ray tracing seperti versi PS5. Detail tekstur model karakter juga lebih rendah, sementara resolusi internal pada mode docked dilaporkan berada di sekitar 540p sebelum diproses menggunakan DLSS.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas grafis sebuah game bukan hanya ditentukan oleh fitur yang tertulis di spesifikasi konsol.

Sebuah konsol bisa memiliki ray tracing, DLSS, dan teknologi rendering modern, tetapi pengembang tetap harus menentukan bagaimana fitur tersebut digunakan dalam game.

Jika semua fitur dinyalakan sekaligus pada kualitas maksimal, hardware mungkin tidak mampu mempertahankan frame rate yang diinginkan.

Karena itu, pengembang harus memilih. Beberapa game mungkin mempertahankan tekstur tetapi mengurangi kepadatan objek. Game lainnya bisa mengurangi kualitas bayangan atau pencahayaan demi mempertahankan frame rate.

5. DLSS Menjadi Senjata Switch 2 untuk Mengejar Ketertinggalan

Walaupun memiliki keterbatasan hardware, Switch 2 mempunyai satu keunggulan yang cukup membantu, yaitu dukungan DLSS.

Teknologi ini menjadi salah satu alasan mengapa konsol hybrid tersebut masih mampu menjalankan game berat dengan tampilan yang relatif mengesankan.

Cara kerjanya secara sederhana adalah game tidak harus merender seluruh gambar pada resolusi output akhir. GPU dapat bekerja pada resolusi yang lebih rendah, kemudian teknologi AI NVIDIA membantu merekonstruksi gambar agar terlihat lebih tajam.

Hasilnya, beban kerja GPU dapat dikurangi tanpa membuat gambar terlihat terlalu buram.

Pada beberapa game, perbedaan antara Switch 2 dan PS5 bahkan bisa terasa lebih kecil ketika pemain hanya melihat gambar diam.

Namun, ketika permainan mulai bergerak, perbedaan lain dapat terlihat. Contohnya adalah jumlah NPC yang muncul secara bersamaan, kepadatan kendaraan, detail objek di kejauhan, kualitas bayangan, pencahayaan, efek visual, hingga kestabilan frame rate.

Cyberpunk 2077 menjadi contoh menarik. Versi Switch 2 dapat menghasilkan kualitas tekstur yang cukup mendekati PS5 pada beberapa kondisi, tetapi kepadatan NPC dan kendaraan masih lebih dekat dengan kemampuan konsol generasi sebelumnya seperti PS4.

Artinya, DLSS memang membantu Switch 2 menghasilkan gambar yang terlihat bagus, tetapi teknologi tersebut bukan pengganti tenaga GPU yang lebih besar.

Switch 2 Bukan Konsol yang Dirancang untuk Mengalahkan PS5 dalam Grafis

Jika dilihat dari spesifikasinya, sebenarnya tidak adil jika Nintendo Switch 2 hanya dinilai berdasarkan kualitas grafis dibandingkan PS5.

Keduanya memiliki filosofi desain yang berbeda.

PS5 merupakan konsol rumahan yang dapat menggunakan daya listrik besar, memiliki sistem pendinginan aktif, dan tidak perlu membawa seluruh hardware dalam bentuk perangkat handheld.

Nintendo Switch 2 harus melakukan jauh lebih banyak kompromi karena satu perangkat harus bisa digunakan sebagai konsol TV sekaligus handheld.

Konsekuensinya terlihat pada performa GPU, resolusi internal, pengaturan grafis, serta frame rate dalam beberapa game berat.

Namun, Switch 2 memiliki keunggulan tersendiri. Konsol ini menawarkan fleksibilitas untuk memainkan game di TV maupun secara portable. Dukungan DLSS juga membantu pengembang menghadirkan game dengan visual yang lebih baik daripada yang mungkin dicapai jika hanya mengandalkan tenaga hardware mentah.

Jadi, kalau pertanyaannya adalah kenapa grafis Switch 2 masih kalah dari PS5, jawabannya bukan karena Nintendo gagal memasukkan teknologi modern.

Masalah utamanya adalah ruang performa hardware yang berbeda dan konsekuensi dari desain hybrid.

PS5 memiliki lebih banyak tenaga untuk mempertahankan resolusi, pencahayaan, bayangan, detail, dan efek grafis secara bersamaan. Sementara itu, Switch 2 menggunakan DLSS dan optimasi khusus untuk mendapatkan keseimbangan antara kualitas visual, konsumsi daya, ukuran perangkat, dan kemampuan handheld.

Pada akhirnya, Switch 2 tidak harus mengalahkan PS5 dalam kualitas grafis untuk menjadi menarik. Kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuan menghadirkan pengalaman konsol modern dalam perangkat yang dapat dibawa ke mana saja.


Posting Komentar