Harga RAM DDR5 Laptop Melonjak, Apakah Laptop Bakal Ikut Makin Mahal?
Harga RAM DDR5 Laptop Melonjak, Apakah Laptop Bakal Ikut Makin Mahal?
Harga komponen laptop sedang menghadapi tekanan yang cukup besar. Salah satu yang paling mencolok adalah RAM DDR5, terutama modul SO-DIMM yang digunakan pada berbagai laptop dengan memori yang masih bisa dilepas atau di-upgrade.
Dalam laporan yang dikutip dari Tom's Hardware pada 30 September 2026, produsen laptop asal Jerman, XMG, menyebut harga sejumlah DDR5 SO-DIMM di pasar Jerman telah meningkat hampir enam kali lipat dibandingkan level pada Juli 2025. Kenaikan sebesar itu tentu terdengar ekstrem.
Bayangkan saja, komponen yang sebelumnya dibeli dengan harga tertentu kini membutuhkan biaya beberapa kali lebih besar. Kalau kondisi tersebut benar-benar berlangsung dalam rantai pasokan, pertanyaannya kemudian sederhana: apakah laptop juga akan ikut menjadi jauh lebih mahal?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Kenaikan harga RAM memang dapat memberikan tekanan terhadap harga laptop. Namun, harga sebuah laptop ditentukan oleh banyak komponen lain. Bahkan, produsen bisa mengambil strategi berbeda untuk menghadapi kenaikan biaya produksi.
Harga DDR5 SO-DIMM Melonjak Tajam
DDR5 saat ini menjadi salah satu jenis memori yang banyak digunakan pada laptop generasi baru. Dibandingkan DDR4, DDR5 menawarkan sejumlah peningkatan dari sisi bandwidth dan efisiensi, sehingga semakin banyak perangkat modern yang menggunakannya.
Pada laptop yang menggunakan SO-DIMM, modul RAM biasanya berbentuk papan memori kecil yang dapat dipasang dan dilepas. Desain seperti ini memberikan keuntungan bagi pengguna karena kapasitas RAM dapat ditingkatkan ketika kebutuhan komputasi bertambah.
Masalahnya, ketika harga modul tersebut meningkat tajam, produsen laptop juga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menyediakan konfigurasi RAM tertentu.
XMG membandingkan harga beberapa DDR5 SO-DIMM yang tersedia di pasar Jerman dan menemukan kenaikan hampir enam kali lipat dibandingkan Juli 2025. Perusahaan juga mengatakan biaya pembelian yang mereka hadapi berada dalam kisaran kenaikan yang serupa.
Kondisi tersebut cukup penting karena RAM bukan aksesori tambahan yang bisa diabaikan. Komponen ini merupakan bagian utama dari sistem laptop. Setiap unit yang diproduksi membutuhkan memori dengan kapasitas tertentu, sehingga kenaikan harga RAM pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pembuatan perangkat.
Produsen Laptop Mulai Menaikkan Harga
Dampak kenaikan biaya komponen ternyata sudah mulai terlihat pada produk XMG dan SCHENKER.
Mulai 18 September 2026, perusahaan melakukan penyesuaian harga pada sejumlah laptop. Beberapa model mengalami kenaikan harga awal sekitar 100 hingga 150 euro. Jika menggunakan asumsi kurs Rp20.500 per euro, kenaikan tersebut setara dengan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta.
Namun, ada model tertentu yang mengalami penyesuaian lebih besar. SCHENKER KEY 18 Pro, misalnya, disebut mengalami kenaikan hingga 300 euro atau sekitar Rp6,15 juta.
Bagi calon pembeli laptop, angka tersebut tentu bukan perubahan kecil. Selisih beberapa juta rupiah dapat membuat konsumen harus mengubah pilihan konfigurasi atau bahkan mempertimbangkan kelas laptop yang berbeda.
Biaya upgrade komponen tertentu juga ikut mengalami perubahan. Pada konfigurasi dengan GPU NVIDIA GeForce RTX 5090 Laptop, misalnya, biaya upgrade disebut meningkat sekitar 120 euro atau kurang lebih Rp2,46 juta.
Meski demikian, menariknya, tidak semua laptop XMG dan SCHENKER mengalami kenaikan.
XMG NEO 16 (M26) disebut tetap mempertahankan harga awalnya meskipun biaya opsi RTX 5090 meningkat. Sementara itu, XMG APEX 17 (M25) dan XMG Fusion 16 (M25) justru mengalami penurunan harga sekitar 35 hingga 50 euro untuk konfigurasi tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komponen tidak otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan harga jual dengan persentase yang sama.
Baca juga : Kenapa China Menolak Seruan AS untuk Memperlambat Pengembangan AI?
Mengapa Tidak Semua Laptop Ikut Naik?
Ada alasan mengapa harga laptop tidak bisa dihitung hanya berdasarkan harga RAM.
Laptop merupakan gabungan dari puluhan bahkan ratusan komponen dan biaya pendukung. Selain RAM, produsen harus memperhitungkan CPU, GPU, SSD, layar, motherboard atau PCB, sistem pendingin, baterai, adaptor, casing, keyboard, hingga berbagai komponen elektronik kecil.
Belum selesai di situ.
Masih ada biaya perakitan, pengujian, penyimpanan, distribusi, pemasaran, garansi, dan berbagai biaya operasional lainnya.
Karena itu, ketika satu komponen mengalami kenaikan harga, produsen memiliki beberapa pilihan. Mereka bisa menaikkan harga jual, mengurangi margin keuntungan, mengubah konfigurasi, mencari pemasok alternatif, atau mempertahankan harga selama stok komponen lama masih tersedia.
Inilah salah satu alasan mengapa dua laptop dengan spesifikasi mirip bisa mengalami perubahan harga yang berbeda.
Produsen yang masih memiliki stok RAM dengan harga lama mungkin belum perlu menaikkan harga produknya. Sebaliknya, perusahaan yang harus membeli komponen baru dengan harga pasar yang lebih tinggi bisa lebih cepat melakukan penyesuaian.
SSD dan Komponen Lain Juga Mengalami Tekanan
Persoalan yang dihadapi industri laptop saat ini juga tidak berhenti pada RAM.
XMG menyebut sejumlah komponen lain ikut mengalami tekanan biaya. SSD, PCB, CPU, GPU, dan video memory termasuk bagian yang dapat memengaruhi biaya produksi.
Hal ini penting karena laptop modern semakin bergantung pada komponen berperforma tinggi.
Laptop gaming, misalnya, tidak hanya membutuhkan RAM besar. Perangkat tersebut juga menggunakan GPU dengan harga relatif tinggi, SSD berkapasitas besar, sistem pendingin yang lebih kompleks, serta layar dengan spesifikasi tinggi.
Jika beberapa komponen mengalami kenaikan harga secara bersamaan, produsen akan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya RAM yang naik.
Dengan kata lain, RAM DDR5 memang menjadi salah satu sumber masalah, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga laptop.
Biaya Logistik Ikut Menambah Beban
Komponen elektronik juga tidak muncul begitu saja di pabrik laptop. Sebagian besar melewati rantai pasokan internasional yang panjang.
Perubahan harga bahan bakar dapat meningkatkan biaya transportasi, terutama untuk pengiriman udara. Sementara itu, pengiriman laut juga dapat menghadapi tambahan biaya apabila rute perdagangan terganggu atau risiko perjalanan meningkat.
XMG menyinggung biaya pengiriman dari Asia menuju Eropa yang turut terdampak oleh kondisi di sekitar Laut Merah dan Terusan Suez. Biaya asuransi serta faktor geopolitik dapat membuat proses distribusi menjadi lebih mahal.
Bagi industri yang mengandalkan rantai pasokan global, kenaikan beberapa persen pada biaya logistik saja dapat memberikan dampak ketika dikalikan dengan ribuan atau bahkan jutaan unit perangkat.
Jadi, ketika konsumen melihat harga laptop meningkat, penyebabnya belum tentu hanya komponen yang ada di dalam laptop. Perjalanan komponen tersebut sebelum sampai ke tangan produsen juga memiliki biaya.
Mengapa RAM Bisa Menjadi Komponen yang Sensitif?
RAM merupakan komponen yang sangat bergantung pada industri semikonduktor dan kapasitas produksi perusahaan pembuat memori.
Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak cukup cepat mengimbanginya, harga dapat mengalami tekanan.
Kondisi tersebut menjadi semakin menarik karena memori tidak hanya dibutuhkan laptop. RAM juga digunakan pada server, PC, smartphone, perangkat AI, dan berbagai sistem komputasi lainnya.
Pertumbuhan kebutuhan komputasi berbasis AI dalam beberapa tahun terakhir turut membuat industri semikonduktor berlomba menyediakan kapasitas memori dengan karakteristik tertentu.
Artinya, produsen laptop harus berbagi ekosistem pasokan dengan banyak industri lain yang sama-sama membutuhkan memori.
Jika pasokan DRAM ketat, pembeli dari berbagai sektor dapat bersaing mendapatkan kapasitas produksi yang tersedia.
Apakah Kelangkaan RAM Akan Berlangsung Sampai 2027?
Prospek pasokan memori menjadi salah satu faktor yang paling menarik untuk diperhatikan.
XMG mengutip pandangan CEO Micron, Sanjay Mehrotra, yang memperkirakan kondisi pasokan DRAM masih akan ketat hingga 2027. XMG sendiri memperkirakan tekanan pada DRAM dan NAND dapat berlangsung sampai 2027 dan bahkan setelahnya.
Namun, proyeksi tersebut bukan berarti harga RAM pasti akan terus naik sepanjang periode tersebut.
Harga komponen sangat bergantung pada keseimbangan antara produksi dan permintaan. Jika produsen memori menambah kapasitas produksi secara signifikan, pasokan dapat meningkat dan tekanan harga berpotensi berkurang.
CEO Asus Jason Chen sebelumnya juga memperkirakan harga komponen dapat mulai berbalik turun pada paruh kedua 2027, salah satunya seiring bertambahnya kapasitas produksi dari produsen memori di China.
Artinya, ada kemungkinan harga mulai mendapatkan tekanan ke bawah ketika pasokan membaik. Namun, waktu dan besarnya perubahan tersebut masih bergantung pada kondisi industri.
Apakah Laptop Pasti Makin Mahal?
Nah, ini bagian yang paling penting.
Kenaikan harga DDR5 hampir enam kali lipat memang terdengar seperti pertanda laptop akan langsung menjadi jauh lebih mahal. Namun, kenyataannya tidak sesederhana mengalikan harga RAM dengan harga laptop.
RAM hanya salah satu komponen dalam sebuah laptop. Pengaruhnya terhadap harga akhir bergantung pada kapasitas RAM yang digunakan, jenis laptop, strategi produsen, stok komponen, serta kondisi harga komponen lainnya.
Contohnya, laptop dengan RAM 16 GB dan konfigurasi standar mungkin tidak mengalami dampak yang sama dengan workstation yang menggunakan RAM berkapasitas besar.
Produsen juga dapat mengubah konfigurasi produk. Sebuah laptop yang sebelumnya ditawarkan dengan RAM 32 GB bisa saja memiliki harga berbeda ketika menggunakan kapasitas lain. Begitu pula dengan opsi upgrade yang mungkin dibuat lebih mahal.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak langsung menganggap semua laptop akan mengalami kenaikan harga hingga beberapa kali lipat hanya karena RAM DDR5 sedang mahal.
Konsumen Perlu Lebih Cermat Memilih Waktu Membeli
Dalam kondisi harga komponen yang bergejolak, calon pembeli laptop sebaiknya tidak hanya melihat angka harga di toko.
Perhatikan juga konfigurasi yang ditawarkan.
Laptop dengan RAM yang dapat di-upgrade bisa menjadi menarik karena pengguna memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas di kemudian hari. Namun, jika harga modul RAM sedang tinggi, biaya upgrade tersebut juga perlu dimasukkan ke dalam perhitungan.
Sebaliknya, laptop dengan RAM soldered tidak menawarkan fleksibilitas upgrade yang sama, sehingga kapasitas RAM bawaan perlu dipertimbangkan sejak awal.
Selain RAM, perhatikan harga SSD, CPU, GPU, dan komponen lainnya. Jangan sampai membeli laptop hanya karena harga awalnya terlihat murah, tetapi kemudian membutuhkan upgrade mahal beberapa bulan kemudian.
RAM Mahal Belum Tentu Membuat Semua Laptop Mahal
Lonjakan harga DDR5 SO-DIMM memang menjadi perkembangan penting bagi industri laptop. XMG bahkan telah melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produknya sebagai salah satu respons terhadap meningkatnya biaya komponen.
Namun, kondisi tersebut belum berarti semua laptop di pasaran otomatis menjadi jauh lebih mahal.
Harga laptop merupakan hasil dari banyak faktor. RAM, SSD, CPU, GPU, layar, logistik, kurs mata uang, stok, kapasitas produksi, hingga strategi masing-masing produsen semuanya dapat memengaruhi harga akhir.
Yang perlu diperhatikan justru adalah durasi tekanan harga tersebut.
Jika pasokan DRAM dan NAND tetap ketat sampai 2027, produsen mungkin akan terus mencari cara untuk menyesuaikan biaya produksi. Sebaliknya, jika kapasitas produksi bertambah dan pasokan kembali longgar, tekanan harga bisa berkurang.
Jadi, kenaikan RAM DDR5 memang bisa membuat laptop lebih mahal, tetapi bukan berarti setiap laptop akan mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Untuk konsumen, perkembangan harga memori dan komponen utama lainnya menjadi sesuatu yang layak dipantau sebelum memutuskan membeli laptop baru.

Posting Komentar