5 Fitur Andalan Googlebook, Laptop Baru Buatan Google yang Terhubung dengan Android

Daftar Isi

 

5 Fitur Andalan Googlebook, Laptop Baru Buatan Google yang Terhubung dengan Android



Google resmi memperkenalkan Googlebook pada 21 September 2026 sebagai kategori laptop baru yang membawa pendekatan berbeda dibandingkan Chromebook pada umumnya. Perangkat ini dirancang dengan menggabungkan teknologi Android dan fondasi desktop dari ChromeOS, sekaligus menjadikan Gemini sebagai salah satu bagian penting dalam pengalaman pengguna.

Googlebook tidak hanya diposisikan sebagai laptop untuk bekerja, belajar, atau menikmati hiburan. Google juga ingin membuat perangkat ini terasa lebih terhubung dengan smartphone Android, sehingga berbagai aktivitas yang biasanya dilakukan di HP dapat diteruskan ke laptop.

Pada tahap awal, Googlebook mulai tersedia di Amerika Serikat pada 4 Oktober 2026. Setelah itu, perangkat akan menyusul ke Kanada, Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, dan Australia pada 5 Oktober.

Google juga memberikan langganan Google AI Pro selama 12 bulan untuk setiap perangkat Googlebook. Paket tersebut mencakup berbagai fitur Gemini sekaligus penyimpanan cloud sebesar 5 TB.

Menariknya, Google tidak membuat satu model Googlebook sendiri. Pada tahap awal, perusahaan menggandeng Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo untuk menghadirkan perangkat dengan desain dan spesifikasi yang berbeda.

Di balik kategori laptop baru tersebut, ada sejumlah fitur yang menjadi daya tarik utama. Berikut lima fitur andalan Googlebook yang ditawarkan Google.

1. Magic Pointer, Gemini Bisa Membantu Langsung dari Layar

Salah satu fitur yang paling menarik perhatian adalah Magic Pointer. Fitur ini membawa bantuan Gemini langsung ke bagian layar yang sedang digunakan pengguna.

Cara kerjanya cukup sederhana. Pengguna dapat menggerakkan kursor ke konten tertentu pada layar untuk memanggil Gemini dan meminta bantuan berdasarkan informasi yang sedang tampil.

Dengan pendekatan tersebut, pengguna tidak selalu perlu membuka aplikasi AI secara terpisah kemudian menjelaskan konteks dari awal. Gemini dapat digunakan berdasarkan konten yang sedang dilihat pengguna.

Misalnya, kamu sedang membaca sebuah email dan menemukan tanggal tertentu. Tanggal tersebut dapat digunakan sebagai konteks untuk meminta bantuan Gemini membuat jadwal di Google Calendar.

Magic Pointer juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Pengguna bisa memanfaatkannya untuk menganalisis email yang mencurigakan atau menggabungkan beberapa gambar menjadi sebuah visual baru.

Google juga menekankan bahwa Magic Pointer tidak berarti Gemini terus-menerus mengamati layar. Fitur tersebut bekerja ketika pengguna secara sengaja memanggilnya melalui gerakan kursor.

Konsep ini membuat bantuan AI terasa lebih kontekstual karena Gemini berada dekat dengan aktivitas yang sedang dikerjakan, bukan sekadar menjadi chatbot yang harus dibuka di jendela lain.

2. Rambler Mengubah Ucapan Acak Menjadi Catatan Terstruktur

Fitur berikutnya bernama Rambler. Sesuai konsepnya, Rambler dirancang untuk pengguna yang sering mempunyai ide secara spontan tetapi tidak selalu sempat menyusunnya menjadi tulisan yang rapi.

Pengguna cukup berbicara seperti biasa. Misalnya ketika sedang mendapatkan ide, mencatat hasil rapat, atau memikirkan daftar pekerjaan yang harus dilakukan.

Gemini kemudian membantu mengubah ucapan tersebut menjadi informasi yang lebih terstruktur.

Ucapan yang awalnya masih acak dapat diolah menjadi ringkasan, poin-poin penting, atau checklist tugas. Dengan demikian, pengguna tidak perlu menghentikan aktivitas hanya untuk merapikan catatan secara manual.

Fitur ini juga menarik karena mendukung percakapan multibahasa. Pengguna dapat berganti bahasa ketika berbicara, sehingga Rambler ditujukan untuk skenario penggunaan yang tidak selalu terpaku pada satu bahasa.

Bagi mahasiswa, pekerja, kreator, atau siapa saja yang sering mencatat ide secara cepat, konsep seperti ini dapat membuat proses mencatat terasa lebih natural.

Alih-alih memaksa pengguna berbicara dengan kalimat yang sudah rapi, sistem justru mencoba memahami ucapan spontan kemudian menyusunnya menjadi informasi yang lebih siap digunakan.

Baca juga : Komdigi Petakan Akses Internet Sampai Level Desa, Ini Ukuran dan Pembagian Zonanya

3. Create My Widget, Bikin Widget Desktop Tanpa Harus Bisa Coding

Googlebook juga membawa fitur bernama Create My Widget. Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan pengguna membuat widget desktop sendiri menggunakan bantuan Gemini.

Menariknya, pengguna tidak harus mempunyai kemampuan pemrograman untuk membuatnya.

Cukup jelaskan kebutuhan menggunakan bahasa sehari-hari, kemudian Gemini membantu membuat widget yang sesuai dengan permintaan tersebut.

Pengguna dapat membuat widget untuk berbagai kebutuhan. Misalnya menampilkan skor tim olahraga, membuat penghitung mundur untuk sebuah acara, atau menyajikan informasi tertentu secara langsung di desktop.

Setelah dibuat, widget tersebut dapat diatur ukuran dan posisinya pada desktop. Konsepnya dibuat mirip dengan fleksibilitas widget pada home screen Android.

Fitur ini menunjukkan bagaimana Googlebook mencoba membawa konsep personalisasi dari smartphone ke lingkungan laptop.

Jika sebelumnya pengguna biasanya harus mencari aplikasi tertentu untuk mendapatkan informasi kecil, widget semacam ini memungkinkan informasi tersebut ditempatkan langsung di area desktop.

4. Continue On Membuat Aktivitas HP Bisa Dilanjutkan di Laptop

Salah satu masalah yang sering dialami pengguna yang mempunyai HP dan laptop adalah aktivitas yang terputus ketika berpindah perangkat.

Misalnya sedang mengerjakan sesuatu di HP ketika berada di luar rumah, kemudian ketika sampai di depan laptop harus mencari kembali file atau aplikasi yang digunakan sebelumnya.

Googlebook mencoba mengatasi hal tersebut melalui fitur Continue On.

Fitur ini memungkinkan aktivitas yang dimulai pada smartphone Android untuk dilanjutkan langsung di Googlebook.

Contohnya, pengguna sedang membuat proyek musik menggunakan BandLab di HP ketika sedang berada di perjalanan. Setelah sampai di rumah, aktivitas tersebut dapat dilanjutkan melalui Googlebook menggunakan integrasi yang tersedia di taskbar.

Integrasi juga berlaku untuk file yang tersimpan di smartphone. Foto maupun dokumen dari HP dapat diakses melalui aplikasi Files di laptop.

Dengan begitu, perpindahan antara HP dan laptop tidak terasa seperti berpindah ke dua ekosistem yang benar-benar terpisah.

Fitur ini menjadi penting karena smartphone sekarang sering menjadi perangkat pertama untuk memulai berbagai aktivitas. Laptop kemudian digunakan ketika pekerjaan membutuhkan layar lebih besar, keyboard fisik, atau kemampuan multitasking yang lebih nyaman.

5. Cast My Apps Membawa Aplikasi Android ke Layar Laptop

Selain melanjutkan aktivitas, Googlebook juga mempunyai fitur Cast My Apps yang memungkinkan aplikasi Android dari HP ditampilkan dalam bentuk jendela di layar laptop.

Dengan fitur ini, pengguna dapat berinteraksi dengan aplikasi yang sebenarnya berjalan di HP tetapi tampil di layar Googlebook.

Fungsinya cukup menarik untuk aplikasi yang belum menyediakan versi desktop.

Misalnya, pengguna dapat mengakses aplikasi tertentu dari HP sambil tetap mengerjakan pekerjaan utama di laptop. Contoh lainnya adalah mengambil kode OTP dari aplikasi pesan atau menggunakan layanan pemesanan makanan melalui layar laptop.

Konsep tersebut membuat smartphone menjadi bagian dari pengalaman desktop, bukan sekadar perangkat yang berdiri sendiri.

Pengguna juga tidak perlu terus-menerus mengambil HP hanya untuk menyelesaikan aktivitas kecil ketika sedang fokus menggunakan laptop.

Spesifikasi Googlebook Juga Mendukung Fitur AI

Berbagai fitur tersebut tentu membutuhkan perangkat keras yang cukup mumpuni. Karena Googlebook hadir melalui beberapa produsen, spesifikasi masing-masing model dapat berbeda.

Namun, Google menyebut sejumlah perangkat Googlebook akan menawarkan layar sentuh OLED hingga resolusi 2,8K. Beberapa model juga dilengkapi haptic trackpad dan keyboard dengan backlit.

Untuk pemrosesan, tersedia pilihan prosesor dari Intel maupun Qualcomm. Perangkat tertentu juga dibekali Neural Processing Unit atau NPU dengan kemampuan lebih dari 45 TOPS untuk mendukung pemrosesan AI secara lokal.

Keberadaan NPU menjadi semakin relevan karena Googlebook memang dibangun dengan banyak fitur berbasis Gemini dan AI.

Dengan pemrosesan AI lokal, sebagian tugas dapat ditangani langsung oleh perangkat tanpa selalu bergantung sepenuhnya pada pemrosesan di cloud. Namun, kemampuan sebenarnya tetap bergantung pada model laptop, software, dan jenis fitur yang digunakan.

Harga Googlebook Mulai Rp16 Jutaan

Googlebook dibanderol mulai dari 899 dolar AS. Jika dikonversikan secara kasar, harganya berada di kisaran Rp16 jutaan, meskipun harga di setiap negara dapat berbeda setelah memperhitungkan pajak, distribusi, dan faktor lainnya.

Setiap perangkat juga mendapatkan langganan Google AI Pro selama 12 bulan. Paket tersebut mencakup berbagai fitur Gemini serta penyimpanan cloud sebesar 5 TB.

Untuk tahap awal, Google menggandeng Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo. Masing-masing produsen dapat menghadirkan Googlebook dengan desain maupun spesifikasi yang berbeda.

Sementara itu, belum ada informasi mengenai ketersediaan Googlebook di Indonesia, termasuk harga resminya apabila nantinya dipasarkan di Tanah Air.

Googlebook Bukan Sekadar Laptop dengan AI

Jika melihat fitur-fiturnya, Googlebook tampaknya tidak hanya mengandalkan embel-embel AI sebagai daya tarik.

Google mencoba membangun pengalaman yang menghubungkan laptop dengan smartphone Android secara lebih erat. Magic Pointer dan Rambler berfokus pada interaksi dengan Gemini, sementara Create My Widget memberikan ruang personalisasi.

Di sisi lain, Continue On dan Cast My Apps mencoba mengurangi batas antara aktivitas di HP dan laptop.

Pendekatan tersebut membuat Googlebook menarik bukan hanya karena kemampuan AI-nya, tetapi juga karena konsep ekosistem yang dibawanya.

Apabila integrasi antara Android, ChromeOS, Gemini, dan perangkat keras berjalan sesuai yang dirancang Google, laptop tidak lagi hanya menjadi perangkat untuk menjalankan aplikasi. Laptop juga dapat berperan sebagai pusat aktivitas yang terhubung dengan perangkat pengguna lainnya.

Meski begitu, pengalaman akhirnya tetap akan bergantung pada model Googlebook yang dipilih, dukungan aplikasi, kemampuan perangkat keras, serta bagaimana fitur-fitur AI tersebut bekerja dalam penggunaan sehari-hari.

Untuk saat ini, Googlebook masih menjadi kategori laptop baru yang perlu dilihat lebih jauh setelah tersedia secara luas. Yang jelas, Google sedang mencoba membuat laptop terasa lebih pintar, lebih personal, dan lebih terhubung dengan HP Android.

Posting Komentar