Microsoft Kembangkan Fitur Internet Speed Test Windows 11 Hanya dalam Sehari dengan Bantuan Agentic AI
Microsoft Kembangkan Fitur Internet Speed Test Windows 11 Hanya dalam Sehari dengan Bantuan Agentic AI
Microsoft kembali menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara pengembangan perangkat lunak dilakukan. Kali ini, perusahaan tersebut mengungkap proses pembuatan fitur pengujian kecepatan internet atau internet speed test di Windows 11 yang ternyata berawal dari sebuah prototipe sederhana. Menariknya, prototipe tersebut berhasil dibuat hanya dalam waktu satu hari dengan bantuan teknologi AI.
Informasi ini disampaikan oleh Marcus Ash, eksekutif desain dan riset Microsoft untuk divisi Windows + Devices. Ia menjelaskan bahwa pengembangan awal fitur tersebut dilakukan oleh satu orang dengan memanfaatkan alur kerja berbasis agentic AI. Pendekatan ini memungkinkan ide yang awalnya hanya berupa masukan pengguna diterjemahkan menjadi prototipe yang dapat digunakan dalam waktu relatif singkat.
Fitur internet speed test ini menjadi bagian dari pengembangan Windows 11 26H2. Kehadirannya ditujukan untuk memberikan cara yang lebih praktis bagi pengguna dalam memeriksa kualitas koneksi internet tanpa harus selalu membuka situs pengujian melalui browser.
Namun, ada hal menarik di balik proses pengembangannya. Microsoft bukan hanya mencoba menghadirkan fitur baru, tetapi juga memperlihatkan bagaimana AI dapat membantu mempercepat proses desain dan pembuatan aplikasi native Windows. Lantas, bagaimana fitur ini dikembangkan dan apa peran AI di dalamnya?
Berawal dari Permintaan Pengguna Windows 11
Pengembangan fitur internet speed test bawaan Windows 11 tidak muncul begitu saja. Ide tersebut berawal dari masukan pengguna yang menginginkan cara lebih sederhana untuk memeriksa kecepatan koneksi internet langsung dari sistem operasi.
Selama ini, pengguna Windows biasanya mengandalkan layanan pihak ketiga untuk melakukan pengujian kecepatan internet. Salah satu cara paling umum adalah membuka situs pengujian melalui browser, kemudian menjalankan tes untuk mengetahui kecepatan unduh, kecepatan unggah, dan latensi koneksi.
Cara tersebut memang tidak terlalu rumit. Namun, pengguna tetap harus berpindah dari aktivitas yang sedang dilakukan, membuka browser, mengakses layanan pengujian, lalu menunggu proses pemeriksaan selesai.
Microsoft melihat adanya peluang untuk menyederhanakan pengalaman tersebut. Dengan menghadirkan fitur pengujian internet langsung di Windows 11, pengguna bisa memeriksa koneksi melalui antarmuka sistem operasi tanpa harus mencari layanan pengujian secara manual.
Pavan Davuluri kemudian meminta tim desain Microsoft untuk mengeksplorasi ide tersebut. Permintaan ini menjadi titik awal pengembangan prototipe fitur internet speed test yang kemudian menarik perhatian karena proses pengerjaan awalnya berlangsung sangat cepat.
Alih-alih memulai proyek pengembangan yang panjang sejak tahap pertama, tim Microsoft mencoba menerjemahkan kebutuhan pengguna menjadi prototipe terlebih dahulu. Hasilnya, sebuah konsep fitur yang bisa digunakan berhasil dibuat dalam waktu hanya satu hari.
Prototipe Berhasil Dibuat dalam Waktu Satu Hari
Salah satu bagian paling menarik dari cerita ini adalah kecepatan pembuatan prototipe. Menurut penjelasan Marcus Ash, Diego Bacca, Vice President of Design Microsoft, berhasil membuat prototipe fitur internet speed test tersebut hanya dalam waktu satu hari.
Bahkan, pengerjaan awalnya disebut dilakukan seseorang dalam waktu luang. Hal ini menunjukkan bahwa proses eksplorasi ide tidak selalu membutuhkan proyek besar dengan banyak tahapan sejak awal.
Dalam pengembangan perangkat lunak tradisional, pembuatan fitur baru biasanya melibatkan beberapa tahapan. Tim perlu memahami kebutuhan pengguna, menyusun konsep antarmuka, menentukan alur interaksi, membuat rancangan teknis, kemudian mengimplementasikannya ke dalam kode.
Setelah itu, prototipe biasanya diuji untuk memastikan fungsi dasarnya berjalan sesuai tujuan. Proses tersebut dapat membutuhkan waktu cukup panjang, terutama jika ide awal masih perlu banyak penyesuaian.
Dengan bantuan AI, sebagian proses eksplorasi dan pembuatan prototipe dapat berlangsung lebih cepat. Pengembang dapat memberikan instruksi mengenai fitur yang ingin dibuat, meminta bantuan untuk menghasilkan kode, serta melakukan perubahan berdasarkan hasil yang muncul.
Dalam kasus Microsoft, pendekatan ini memungkinkan tim mengubah permintaan pengguna menjadi gambaran fitur yang lebih konkret dalam waktu singkat.
Meski demikian, keberhasilan membuat prototipe dalam satu hari bukan berarti seluruh fitur internet speed test Windows 11 selesai dikembangkan pada hari yang sama. Prototipe merupakan tahap awal untuk menunjukkan bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan dan digunakan.
Baca juga : Apa yang Harus Dilakukan Saat Jadi Korban Penyadapan HP? Ini 4 Langkah Mengamankannya
Menggunakan Agentic AI dalam Proses Pengembangan
Hal lain yang membuat pengembangan fitur ini menarik adalah penggunaan alur kerja berbasis agentic AI. Berbeda dari penggunaan AI yang hanya berfungsi menjawab pertanyaan atau menghasilkan potongan kode berdasarkan perintah sederhana, pendekatan agentic AI memungkinkan sistem membantu menjalankan serangkaian tugas untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam konteks pengembangan perangkat lunak, AI dapat membantu memahami instruksi, menyusun langkah pengerjaan, menghasilkan kode, serta mendukung proses perbaikan berdasarkan hasil yang diperoleh.
Marcus Ash menjelaskan bahwa proses desain dan pengembangan prototipe tersebut dipandu oleh satu orang dengan bantuan AI. Artinya, AI berperan sebagai pendukung pekerjaan, sementara manusia tetap mengarahkan tujuan dan menentukan keputusan yang diperlukan.
Pendekatan seperti ini berpotensi mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengubah ide menjadi produk awal. Pengembang tidak harus selalu menulis setiap bagian kode secara manual sejak awal karena AI dapat membantu menangani sejumlah pekerjaan teknis.
Namun, penggunaan agentic AI bukan berarti pengembang tidak lagi dibutuhkan. Justru, manusia tetap memiliki peran penting untuk memastikan hasil yang dibuat sesuai kebutuhan, memperbaiki kesalahan, dan menilai apakah solusi tersebut benar-benar berguna.
AI dapat menghasilkan kode dengan cepat, tetapi kode yang berhasil dibuat belum tentu langsung aman, efisien, atau siap digunakan oleh jutaan pengguna. Karena itu, pengawasan dan pengujian tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan.
WinUI 3 dan Peluang Pengembangan Aplikasi Native Windows
Dalam pengembangan fitur ini, Microsoft juga menyoroti potensi penggunaan AI ketika dikombinasikan dengan teknologi seperti WinUI 3.
WinUI 3 merupakan kerangka antarmuka pengguna atau UI framework untuk membangun aplikasi Windows modern. Teknologi ini memungkinkan pengembang membuat tampilan aplikasi yang mengikuti pendekatan desain Windows masa kini.
Dengan WinUI 3, pengembang dapat membangun antarmuka yang lebih konsisten dengan elemen visual Windows 11. Hal ini penting karena aplikasi bawaan sistem operasi seharusnya tidak terasa seperti layanan eksternal yang sekadar ditempelkan ke dalam Windows.
Kombinasi AI dan teknologi pengembangan native seperti WinUI 3 membuka peluang baru. Pengembang dapat menggunakan AI untuk mempercepat proses pembuatan kode dan eksplorasi desain, kemudian memanfaatkan kerangka kerja Windows untuk membangun pengalaman aplikasi yang lebih terintegrasi.
Dalam kasus internet speed test, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat halaman pengujian yang dapat dibuka dari Windows. Microsoft ingin menghadirkan pengalaman yang terasa sebagai bagian dari sistem operasi.
Dengan demikian, fitur tersebut dapat diakses melalui elemen antarmuka Windows 11 dan tidak harus bergantung sepenuhnya pada browser seperti pengalaman sebelumnya.
Sempat Mengandalkan Bing dan Integrasi Ookla
Sebelum mengembangkan pengalaman yang lebih terintegrasi, Microsoft sebenarnya sudah melakukan eksperimen menghadirkan fitur pengujian kecepatan internet di Windows 11.
Pada April 2026, Microsoft mulai menguji fitur internet speed test melalui integrasi dengan Ookla, layanan yang dikenal luas melalui Speedtest. Namun, implementasi awal tersebut belum sepenuhnya menjadi aplikasi native Windows.
Pengalaman pengujiannya masih menggunakan Bing sebagai perantara. Dengan kata lain, ketika pengguna mengakses fitur tersebut, mereka pada dasarnya diarahkan ke layanan pengujian berbasis web melalui browser Microsoft Edge.
Meskipun tetap dapat digunakan untuk memeriksa koneksi internet, pendekatan tersebut belum sepenuhnya menjawab harapan pengguna yang menginginkan fitur bawaan Windows.
Pengguna masih harus berhadapan dengan pengalaman yang menyerupai membuka halaman web, bukan menjalankan fitur yang benar-benar menyatu dengan sistem operasi.
Masukan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Microsoft mengeksplorasi pendekatan baru. Perusahaan mengembangkan ulang pengalaman pengujian agar lebih konsisten dengan desain dan mekanisme interaksi Windows 11.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa pengembangan fitur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana pengguna mengakses dan memanfaatkan fitur tersebut.
Kini Dapat Diakses Melalui Quick Settings Windows 11
Dalam pengembangan Windows 11 26H2, fitur internet speed test mulai diarahkan menjadi pengalaman yang lebih terintegrasi dengan sistem operasi.
Salah satu perubahan utamanya adalah akses melalui Quick Settings. Panel ini merupakan bagian dari Windows 11 yang dapat digunakan untuk mengakses sejumlah pengaturan cepat, seperti Wi-Fi, Bluetooth, mode pesawat, dan kontrol lainnya.
Dengan menempatkan fitur pengujian internet di area tersebut, Microsoft ingin membuat proses pemeriksaan koneksi menjadi lebih praktis.
Pengguna tidak perlu lagi mencari situs pengujian melalui browser hanya untuk mengetahui kondisi jaringan. Fitur dapat dijangkau melalui antarmuka yang sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari ketika menggunakan Windows.
Integrasi seperti ini juga membuat pengalaman pengguna terasa lebih konsisten. Tampilan dan interaksinya dapat mengikuti karakter desain Windows 11, sehingga tidak terlihat seperti halaman web yang dibuka dari dalam sistem operasi.
Meski begitu, keberadaan fitur bawaan tidak otomatis membuat layanan pengujian pihak ketiga menjadi tidak diperlukan. Pengguna yang membutuhkan informasi lebih lengkap atau ingin membandingkan hasil pengujian tetap dapat menggunakan layanan eksternal.
Fitur bawaan lebih tepat dipandang sebagai alternatif praktis untuk pemeriksaan koneksi sehari-hari.
AI Tidak Berarti Seluruh Pengembangan Selesai dalam Sehari
Keberhasilan membuat prototipe dalam satu hari memang menarik, tetapi ada satu hal yang perlu dipahami: waktu pembuatan prototipe tidak sama dengan waktu penyelesaian sebuah fitur hingga siap digunakan secara luas.
Setelah prototipe berhasil dibuat, masih ada pekerjaan lanjutan yang harus dilakukan. Dalam kasus ini, tim konektivitas Microsoft bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk mengintegrasikan fitur tersebut ke Windows.
Proses integrasi diperlukan agar fitur dapat berfungsi sesuai kebutuhan sistem operasi. Selain itu, pengujian juga dibutuhkan untuk memastikan pengalaman pengguna berjalan baik dalam berbagai kondisi perangkat dan jaringan.
Microsoft juga perlu memperhatikan aspek stabilitas, kompatibilitas, keamanan, serta konsistensi antarmuka. Fitur yang terlihat sederhana bagi pengguna bisa saja melibatkan sejumlah pekerjaan teknis di belakang layar.
Di sinilah peran AI perlu dipahami secara tepat. Teknologi tersebut dapat mempercepat proses eksplorasi, pembuatan prototipe, dan penulisan kode, tetapi tidak otomatis menggantikan seluruh tahapan rekayasa perangkat lunak.
Pengembang tetap perlu memeriksa hasil kerja AI, menguji fungsi, memperbaiki masalah, dan memastikan fitur memenuhi standar kualitas sebelum didistribusikan.
Dengan kata lain, AI membantu memperpendek jarak antara ide dan prototipe, bukan menghilangkan kebutuhan terhadap proses pengembangan yang matang.
Kesimpulan
Pengembangan fitur internet speed test Windows 11 memperlihatkan bagaimana Microsoft mulai memanfaatkan agentic AI untuk mempercepat proses pembuatan fitur sistem operasi. Prototipe yang dibuat Diego Bacca hanya dalam satu hari menjadi contoh bagaimana ide sederhana dari masukan pengguna dapat diterjemahkan menjadi konsep yang bisa digunakan dengan bantuan AI.
Perjalanan fitur ini juga menunjukkan perubahan pendekatan Microsoft. Setelah sebelumnya mengandalkan integrasi Ookla melalui Bing dan Microsoft Edge, perusahaan kini mengembangkan pengalaman yang lebih menyatu dengan Windows 11 melalui Quick Settings.
Meski demikian, proses pembuatan prototipe yang cepat tidak berarti seluruh pengembangan selesai dalam sehari. Integrasi, pengujian, dan kerja sama dengan tim terkait tetap dibutuhkan agar fitur benar-benar siap digunakan.
Pada akhirnya, hal paling menarik bukan sekadar kecepatan AI menghasilkan kode, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pengembang menghadirkan solusi yang lebih dekat dengan kebutuhan pengguna. Jika pendekatan ini terus berkembang, bukan tidak mungkin proses pembuatan berbagai fitur Windows di masa mendatang akan menjadi semakin cepat dan efisien.

Posting Komentar