Mengenal ChatHPT, Asisten AI Buatan Muhammadiyah untuk Mencari Informasi Keislaman

Daftar Isi

 

Mengenal ChatHPT, Asisten AI Buatan Muhammadiyah untuk Mencari Informasi Keislaman



Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin merambah berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan keagamaan. Jika selama ini masyarakat lebih mengenal ChatGPT, Gemini, atau Claude sebagai asisten AI untuk mencari informasi, kini hadir alternatif yang memiliki fokus lebih spesifik, yaitu ChatHPT.

ChatHPT merupakan chatbot berbasis AI yang dikembangkan oleh Muhammadiyah untuk membantu masyarakat mengakses informasi keislaman. Berbeda dari chatbot umum yang dapat membahas berbagai topik, platform ini dirancang secara khusus untuk menjawab pertanyaan seputar putusan, fatwa, dan penjelasan keagamaan dari Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Kehadiran ChatHPT menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mempermudah masyarakat mempelajari agama. Pengguna tidak harus membuka dan membaca dokumen keagamaan yang jumlahnya mencapai ribuan halaman. Mereka cukup mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari, kemudian chatbot akan membantu menemukan informasi yang relevan.

ChatHPT resmi diperkenalkan dalam acara Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Lantas, apa sebenarnya ChatHPT, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana masyarakat bisa menggunakannya? Berikut pembahasannya.

1. Apa Itu ChatHPT Buatan Muhammadiyah?

ChatHPT merupakan singkatan dari Himpunan Putusan Tarjih. Platform ini adalah chatbot atau asisten AI yang dirancang untuk mempermudah masyarakat mencari informasi dari dokumen resmi keagamaan Muhammadiyah, terutama yang berkaitan dengan putusan, fatwa, dan penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid.

Secara sederhana, ChatHPT dapat dipahami sebagai perpustakaan digital keagamaan yang dilengkapi kemampuan percakapan berbasis AI. Pengguna bisa mengajukan pertanyaan mengenai suatu persoalan Islam tanpa harus mengetahui terlebih dahulu judul dokumen atau bagian tertentu yang perlu dibaca.

Misalnya, seseorang ingin mencari informasi mengenai tata cara salat atau persoalan fikih tertentu. Daripada membuka banyak dokumen dan menelusuri halaman demi halaman, pengguna bisa langsung mengetik pertanyaan melalui chatbot.

Platform kemudian membantu menemukan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut berdasarkan sumber pengetahuan yang telah disiapkan.

Pengembangan ChatHPT melibatkan beberapa unsur di lingkungan Muhammadiyah, yaitu Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, serta LabMu.

Berdasarkan informasi dalam Panduan Lengkap ChatHPT edisi November 2026 yang ditulis Ismail Fahmi, pengembangan platform ini telah dimulai melalui tahap uji coba sejak Agustus 2026.

Penggunaannya pun menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat. Hingga 2 November 2026, ChatHPT tercatat telah menerima 13.840 pertanyaan. Topik salat menjadi salah satu pembahasan yang paling banyak ditanyakan, dengan jumlah 2.671 pertanyaan atau sekitar 19,3 persen dari keseluruhan pertanyaan.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat mulai memanfaatkan teknologi percakapan untuk mencari informasi keagamaan secara lebih praktis.

2. Memiliki Basis Data Ribuan Dokumen Keagamaan

Salah satu hal yang membuat ChatHPT menarik adalah basis pengetahuan yang digunakan untuk menyusun jawaban. Chatbot ini tidak hanya mengandalkan kemampuan AI dalam menghasilkan kalimat, tetapi juga memanfaatkan kumpulan dokumen dan informasi keagamaan yang telah dihimpun.

Berdasarkan data pengembangannya, basis pengetahuan ChatHPT mencakup 1.153 naskah putusan, fatwa, dan tanya jawab agama. Selain itu, terdapat 2.742 konsep fikih dan usul fikih serta 3.855 entitas yang mencakup tokoh, perawi, kitab, dan lembaga.

Kumpulan data tersebut menjadi fondasi bagi chatbot untuk membantu pengguna menemukan informasi yang sesuai dengan pertanyaan mereka.

Keberadaan basis data khusus juga penting karena informasi keagamaan membutuhkan rujukan yang jelas. Jawaban mengenai persoalan fikih, misalnya, tidak cukup hanya terdengar masuk akal. Pengguna perlu mengetahui dasar pembahasan dan sumber yang digunakan.

Dengan menghimpun dokumen resmi Muhammadiyah, ChatHPT diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat terhadap pengetahuan yang sebelumnya tersebar dalam berbagai publikasi.

Pengguna juga tidak harus memiliki kemampuan khusus untuk mencari dokumen digital. Interaksi menggunakan bahasa sehari-hari membuat proses pencarian informasi terasa lebih sederhana, terutama bagi orang yang belum terbiasa membaca literatur keagamaan dalam jumlah besar.

Baca juga : Cara Langganan iQIYI Telkomsel, Kenali Perbedaan Paket Basic, Standar, dan Premium

3. Menggunakan Teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG)

ChatHPT dikembangkan dengan pendekatan Retrieval-Augmented Generation atau RAG. Teknologi ini memungkinkan sistem AI mencari informasi dari sumber pengetahuan tertentu sebelum menyusun jawaban untuk pengguna.

Secara umum, RAG bekerja melalui dua proses utama, yaitu mengambil informasi yang relevan dan menghasilkan jawaban berdasarkan informasi yang ditemukan.

Ketika pengguna mengajukan pertanyaan, sistem akan menelusuri basis data untuk menemukan dokumen atau bagian informasi yang berkaitan dengan topik tersebut. Informasi yang ditemukan kemudian digunakan sebagai konteks bagi model AI untuk menyusun jawaban dalam bentuk percakapan yang lebih mudah dipahami.

Pendekatan ini berbeda dari chatbot yang hanya mengandalkan pengetahuan umum model AI. Dengan RAG, jawaban dapat diarahkan agar lebih relevan dengan kumpulan dokumen yang menjadi sumber rujukan platform.

Dalam konteks ChatHPT, teknologi tersebut membantu menghubungkan pertanyaan masyarakat dengan dokumen putusan, fatwa, serta penjelasan keagamaan Muhammadiyah.

Meski begitu, penggunaan RAG bukan berarti sistem selalu menghasilkan jawaban yang sempurna. Kualitas jawaban tetap dipengaruhi oleh kelengkapan dokumen, relevansi informasi yang ditemukan, dan kemampuan sistem dalam memahami pertanyaan pengguna.

Karena itu, pengguna tetap perlu bersikap kritis ketika menerima informasi, khususnya jika pertanyaan menyangkut persoalan agama yang memiliki banyak aspek atau membutuhkan penjelasan mendalam.

4. Tiga Fungsi Utama ChatHPT

ChatHPT tidak hanya dikembangkan sebagai chatbot untuk menjawab pertanyaan. Platform ini memiliki tiga fungsi utama, yaitu mesin tanya jawab keagamaan, perpustakaan digital, dan pendamping belajar.

Pertama, sebagai mesin tanya jawab keagamaan.

Fungsi ini memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persoalan Islam menggunakan bahasa sehari-hari. Pengguna tidak harus mencari dokumen tertentu terlebih dahulu karena sistem akan membantu menemukan informasi yang relevan dari basis pengetahuannya.

Topik yang dapat ditanyakan berkaitan dengan putusan, fatwa, dan penjelasan keagamaan yang tersedia dalam sumber Muhammadiyah.

Kedua, sebagai perpustakaan digital.

ChatHPT juga berfungsi mempermudah akses terhadap kumpulan dokumen keagamaan. Jika biasanya seseorang perlu membuka banyak berkas untuk menemukan pembahasan tertentu, chatbot dapat membantu mempercepat proses pencarian.

Fungsi ini cukup bermanfaat bagi mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari pemikiran keagamaan Muhammadiyah.

Alih-alih membaca seluruh dokumen dari awal, pengguna dapat memulai pencarian dengan pertanyaan spesifik. Setelah memperoleh gambaran awal, mereka bisa melanjutkan dengan mempelajari sumber yang relevan secara lebih mendalam.

Ketiga, sebagai pendamping belajar.

ChatHPT dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu ketika seseorang mempelajari persoalan fikih dan pengetahuan keislaman lainnya.

Pengguna bisa mengajukan pertanyaan lanjutan untuk memahami suatu topik secara bertahap. Model percakapan seperti ini membuat proses belajar terasa lebih interaktif dibandingkan hanya membaca dokumen secara pasif.

Meski demikian, fungsi pendamping belajar tidak berarti ChatHPT dapat menggantikan guru, ulama, atau proses pembelajaran langsung. Platform ini lebih tepat digunakan sebagai sarana pendukung untuk memperoleh informasi dan memperluas pemahaman.

5. ChatHPT Bukan Pemegang Otoritas Fatwa

Meskipun mampu menjawab pertanyaan keagamaan, ada batas penting yang perlu dipahami pengguna. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa ChatHPT bukan pemegang otoritas dan tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan fatwa.

Kewenangan tersebut tetap berada pada Majelis Tarjih dan forum Musyawarah Nasional Tarjih.

Artinya, jawaban yang diberikan chatbot tidak boleh langsung dianggap sebagai keputusan resmi atau fatwa baru. ChatHPT berfungsi membantu masyarakat mengakses dan memahami informasi yang sudah tersedia dalam sumber pengetahuan Muhammadiyah.

Batasan ini penting karena persoalan agama tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan satu jawaban singkat. Ada pertanyaan yang membutuhkan pemahaman mengenai kondisi pribadi, latar belakang masalah, serta berbagai pertimbangan lain.

Misalnya, persoalan keagamaan yang berkaitan dengan situasi keluarga, kondisi tertentu, atau kasus pribadi yang kompleks mungkin membutuhkan dialog langsung dengan pihak yang memiliki kompetensi.

Untuk pertanyaan semacam itu, pengguna tetap disarankan berkonsultasi dengan Majelis Tarjih atau ulama yang berwenang.

Dengan kata lain, AI dapat membantu mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak otomatis menggantikan proses penetapan hukum maupun konsultasi keagamaan.

6. Cara Mengakses dan Menggunakan ChatHPT

Kabar baiknya, ChatHPT dapat digunakan oleh masyarakat umum dan tidak terbatas hanya untuk anggota Muhammadiyah. Pengguna cukup memiliki koneksi internet dan membuat akun melalui situs resminya.

Berikut langkah-langkah untuk mengakses ChatHPT:

  1. Buka browser di smartphone atau komputer, kemudian kunjungi situs resmi https://hpt.muhammadiyah.or.id/.
  2. Setelah halaman utama terbuka, klik tombol Masuk yang berada di bagian kanan atas.
  3. Pilih metode masuk atau pendaftaran yang tersedia, seperti menggunakan email, Apple, atau passkey.
  4. Jika belum memiliki akun, ikuti proses pendaftaran sesuai metode yang dipilih.
  5. Pengguna baru akan diminta memasukkan nomor WhatsApp untuk proses verifikasi.
  6. Tunggu hingga kode verifikasi enam digit dikirimkan melalui WhatsApp.
  7. Masukkan kode tersebut pada kolom yang tersedia untuk menyelesaikan proses pendaftaran.
  8. Setelah akun berhasil dibuat, pengguna akan diarahkan menuju halaman chatbot.
  9. Ketik pertanyaan mengenai topik keagamaan yang ingin diketahui, kemudian tunggu sistem menyusun jawabannya.

Setelah berhasil masuk, pengguna dapat mulai mengajukan pertanyaan sesuai kebutuhan. Agar hasil pencarian lebih relevan, sebaiknya gunakan pertanyaan yang jelas dan spesifik.

Contohnya, daripada hanya mengetik pertanyaan umum seperti "Apa itu salat?", pengguna bisa mengajukan pertanyaan yang lebih terarah mengenai tata cara atau persoalan tertentu.

Jika jawaban yang diberikan masih belum cukup jelas, pengguna dapat melanjutkan percakapan dengan pertanyaan tambahan.

7. ChatHPT Menjadi Contoh Pemanfaatan AI di Bidang Keagamaan

Kehadiran ChatHPT memperlihatkan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk membantu masyarakat mengakses literatur keagamaan.

Selama ini, salah satu tantangan dalam mempelajari agama adalah menemukan sumber informasi yang tepat di antara banyaknya dokumen dan publikasi. Dengan pendekatan chatbot, proses pencarian dapat dilakukan melalui percakapan yang lebih sederhana.

Bagi Muhammadiyah, pengembangan ChatHPT juga menjadi langkah untuk memperluas akses terhadap hasil pemikiran dan dokumen resmi Majelis Tarjih dan Tajdid.

Namun, pemanfaatannya tetap perlu disertai pemahaman mengenai batas kemampuan AI. Chatbot dapat membantu menemukan informasi, menjelaskan materi, dan mendampingi proses belajar. Akan tetapi, keputusan keagamaan yang membutuhkan otoritas tetap harus merujuk kepada lembaga atau ulama yang berwenang.

Pada akhirnya, ChatHPT bukan sekadar chatbot baru yang hadir untuk bersaing dengan asisten AI populer. Platform ini menawarkan pendekatan yang lebih spesifik, yakni menggabungkan teknologi RAG dengan basis pengetahuan keagamaan Muhammadiyah.

Bagi masyarakat yang ingin mempelajari putusan, fatwa, dan penjelasan keagamaan Muhammadiyah, ChatHPT bisa menjadi sarana tambahan yang praktis. Pengguna dapat mengaksesnya melalui situs resmi tanpa harus menjadi anggota organisasi terlebih dahulu. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi AI dapat membantu membuat pengetahuan keagamaan lebih mudah dijangkau tanpa mengesampingkan peran manusia dan otoritas keilmuan.

Posting Komentar