Kenapa Banyak Biker Menonaktifkan Rem CBS pada Motor Mereka? Ternyata Ini Alasannya

Daftar Isi

 

Kenapa Banyak Biker Menonaktifkan Rem CBS pada Motor Mereka? Ternyata Ini Alasannya



Sepeda motor modern kini dibekali berbagai teknologi yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan berkendara. Salah satunya adalah Combi Brake System (CBS), sebuah fitur pengereman yang cukup banyak ditemukan pada motor matik, khususnya skuter matik untuk penggunaan sehari-hari.

Secara sederhana, CBS memungkinkan pengendara mengaktifkan rem depan dan belakang secara bersamaan melalui satu tuas rem. Sistem ini bekerja dengan mekanisme pembagian tekanan pengereman yang sudah disesuaikan dengan rancangan pabrikan. Tujuannya agar pengendara lebih mudah menggunakan kedua rem tanpa harus mengoperasikannya secara terpisah.

Meskipun menawarkan kemudahan, keberadaan CBS ternyata tidak selalu disukai semua pengguna motor. Ada sebagian biker yang justru memilih menonaktifkan fitur tersebut melalui modifikasi pada sistem pengereman kendaraannya.

Keputusan ini tentu mengundang pertanyaan. Mengapa teknologi yang dibuat untuk membantu pengereman justru ingin dihilangkan oleh sebagian pengendara? Apakah sistem CBS dianggap kurang efektif atau ada alasan lain yang membuat biker lebih nyaman menggunakan rem konvensional?

Berikut beberapa alasan yang melatarbelakangi fenomena tersebut.

1. Ingin Memiliki Kendali Penuh atas Rem Depan dan Belakang

Salah satu alasan utama biker menonaktifkan CBS adalah keinginan untuk mengatur rem depan dan belakang secara mandiri.

Pada motor yang menggunakan sistem pengereman konvensional, masing-masing rem memiliki tuas pengoperasian tersendiri. Pengendara bisa menentukan kapan harus menggunakan rem depan, rem belakang, atau mengombinasikan keduanya sesuai kebutuhan.

Berbeda dengan sistem tersebut, CBS menghubungkan mekanisme pengereman kedua roda. Ketika tuas rem CBS dioperasikan, sistem akan membagi gaya pengereman ke rem depan dan belakang berdasarkan pengaturan yang telah ditentukan pabrikan.

Bagi pengendara yang sudah terbiasa menggunakan rem konvensional, mekanisme ini terkadang dianggap membatasi keleluasaan dalam mengatur pengereman.

Contohnya ketika melewati jalan berkelok, menghadapi kondisi lalu lintas padat, atau berkendara di permukaan jalan yang memiliki karakter berbeda. Sebagian biker merasa lebih nyaman jika dapat menentukan sendiri intensitas pengereman pada setiap roda.

Keinginan mendapatkan kendali secara terpisah inilah yang membuat mereka tertarik menonaktifkan CBS.

Namun, kemampuan mengatur kedua rem secara mandiri membutuhkan keterampilan dan pemahaman teknik pengereman yang baik. Tanpa pengalaman memadai, penggunaan rem yang tidak tepat justru bisa meningkatkan risiko kehilangan kendali.

2. Tidak Terbiasa dengan Karakter Pengereman CBS

Setiap pengendara mempunyai kebiasaan berbeda dalam mengoperasikan rem. Ada yang terbiasa menggunakan kombinasi rem depan dan belakang, sementara sebagian lainnya lebih sering mengandalkan salah satu rem ketika memperlambat kendaraan.

Ketika menggunakan motor dengan CBS, kebiasaan tersebut bisa mengalami perubahan karena karakter pengeremannya berbeda dari sistem konvensional.

Saat tuas rem CBS ditarik, mekanisme akan mengaktifkan kedua rem dengan pembagian tekanan tertentu. Respons ini mungkin terasa asing bagi pengendara yang sebelumnya menggunakan motor tanpa teknologi CBS.

Sebagian biker merasa karakter pengeremannya kurang sesuai dengan tekanan yang biasa mereka berikan pada tuas. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan respons motor ketika melakukan pengereman.

Kondisi tersebut kemudian membuat sebagian pengendara merasa lebih nyaman menggunakan sistem pengereman terpisah.

Meski demikian, rasa kurang terbiasa tidak bisa langsung dijadikan alasan bahwa CBS memiliki performa buruk. Sistem ini memang dirancang untuk membantu pengendara mengoperasikan kedua rem secara bersamaan.

Sebelum memutuskan melakukan modifikasi, pengendara sebaiknya memahami karakter pengereman CBS dan membiasakan diri menggunakannya dalam kondisi yang aman.

Baca juga : Kenapa Bus dan Truk Masih Setia Menggunakan Rem Tromol? Ini 3 Alasannya

3. Menganggap Sistem Rem Konvensional Lebih Fleksibel

Alasan lainnya adalah anggapan bahwa sistem pengereman konvensional memberikan fleksibilitas lebih besar dibandingkan CBS.

Pada sistem konvensional, pengendara memiliki kebebasan untuk menentukan penggunaan rem depan dan belakang berdasarkan situasi yang dihadapi. Hal ini dianggap menarik bagi biker yang sudah memiliki teknik pengereman sendiri.

Sebagian pengendara juga merasa lebih mudah menyesuaikan tekanan rem berdasarkan kondisi jalan dan kecepatan kendaraan.

Misalnya, ketika melewati jalan dengan permukaan yang kurang rata, pengendara mungkin ingin memberikan tekanan pengereman secara berbeda pada masing-masing roda.

Namun, fleksibilitas tersebut bukan berarti sistem konvensional selalu lebih unggul. Penggunaan rem depan dan belakang tetap membutuhkan koordinasi yang tepat agar motor tidak kehilangan kestabilan.

CBS justru dirancang untuk membantu pengendara yang belum terbiasa mengatur kedua rem secara bersamaan.

Dengan kata lain, perbedaan antara kedua sistem lebih berkaitan dengan mekanisme kerja dan cara pengoperasiannya. Efektivitas pengereman tetap bergantung pada banyak faktor, termasuk kecepatan, kondisi ban, permukaan jalan, dan keterampilan pengendara.

4. Ingin Menyesuaikan Motor dengan Preferensi Modifikasi

Budaya modifikasi juga menjadi salah satu faktor yang mendorong sebagian biker mengubah sistem pengereman motornya.

Bagi sebagian pengguna, memodifikasi kendaraan merupakan cara untuk mendapatkan karakter motor yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pribadi. Perubahan tersebut tidak selalu berkaitan dengan tampilan, tetapi juga bisa menyentuh komponen teknis.

Sistem pengereman menjadi salah satu bagian yang terkadang ikut dimodifikasi. Ada biker yang merasa lebih nyaman dengan konfigurasi rem terpisah sehingga memilih mengubah mekanisme CBS.

Mereka menganggap perubahan tersebut memberikan keleluasaan lebih besar dalam mengatur pengereman.

Namun, perlu dipahami bahwa menonaktifkan CBS bukan pekerjaan sederhana. Sistem ini melibatkan sejumlah komponen mekanis dan hidraulis yang saling berhubungan.

Perubahan yang dilakukan tanpa perhitungan teknis bisa menyebabkan distribusi tekanan pengereman menjadi tidak sesuai. Bahkan, kesalahan pemasangan berpotensi menimbulkan masalah seperti kebocoran minyak rem atau respons pengereman yang tidak normal.

Karena itu, modifikasi pada sistem pengereman tidak seharusnya dilakukan hanya karena mengikuti tren komunitas atau meniru motor milik orang lain.

5. Ingin Mendapatkan Sensasi Berkendara Seperti Motor Non-CBS

Pengalaman berkendara juga memengaruhi keputusan sebagian biker untuk menonaktifkan CBS.

Pengendara yang sudah lama menggunakan motor dengan sistem pengereman konvensional biasanya memiliki kebiasaan tersendiri. Mereka sudah terbiasa menentukan tekanan pada masing-masing tuas berdasarkan pengalaman selama berkendara.

Ketika berpindah ke motor dengan CBS, karakter pengereman yang berbeda bisa membuat mereka merasa kurang nyaman.

Sebagian biker akhirnya lebih memilih konfigurasi pengereman yang menyerupai motor sebelumnya. Mereka ingin mendapatkan kembali sensasi ketika mengoperasikan rem depan dan belakang secara terpisah.

Hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan preferensi pribadi daripada persoalan kualitas teknologi.

Sebab, sistem pengereman yang terasa lebih familiar belum tentu memberikan jarak berhenti lebih pendek atau tingkat keselamatan lebih tinggi.

Kemampuan motor berhenti dengan aman juga dipengaruhi kondisi ban, kualitas permukaan jalan, distribusi beban, kecepatan kendaraan, hingga cara pengendara menarik tuas rem.

Oleh sebab itu, keputusan mengubah sistem pengereman sebaiknya tidak hanya didasarkan pada sensasi berkendara.

Risiko Menonaktifkan CBS yang Perlu Diperhatikan

Terlepas dari berbagai alasan tersebut, menonaktifkan CBS tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.

Sistem pengereman merupakan komponen keselamatan utama pada sepeda motor. Setiap perubahan pada mekanismenya berpotensi memengaruhi kemampuan kendaraan dalam memperlambat laju maupun berhenti.

Salah satu risiko terbesar adalah terganggunya distribusi gaya pengereman. Jika mekanisme CBS diubah tanpa perhitungan yang benar, keseimbangan pengereman bisa berbeda dari rancangan awal pabrikan.

Selain itu, kesalahan dalam melakukan modifikasi dapat mengganggu kinerja komponen mekanis dan hidraulis. Kondisi seperti sambungan yang tidak tepat, kebocoran minyak rem, atau tekanan rem yang tidak konsisten tentu tidak boleh dianggap sepele.

Risiko lainnya berkaitan dengan garansi kendaraan. Pada beberapa merek dan model, perubahan pada komponen tertentu dapat memengaruhi ketentuan garansi. Karena kebijakan setiap pabrikan berbeda, pengendara sebaiknya memeriksa ketentuan yang berlaku sebelum melakukan modifikasi.

Jika sistem pengereman terasa kurang responsif atau tidak bekerja sebagaimana mestinya, langkah terbaik adalah melakukan pemeriksaan di bengkel resmi atau teknisi yang benar-benar memahami sistem tersebut.

Apakah Sebaiknya CBS Tetap Digunakan?

Untuk penggunaan sehari-hari, mempertahankan sistem CBS sesuai konfigurasi pabrikan merupakan pilihan yang lebih disarankan, terutama bagi pengendara yang tidak memiliki kebutuhan teknis khusus untuk mengubah mekanisme pengereman.

Teknologi ini dikembangkan untuk memberikan kemudahan dalam mengoperasikan rem sekaligus membantu pengendara memanfaatkan rem depan dan belakang.

Namun, keberadaan CBS bukan berarti pengendara bisa sepenuhnya mengabaikan teknik pengereman. Menjaga jarak aman, mengatur kecepatan, memperhatikan kondisi jalan, dan memastikan komponen rem selalu dalam kondisi prima tetap menjadi hal penting.

Jika merasa karakter CBS kurang nyaman, pengendara bisa mempelajari cara kerjanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk melakukan perubahan.

Pada akhirnya, alasan biker menonaktifkan CBS lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan, preferensi, dan keinginan mendapatkan kontrol pengereman yang berbeda. Akan tetapi, modifikasi pada sistem keselamatan kendaraan harus dilakukan dengan pertimbangan teknis yang matang.

Jangan sampai keinginan mendapatkan sensasi berkendara yang lebih sesuai dengan selera justru mengorbankan keselamatan. Sebab, apa pun sistem pengereman yang digunakan, kemampuan menghentikan motor secara aman tetap menjadi prioritas utama.


Posting Komentar