Kampus Perlu Ubah Sistem SKS dan KRS untuk Adaptasi AI, Cara Belajar Mahasiswa Bakal Berubah?
Kampus Perlu Ubah Sistem SKS dan KRS untuk Adaptasi AI, Cara Belajar Mahasiswa Bakal Berubah?
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mendorong perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Teknologi ini tidak hanya menawarkan kemudahan dalam mencari informasi, mengerjakan tugas, atau melakukan penelitian, tetapi juga membuka peluang untuk mengubah cara universitas mengelola kegiatan akademik.
Salah satu perubahan yang mulai mendapat perhatian adalah sistem satuan kredit semester (SKS) dan kartu rencana studi (KRS). Kedua mekanisme tersebut selama ini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola belajar mahasiswa, sistem yang sudah digunakan selama bertahun-tahun tersebut dinilai perlu dievaluasi.
Gagasan ini disampaikan oleh Binus Higher Education & Professional Service sekaligus mantan Rektor Binus University periode 2009–2023, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo. Ia menyampaikan pandangannya dalam diskusi bertajuk "Leading Universities in the Age of AI: Technology, Governance, and Leadership for the Future".
Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 yang berlangsung di Bali International Convention Centre, Bali, Rabu (4/11).
Menurut Harjanto, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengadopsi AI sebagai teknologi pendukung kegiatan belajar mengajar. Universitas juga perlu berani mengevaluasi sistem akademik yang selama ini diterapkan, termasuk aturan pembelajaran dan prosedur administrasi yang mungkin sudah tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.
AI Bisa Mengubah Cara Universitas Menerapkan Sistem SKS
Salah satu hal yang menjadi perhatian Harjanto adalah sistem SKS yang digunakan untuk mengatur beban belajar mahasiswa. Selama ini, proses pembelajaran di perguruan tinggi umumnya mengikuti ketentuan jumlah pertemuan, minggu perkuliahan, serta durasi belajar yang telah ditentukan dalam satu semester.
Namun, menurutnya, perkembangan teknologi dan penelitian mengenai proses belajar manusia memunculkan pertanyaan mengenai relevansi pola tersebut.
Harjanto mempertanyakan apakah setiap mata kuliah memang harus diselesaikan dalam durasi yang sama, terlepas dari kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing mahasiswa.
Selama ini, terdapat anggapan bahwa mahasiswa membutuhkan satu semester penuh untuk menerima, memahami, dan menguasai materi perkuliahan. Padahal, kemampuan setiap individu dalam menyerap pengetahuan tidak selalu sama. Ada mahasiswa yang mampu memahami materi dengan cepat, sementara mahasiswa lainnya membutuhkan waktu lebih panjang.
Perbedaan tersebut seharusnya bisa menjadi pertimbangan dalam merancang sistem pembelajaran yang lebih fleksibel.
"Siapa yang dapat menjelaskan bahwa mata kuliah dengan jumlah SKS tertentu, dalam sekian minggu dan sekian jam, masih benar dalam situasi sekarang? Apa alasan yang membuat ketentuan itu tetap tepat untuk kondisi saat ini?" ujar Harjanto.
Ia menilai AI dapat membantu universitas menghadirkan pembelajaran yang lebih personal atau personalized learning. Melalui teknologi ini, materi, metode penyampaian, hingga tingkat kesulitan pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap mahasiswa.
Sebagai gambaran, sebuah kelas yang terdiri dari 30 mahasiswa tidak harus selalu menggunakan pendekatan pembelajaran yang sama untuk seluruh peserta. AI dapat membantu mengidentifikasi bagian materi yang sudah dikuasai setiap mahasiswa dan topik yang masih membutuhkan pendalaman.
Dengan begitu, mahasiswa yang lebih cepat memahami materi bisa melanjutkan pembelajaran ke tingkat berikutnya tanpa harus selalu menunggu teman sekelasnya.
Sebaliknya, mahasiswa yang mengalami kesulitan bisa mendapatkan penjelasan tambahan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini berpotensi membuat kegiatan belajar lebih efektif karena prosesnya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kecepatan rata-rata seluruh kelas.
Tutor AI Bisa Membantu Mahasiswa Belajar Selama 24 Jam
Salah satu peluang pemanfaatan AI dalam pendidikan tinggi adalah menghadirkan tutor virtual yang dapat diakses kapan saja. Teknologi tersebut memungkinkan mahasiswa mendapatkan bantuan belajar tanpa harus menunggu dosen tersedia atau menunggu jadwal perkuliahan berikutnya.
Harjanto memberikan gambaran seorang mahasiswa yang tiba-tiba ingin belajar pada pukul 11 malam. Dalam sistem pembelajaran konvensional, mahasiswa mungkin harus menunggu hingga keesokan harinya untuk mendapatkan penjelasan tambahan dari dosen.
Namun, dengan dukungan tutor AI, mahasiswa bisa langsung mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan ulang, atau mempelajari materi yang belum dipahami.
Tutor virtual juga dapat membantu menyajikan penjelasan menggunakan pendekatan berbeda. Jika mahasiswa kesulitan memahami konsep tertentu melalui penjelasan teks, AI bisa membantu memberikan contoh, analogi, atau tahapan penyelesaian yang lebih sederhana.
"Bisa saja seorang mahasiswa baru terbangun pukul 11 malam dan ingin belajar. Ia dapat memahami materi lebih cepat daripada mahasiswa lainnya. Mengapa hal seperti itu harus dianggap salah? Pembelajaran yang dipersonalisasi menjadi penting," kata Harjanto.
Meski menawarkan banyak kemudahan, penggunaan tutor AI tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi. Informasi yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan melakukan verifikasi terhadap materi yang diperoleh.
Dengan demikian, AI sebaiknya diposisikan sebagai pendamping belajar, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Baca juga : 5 Rekomendasi Water Heater Terbaik untuk Rumah, Ada yang Hemat Listrik dan Gas
Sistem KRS Manual Dinilai Tidak Lagi Efisien
Selain SKS, mekanisme pengisian KRS juga menjadi bagian dari sistem akademik yang menurut Harjanto perlu diperbarui.
Selama ini, mahasiswa umumnya harus melakukan registrasi setiap awal semester dengan menentukan mata kuliah yang akan diambil. Proses tersebut sering kali melibatkan pemilihan jadwal, pemeriksaan jumlah SKS, hingga penyesuaian dengan persyaratan akademik.
Bagi sebagian mahasiswa, proses pengisian KRS bahkan bisa menjadi aktivitas administratif yang cukup merepotkan. Mereka harus memahami struktur kurikulum dan menentukan mata kuliah yang sesuai, meskipun belum tentu memiliki gambaran jelas mengenai kompetensi yang sebenarnya ingin dikuasai.
Harjanto menilai mekanisme seperti ini perlu dipertanyakan kembali. Ia mengungkapkan bahwa Binus University telah meninggalkan sistem registrasi manual semacam itu sejak sekitar 10 tahun sebelumnya.
Menurutnya, universitas seharusnya tidak membuat mahasiswa terbebani oleh prosedur administratif yang sebenarnya bisa disederhanakan melalui teknologi.
"Mengapa mahasiswa harus melakukan registrasi? Hal tersebut sudah ditinggalkan Binus sejak 10 tahun yang lalu. Para pengelola kampus justru membuat mahasiswa kesulitan. Mereka diminta menyusun rencana studi, padahal belum tentu memahami apa yang perlu direncanakan," ujarnya.
Melalui integrasi AI, proses perencanaan akademik berpotensi dilakukan secara lebih otomatis dan disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Sistem dapat membantu merekomendasikan mata kuliah berdasarkan kemampuan, perkembangan akademik, serta kompetensi yang ingin dicapai.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berfokus pada pemenuhan jumlah SKS untuk mendapatkan gelar, tetapi juga memahami keterampilan yang perlu mereka kuasai selama menempuh pendidikan.
Pendidikan Tinggi Perlu Lebih Berorientasi pada Kompetensi
Perubahan sistem akademik juga berkaitan dengan cara universitas menentukan keberhasilan mahasiswa. Selama ini, pencapaian pendidikan tinggi umumnya diukur melalui kelulusan mata kuliah, jumlah SKS, indeks prestasi, dan perolehan gelar akademik.
Namun, perkembangan dunia kerja membuat kompetensi praktis semakin penting. Perusahaan tidak hanya membutuhkan kandidat yang memiliki ijazah, tetapi juga individu yang mampu menyelesaikan persoalan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pekerjaan.
Harjanto menilai mahasiswa seharusnya memiliki kesempatan untuk menentukan kompetensi yang ingin dikuasai. Universitas kemudian dapat membantu mengarahkan proses pembelajaran agar tujuan tersebut bisa tercapai.
"Mahasiswa bisa mengatakan bahwa mereka ingin memperoleh kompetensi tertentu. Mengenai gelar, silakan diatur oleh kampus, yang terpenting adalah kemampuan yang ingin mereka kuasai," ungkapnya.
Pendekatan berbasis kompetensi memungkinkan perguruan tinggi menyusun pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan setiap individu. Misalnya, mahasiswa yang ingin berkarier di bidang teknologi dapat memperoleh rekomendasi pembelajaran yang berfokus pada pemrograman, analisis data, keamanan siber, atau bidang lain yang sesuai dengan tujuan kariernya.
Meski demikian, pendekatan tersebut bukan berarti gelar akademik menjadi tidak penting. Pendidikan tinggi tetap memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar memberikan keterampilan teknis. Universitas juga bertanggung jawab membangun kemampuan berpikir, etika, komunikasi, dan karakter mahasiswa.
Sistem Informasi Kampus Perlu Beralih ke Teknologi Prediktif
Untuk mendukung perubahan tersebut, Harjanto menilai perguruan tinggi perlu melakukan pembaruan terhadap sistem informasi akademik secara menyeluruh.
Selama ini, banyak sistem informasi kampus lebih berfungsi untuk mencatat dan menyajikan data. Misalnya, informasi nilai mahasiswa, jadwal perkuliahan, status pembayaran, hingga riwayat akademik.
Padahal, perkembangan AI memungkinkan sistem informasi bergerak lebih jauh dengan menghadirkan kemampuan analisis dan prediksi.
Melalui teknologi tersebut, universitas berpotensi mengidentifikasi mahasiswa yang mengalami kesulitan akademik lebih awal, memberikan rekomendasi mata kuliah, hingga memperkirakan kebutuhan pembelajaran berdasarkan perkembangan kompetensi.
Artinya, pengelolaan kampus tidak lagi hanya mengandalkan data yang sudah terjadi, tetapi juga bisa memanfaatkan informasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Harjanto menilai sistem yang dibangun dari awal hingga akhir mungkin perlu diperbarui, termasuk mekanisme registrasi dan berbagai proses administrasi lainnya.
Namun, penerapan sistem prediktif juga harus memperhatikan keamanan data, privasi mahasiswa, transparansi keputusan algoritma, serta kemungkinan kesalahan rekomendasi AI. Keputusan penting mengenai masa depan akademik mahasiswa tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
AI Tidak Menggantikan Peran Dosen dalam Pembentukan Karakter
Meskipun AI berpotensi mengambil alih sejumlah pekerjaan administratif dan membantu proses pembelajaran, peran dosen tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi.
Harjanto justru melihat teknologi tersebut sebagai kesempatan bagi tenaga pengajar untuk lebih fokus menjalankan fungsi pendidikan yang tidak mudah digantikan mesin.
Jika pekerjaan administratif dapat disederhanakan menggunakan AI, dosen memiliki lebih banyak waktu untuk berdiskusi, membimbing, serta membangun interaksi dengan mahasiswa.
Hal ini penting karena pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis. Mahasiswa juga perlu memiliki karakter, kemampuan berkomunikasi, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial maupun profesional.
Dalam pandangan Harjanto, dosen memiliki tanggung jawab sebagai panutan atau role model bagi mahasiswa. Keteladanan tersebut tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi, meskipun AI mampu memberikan informasi dan membantu menjawab berbagai pertanyaan akademik.
Ia menilai kualitas dosen dan lulusan seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama ketika calon mahasiswa memilih perguruan tinggi.
Kampus Harus Berani Berubah agar Tidak Tertinggal
Perkembangan AI membawa tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan tinggi. Universitas yang mampu memanfaatkan teknologi secara tepat berpeluang menghadirkan sistem pembelajaran lebih fleksibel, personal, dan sesuai kebutuhan industri.
Sebaliknya, perguruan tinggi yang hanya mempertahankan prosedur lama tanpa melakukan evaluasi berisiko kehilangan relevansinya. Apalagi, kebutuhan dunia kerja terus berubah dan menuntut lulusan dengan kemampuan yang semakin beragam.
Gagasan Prof. Harjanto Prabowo menunjukkan bahwa adaptasi AI seharusnya tidak berhenti pada penggunaan chatbot atau perangkat pembelajaran digital. Perubahan juga perlu menyentuh sistem SKS, KRS, pengelolaan akademik, hingga pembagian tanggung jawab dosen.
Pada akhirnya, teknologi bukan tujuan utama pendidikan. AI seharusnya membantu universitas menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik, sementara manusia tetap memegang peran penting dalam membangun pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan.
Tantangan terbesarnya bukan sekadar apakah perguruan tinggi mampu menggunakan AI, melainkan apakah mereka bersedia mengubah sistem yang selama ini sudah dianggap sebagai standar pendidikan.

Posting Komentar