Harga RTX 5080 dan RTX 5090 Menggila, GPU Flagship Nvidia Kini Semakin Sulit Dijangkau

Daftar Isi

 

Harga RTX 5080 dan RTX 5090 Menggila, GPU Flagship Nvidia Kini Semakin Sulit Dijangkau



Pasar kartu grafis kelas atas sedang menghadapi situasi yang kurang menyenangkan bagi para penggemar PC dan gamer. Nvidia GeForce RTX 5080 dan RTX 5090, dua GPU flagship yang menjadi incaran pengguna kelas enthusiast, dilaporkan sempat menghilang dari pencarian di toko resmi Nvidia. Ketika keberadaan keduanya mulai dipertanyakan, persoalan lain justru semakin terasa: stok terbatas dan harga di pasar yang melambung jauh dari harga rekomendasi.

Di Indonesia, situasinya bahkan lebih ekstrem. RTX 5080 yang memiliki harga rekomendasi sekitar Rp20 jutaan kini ditemukan dijual pada kisaran Rp40 juta hingga Rp45 juta. Sementara RTX 5090 yang seharusnya berada di kisaran Rp40 jutaan, justru ditawarkan dengan harga Rp160 juta sampai Rp190 juta.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa memiliki GPU kelas atas bukan lagi sekadar persoalan memilih spesifikasi dan menyiapkan anggaran. Konsumen juga harus berhadapan dengan keterbatasan pasokan, persaingan mendapatkan barang, serta harga pasar yang semakin sulit diprediksi.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan RTX 5080 dan RTX 5090? Apakah Nvidia sedang menyiapkan generasi baru, atau kelangkaan ini lebih berkaitan dengan masalah pasokan komponen?

RTX 5080 dan RTX 5090 Sempat Menghilang dari Nvidia Marketplace

Kabar mengenai hilangnya RTX 5080 dan RTX 5090 dari toko resmi Nvidia pertama kali menjadi perhatian setelah media teknologi Tom's Hardware melaporkan bahwa kedua GPU tersebut tidak lagi muncul ketika pengguna melakukan pencarian berdasarkan kata kunci di Nvidia Marketplace.

Namun, kondisi yang ditemukan tidak sepenuhnya berarti Nvidia telah menghapus kedua produk tersebut secara permanen.

Berdasarkan pantauan KompasTekno pada Senin, 2 November 2026, Nvidia Marketplace versi Indonesia dan Amerika Serikat masih menampilkan RTX 5080 dan RTX 5090. Hanya saja, produk yang tersedia dalam daftar tersebut merupakan varian Founders Edition, yaitu kartu grafis yang diproduksi langsung oleh Nvidia.

Artinya, pengguna tidak menemukan pilihan lengkap dari mitra produsen kartu grafis seperti Gigabyte, Colorful, dan vendor lainnya melalui daftar toko resmi tersebut.

Masalah berikutnya adalah ketersediaan barang. RTX 5080 Founders Edition yang dibanderol US$999 atau sekitar Rp18 juta dan RTX 5090 Founders Edition seharga US$1.999 atau sekitar Rp36,2 juta sama-sama menunjukkan status Out of Stock.

Dengan demikian, produk memang masih tercantum di toko resmi, tetapi konsumen belum bisa membelinya karena stok sedang kosong.

Perbedaan antara produk yang dihapus dari katalog dan produk yang masih tercantum tetapi tidak tersedia penting untuk diperhatikan. Keduanya memiliki makna berbeda. Hilangnya produk dari pencarian belum tentu menunjukkan penghentian produksi, sedangkan status kosong juga tidak otomatis berarti Nvidia tidak akan menyediakan stok kembali.

Benarkah Nvidia Sedang Menyiapkan RTX 5080 dengan Memori 24 GB?

Salah satu spekulasi yang muncul di tengah kabar kelangkaan ini adalah kemungkinan Nvidia sedang menyiapkan varian RTX 5080 dengan spesifikasi lebih tinggi.

Versi yang ramai dibicarakan disebut akan memiliki kapasitas memori 24 GB, meningkat cukup besar dibandingkan RTX 5080 standar yang menggunakan VRAM 16 GB.

Jika benar-benar hadir, peningkatan kapasitas tersebut berpotensi menarik perhatian pengguna yang membutuhkan GPU untuk pekerjaan berat. Kapasitas VRAM menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan aplikasi grafis, mengolah video beresolusi tinggi, menjalankan model AI, dan menangani proyek komputasi yang membutuhkan memori besar.

VRAM atau Video Random Access Memory merupakan memori khusus yang digunakan GPU untuk menyimpan data grafis dan berbagai informasi yang sedang diproses. Semakin besar kapasitasnya, semakin banyak data yang dapat ditangani GPU tanpa harus terlalu sering memindahkan informasi dari memori sistem.

Namun, kapasitas VRAM bukan satu-satunya penentu performa. Arsitektur GPU, jumlah unit pemrosesan, bandwidth memori, dan optimalisasi perangkat lunak juga memiliki pengaruh besar.

Karena itu, RTX 5080 dengan VRAM 24 GB, apabila benar dikembangkan, tidak otomatis menjadi jauh lebih cepat dalam semua jenis aplikasi. Peningkatan tersebut lebih berpotensi memberikan keuntungan pada pekerjaan yang memang membutuhkan kapasitas memori lebih besar.

Sampai informasi dalam laporan tersebut, belum ada kepastian bahwa Nvidia benar-benar mencabut RTX 5080 standar untuk menggantinya dengan varian 24 GB. Konsumen sebaiknya tidak terburu-buru menganggap rumor tersebut sebagai keputusan resmi perusahaan.

Baca juga : Robot Humanoid China Makin Canggih: Persaingan Masa Depan Bukan Lagi Soal Mesin, tetapi Kecerdasan Buatannya

RTX 5090 dan Persaingan Kebutuhan GPU AI

Berbeda dengan spekulasi mengenai RTX 5080, kabar penghapusan RTX 5090 juga dikaitkan dengan pengalihan produksi chip GB202.

Chip tersebut digunakan pada RTX 5090 dan disebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lini RTX Pro Blackwell, yaitu GPU yang ditujukan bagi pasar profesional dan pusat data.

Perkembangan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana kebutuhan komputasi AI dapat memengaruhi pasar kartu grafis konsumen.

Dalam beberapa tahun terakhir, GPU tidak lagi hanya menjadi komponen penting bagi gamer. Perangkat ini juga menjadi fondasi komputasi untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan, mengolah data dalam jumlah besar, serta menangani berbagai beban kerja profesional.

GPU memiliki banyak unit pemrosesan yang memungkinkan sejumlah operasi komputasi dijalankan secara paralel. Karakteristik tersebut membuatnya sangat berguna untuk pekerjaan AI yang membutuhkan perhitungan dalam skala besar.

Ketika permintaan dari sektor profesional dan pusat data meningkat, produsen semikonduktor harus menentukan bagaimana kapasitas produksi dialokasikan. Produk untuk pasar konsumen pun berpotensi menghadapi persaingan mendapatkan komponen.

Meski demikian, pengalihan produksi chip GB202 tidak boleh langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab kelangkaan RTX 5090. Informasi yang tersedia hanya menyebut hal tersebut sebagai salah satu faktor yang dikaitkan dengan kondisi pasokan.

Harga RTX 5080 Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

Persoalan paling terasa bagi konsumen Indonesia justru terlihat pada harga di marketplace.

Berdasarkan pantauan KompasTekno pada 1 November 2026, RTX 5080 dari berbagai vendor dijual pada kisaran Rp40 juta hingga Rp45 juta. Angka tersebut jauh di atas harga rekomendasi atau Manufacturer's Suggested Retail Price (MSRP) yang berada di kisaran Rp20 jutaan.

Dengan kata lain, konsumen harus membayar lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga rekomendasi untuk mendapatkan kartu grafis tersebut.

Situasi RTX 5090 bahkan lebih ekstrem. GPU flagship Nvidia ini ditemukan dijual dengan harga sekitar Rp160 juta hingga Rp190 juta. Padahal, harga rekomendasinya berada di kisaran Rp40 jutaan.

Jika dibandingkan dengan MSRP, harga pasar RTX 5090 tersebut bisa mencapai sekitar empat kali lipat.

Kondisi ini memperlihatkan betapa jauhnya perbedaan antara harga resmi yang direkomendasikan produsen dan harga yang harus dibayar konsumen ketika pasokan terbatas.

Menariknya, kedua GPU tersebut sebenarnya masih dapat ditemukan di sejumlah marketplace Indonesia. Jadi, kelangkaan di toko resmi Nvidia tidak berarti seluruh penjual kehabisan barang.

Namun, keberadaan produk di marketplace tidak otomatis membuat konsumen memperoleh harga yang wajar. Ketika stok terbatas dan permintaan tinggi, penjual dapat menawarkan barang dengan harga jauh di atas rekomendasi.

Pada akhirnya, konsumen memiliki pilihan yang terbatas: membayar mahal, menunggu pasokan baru, atau mempertimbangkan GPU alternatif.

Krisis Memori Ikut Memengaruhi Harga GPU

Salah satu faktor yang disebut turut memengaruhi kenaikan harga kedua GPU tersebut adalah keterbatasan pasokan memori.

Memori merupakan komponen penting dalam kartu grafis. GPU membutuhkan VRAM untuk menyimpan tekstur, aset visual, data komputasi, dan berbagai informasi yang sedang diproses.

Ketika pasokan memori mengalami keterbatasan, produsen dapat menghadapi peningkatan biaya pengadaan atau kesulitan memenuhi target produksi. Dampaknya berpotensi menjalar ke harga produk akhir.

Persoalan ini juga memperlihatkan bahwa industri kartu grafis tidak berdiri sendiri. Produksi GPU bergantung pada rantai pasok semikonduktor yang melibatkan banyak komponen, pemasok, dan proses manufaktur.

Gangguan pada salah satu bagian saja dapat memengaruhi ketersediaan produk di pasar.

Namun, penting untuk memahami bahwa kenaikan harga GPU tidak selalu disebabkan satu faktor. Ketersediaan chip, pasokan memori, permintaan dari sektor AI, biaya distribusi, dan strategi penjualan dapat saling memengaruhi.

Dalam kondisi pasar yang tidak seimbang, kombinasi berbagai faktor tersebut dapat membuat harga bergerak jauh dari MSRP.

Apakah Sekarang Waktu yang Tepat Membeli RTX 5080 atau RTX 5090?

Bagi konsumen yang sedang merakit PC, kondisi saat ini menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan kembali rencana pembelian GPU kelas atas.

RTX 5080 dan RTX 5090 memang menawarkan performa tinggi untuk kebutuhan gaming maupun pekerjaan komputasi berat. Namun, harga yang mencapai dua hingga empat kali MSRP membuat nilai pembeliannya perlu dipertanyakan.

Terutama bagi gamer, membayar Rp40 juta hingga Rp45 juta untuk RTX 5080 mungkin bukan keputusan yang rasional jika kebutuhan utamanya hanya bermain gim pada resolusi tinggi. Ada baiknya membandingkan kebutuhan aktual dengan GPU lain yang harganya lebih terjangkau.

Sementara itu, RTX 5090 dengan harga Rp160 juta hingga Rp190 juta lebih sulit dibenarkan untuk pengguna biasa. GPU tersebut mungkin relevan bagi profesional yang membutuhkan kemampuan komputasi tinggi dan dapat menghasilkan nilai ekonomi dari perangkat yang dibeli.

Pengguna yang bekerja dengan AI, rendering, atau produksi konten profesional perlu mempertimbangkan apakah kapasitas memori dan kemampuan RTX 5090 benar-benar dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Jika tidak mendesak, menunggu perkembangan stok dan harga bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Konsumen juga sebaiknya membandingkan harga dari beberapa penjual, memeriksa garansi resmi, dan memastikan keaslian produk sebelum melakukan transaksi.

Masa Depan Harga GPU Masih Sulit Diprediksi

Sampai saat ini, belum ada informasi pasti mengenai kapan harga RTX 5080 dan RTX 5090 akan kembali mendekati MSRP. Belum jelas pula apakah kelangkaan tersebut hanya bersifat sementara atau akan berlangsung lebih lama.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa pasar GPU semakin dipengaruhi oleh kebutuhan industri komputasi yang lebih luas. Persaingan mendapatkan chip dan memori tidak hanya datang dari gamer, tetapi juga perusahaan AI, pusat data, dan sektor profesional.

Nvidia sendiri berada dalam posisi harus memenuhi kebutuhan dari berbagai segmen pasar. Ketika permintaan GPU untuk AI meningkat, alokasi produksi dan strategi produk dapat ikut berubah.

Bagi konsumen, dampaknya cukup sederhana tetapi menyebalkan: GPU semakin mahal dan semakin sulit diperoleh dengan harga yang masuk akal.

Pada akhirnya, RTX 5080 dan RTX 5090 tetap merupakan produk kelas atas yang menawarkan kemampuan komputasi tinggi. Namun, performa hebat tidak otomatis membuat harga pasar yang melonjak menjadi layak dibayar.

Selama pasokan belum stabil dan harga masih jauh di atas MSRP, konsumen sebaiknya tidak terburu-buru membeli hanya karena takut kehabisan. Dalam situasi seperti ini, kesabaran justru bisa menjadi strategi terbaik untuk mendapatkan GPU mahal tanpa harus membayar harga yang terlalu tinggi.

Posting Komentar