Anthropic Siap IPO, Proyek Data Center AI Rp363 Triliun di Australia Tuai Protes Warga
Anthropic Siap IPO, Proyek Data Center AI Rp363 Triliun di Australia Tuai Protes Warga
Industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sedang memasuki fase pertumbuhan yang semakin agresif. Perusahaan teknologi tidak lagi hanya berlomba mengembangkan model AI yang lebih pintar, tetapi juga membangun infrastruktur komputasi berskala besar untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude, menjadi salah satu pemain yang tengah memperluas ambisinya.
Di tengah persiapan menuju penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO), Anthropic dikaitkan dengan proyek pembangunan pusat data raksasa di Queensland, Australia. Nilai investasinya mencapai US$22 miliar atau sekitar Rp363 triliun. Jika terealisasi, fasilitas tersebut berpotensi menjadi salah satu pusat data AI terbesar di Australia.
Namun, rencana ini tidak sepenuhnya disambut positif. Sejumlah warga mengkhawatirkan kebutuhan air dan listrik yang sangat besar, terutama karena lokasi proyek berada di kawasan yang memiliki aktivitas pertanian dan pernah menghadapi persoalan ketersediaan air. Penolakan bahkan berkembang menjadi petisi yang telah mengumpulkan lebih dari 23.000 tanda tangan.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik ekspansi Anthropic tersebut? Berikut sejumlah hal penting yang perlu diketahui.
1. Anthropic menjadi calon penyewa utama proyek data center Rp363 triliun
Proyek Western Downs Digital Park di Queensland merupakan rencana pembangunan infrastruktur komputasi berskala besar yang dikembangkan oleh Zerra DC, perusahaan asal Singapura. Total nilai investasinya diperkirakan mencapai US$22 miliar atau sekitar Rp363 triliun.
Kompleks tersebut direncanakan memiliki empat bangunan pusat data. Masing-masing bangunan diperkirakan mempunyai ukuran setara lima lapangan sepak bola. Dengan skala seperti itu, proyek ini bukan sekadar fasilitas server biasa, melainkan infrastruktur besar yang dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi industri AI.
Anthropic telah menandatangani perjanjian sewa sebagai calon penyewa utama fasilitas tersebut. Meski demikian, pembangunan Western Downs Digital Park masih membutuhkan persetujuan resmi dari pihak berwenang. Artinya, proyek ini belum bisa dianggap pasti akan beroperasi sesuai rencana.
Bagi Anthropic, fasilitas tersebut menjadi kesempatan untuk memperbesar kapasitas komputasi sekaligus memperluas jangkauan bisnis di kawasan Asia Pasifik. David Masters, kepala kebijakan Anthropic untuk Australia dan Selandia Baru, menyampaikan bahwa perusahaan sedang mengupayakan penyediaan kapasitas komputasi yang signifikan di Australia.
Menariknya, fasilitas tersebut direncanakan untuk melayani permintaan pengguna Claude, bukan digunakan untuk melatih model bahasa besar atau large language model (LLM). Perbedaan ini penting karena pelatihan model dan penggunaan model memiliki pola kebutuhan komputasi yang berbeda.
Dalam tahap pembangunan, proyek tersebut juga diperkirakan membutuhkan akomodasi sementara bagi sekitar 1.500 pekerja. Hal ini memperlihatkan potensi dampak ekonomi yang cukup besar bagi wilayah sekitar, meskipun manfaat jangka panjangnya masih perlu dibuktikan.
2. Kebutuhan air menjadi sumber kekhawatiran utama warga
Salah satu persoalan paling sensitif dari pembangunan Western Downs Digital Park adalah kebutuhan air. Lokasi proyek berada di kawasan Queensland yang memiliki aktivitas pertanian, termasuk perkebunan dan peternakan. Bagi masyarakat setempat, air bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sumber daya penting untuk mempertahankan mata pencaharian.
Masalahnya, Western Downs telah menghadapi persoalan ketersediaan air selama bertahun-tahun. Sebagian masyarakat mengkhawatirkan penurunan air tanah dan dampak aktivitas industri yang sudah berlangsung di kawasan tersebut.
Wilayah ini juga menjadi salah satu pusat industri gas alam. Terdapat lebih dari 6.000 sumur gas nonkonvensional di sekitarnya. Salah satu proses yang digunakan dalam ekstraksi gas dari lapisan batu bara adalah dewatering, yakni memompa air tanah keluar untuk mengurangi tekanan sehingga gas dapat diekstraksi.
Aktivitas tersebut menjadi perhatian sejumlah petani. Beberapa di antaranya mengaku mengalami penurunan ketersediaan air di sumur mereka setelah kegiatan industri gas berkembang di kawasan tersebut.
Karena itu, rencana penggunaan air untuk mendukung operasional pusat data menimbulkan kekhawatiran tambahan. Bev Newton, seorang petani biji-bijian di wilayah tersebut, termasuk warga yang mempertanyakan dampak pengambilan air terhadap kehidupan masyarakat. Ia dan keluarganya mengandalkan air hujan yang ditampung di lahan pertanian.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Zerra DC menyatakan akan menggunakan sistem pendingin udara atau air cooling. Teknologi ini diklaim membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan sistem pendingin evaporatif yang memanfaatkan penguapan air untuk membuang panas.
Pengembang juga berencana memanen dan mendaur ulang air hujan untuk memenuhi kebutuhan operasional. Namun, warga masih mempertanyakan efektivitas rencana tersebut, terutama ketika curah hujan tidak menentu dan persediaan air sedang terbatas.
Baca juga : Cara Mengatasi Laptop Freeze Total dan Harus Restart Paksa, Ikuti 5 Langkah Ini
3. Konsumsi listrik hingga 2,16 gigawatt menimbulkan persoalan baru
Selain air, kebutuhan listrik menjadi tantangan besar bagi proyek pusat data tersebut. Western Downs Digital Park diperkirakan mempunyai kapasitas puncak mencapai 2,16 gigawatt. Angka ini menunjukkan betapa besar kebutuhan energi yang harus disiapkan apabila seluruh fasilitas beroperasi sesuai kapasitas rencana.
Pusat data AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar karena harus menjalankan ribuan perangkat komputasi secara terus-menerus. Server, sistem jaringan, penyimpanan data, dan perangkat pendingin semuanya membutuhkan pasokan energi yang stabil.
Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap jaringan listrik Queensland. Warga khawatir proyek berskala besar dapat meningkatkan permintaan energi, memengaruhi ketersediaan listrik, bahkan berkontribusi terhadap kenaikan tarif bagi masyarakat.
Kekhawatiran lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Pemerintah Australia sebelumnya sempat merencanakan kewajiban penggunaan energi terbarukan bagi perusahaan teknologi yang mengoperasikan pusat data AI. Namun, kebijakan tersebut mengalami perubahan setelah Queensland memperoleh pengecualian.
Dengan kondisi tersebut, fasilitas yang nantinya dibangun berpeluang terhubung ke jaringan listrik yang masih menggunakan campuran sumber energi, termasuk batu bara dan gas alam.
Hal ini menjadi persoalan karena peningkatan kebutuhan energi dapat mendorong penggunaan bahan bakar fosil apabila tidak diimbangi penambahan kapasitas energi bersih. Warga juga mengkhawatirkan kemungkinan meningkatnya aktivitas industri gas yang selama ini sudah menjadi perhatian terkait penggunaan air tanah.
Zerra DC menyatakan pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Pendekatan ini diharapkan memberi waktu kepada pengembang untuk bekerja sama dengan pelanggan dalam menyiapkan pasokan energi tambahan.
Perusahaan juga berencana menyediakan sistem baterai untuk membantu menjaga kestabilan jaringan listrik ketika permintaan meningkat. Sementara itu, Anthropic menyebut rencana penggunaan virtual power purchase agreements atau perjanjian pembelian listrik virtual, dengan prioritas pada proyek energi terbarukan yang baru dibangun.
Meski demikian, komitmen tersebut tetap perlu dibuktikan melalui implementasi. Penggunaan energi terbarukan tidak cukup hanya disampaikan sebagai rencana, tetapi harus terlihat dari sumber listrik yang benar-benar tersedia untuk mendukung operasional pusat data.
4. Penolakan warga juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap perkembangan AI
Kontroversi Western Downs Digital Park tidak hanya berkaitan dengan persoalan air dan listrik. Sebagian masyarakat juga mulai mempertanyakan dampak perkembangan AI terhadap kehidupan manusia, keamanan informasi, serta kemampuan pemerintah mengawasi teknologi tersebut.
Kekhawatiran ini semakin mendapat perhatian setelah muncul laporan mengenai insiden keamanan yang melibatkan sistem agen AI milik OpenAI di Australia. Sistem tersebut dilaporkan berhasil mengakses data layanan kesehatan dan memperoleh sejumlah informasi statistik, meskipun tidak mengakses informasi pribadi pasien.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa semakin canggih teknologi AI, semakin penting pula pengawasan terhadap akses data dan sistem keamanan yang digunakan. Informasi kesehatan termasuk data sensitif sehingga pengelolaannya membutuhkan perlindungan ketat.
Setelah mendapat telepon dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, CEO OpenAI Sam Altman menyampaikan permintaan maaf dan berjanji memulihkan kepercayaan masyarakat Australia.
Insiden ini memang tidak secara langsung berkaitan dengan proyek Anthropic. Namun, peristiwa tersebut ikut memperkuat diskusi mengenai risiko teknologi AI dan pentingnya transparansi perusahaan yang mengembangkannya.
Jeff Bleich, utusan khusus internasional Anthropic, sebelumnya juga mengajak para pemimpin Australia mengambil peran dalam menentukan arah perkembangan teknologi AI. Australia dinilai memiliki kesempatan untuk ikut membentuk masa depan industri tersebut, selama mampu menyeimbangkan peluang ekonomi dan pengendalian risikonya.
Di tingkat masyarakat, pandangan terhadap proyek pusat data pun terbagi. Sebagian warga melihatnya sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian daerah. Namun, sebagian lainnya menilai potensi manfaat ekonomi tidak boleh mengorbankan sumber daya alam dan kepentingan masyarakat lokal.
Penolakan tersebut terlihat dari petisi yang telah mengumpulkan lebih dari 23.000 tanda tangan dan diajukan ke parlemen Queensland.
5. Persiapan IPO Anthropic membutuhkan kepercayaan publik
Di tengah kontroversi ekspansi Australia, Anthropic juga tengah mempersiapkan langkah besar di pasar modal melalui rencana IPO. Perusahaan tersebut disebut berpotensi mencapai valuasi US$1,5 triliun atau sekitar Rp24.750 triliun.
Angka tersebut menunjukkan tingginya ekspektasi terhadap bisnis AI dan peluang pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Anthropic sendiri dikenal sebagai pengembang Claude, chatbot AI yang bersaing di pasar teknologi kecerdasan buatan.
Namun, valuasi besar tidak otomatis membuat seluruh rencana bisnis perusahaan berjalan mulus. Ekspansi infrastruktur membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari pemerintah, penyedia energi, masyarakat sekitar, hingga lembaga yang bertanggung jawab mengawasi dampak lingkungan.
Untuk memperkuat hubungan dengan masyarakat Australia, Anthropic disebut menjanjikan investasi puluhan juta dolar AS di wilayah tempat perusahaan beroperasi. Perusahaan juga mencari seorang community engagement manager yang bertugas membangun komunikasi dan hubungan dengan masyarakat setempat.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyadari pentingnya penerimaan sosial dalam pembangunan infrastruktur teknologi. Sebuah proyek bisa memiliki modal besar dan dukungan mitra bisnis, tetapi tetap menghadapi hambatan apabila masyarakat yang tinggal di sekitarnya merasa tidak dilibatkan.
Di Dalby, kota terdekat dari lokasi proyek dengan populasi sekitar 12.000 orang, sebagian warga mengaku belum memperoleh informasi yang cukup mengenai rencana pembangunan. Bahkan, beberapa warga yang awalnya mendukung proyek mulai mempertanyakan kembali sikap mereka setelah mengikuti sesi informasi dari Zerra DC.
Di sisi lain, Wali Kota Western Downs, Andrew Smith, melihat industri AI sebagai kesempatan untuk mendiversifikasi perekonomian daerah. Ia berharap investasi tersebut dapat membantu pembangunan infrastruktur air, membuka lapangan pekerjaan, dan mendorong generasi muda kembali ke daerah asalnya.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah daerah dan otoritas terkait. Persetujuan pembangunan harus mempertimbangkan kelayakan proyek, dampak lingkungan, kebutuhan masyarakat, serta manfaat ekonomi yang dijanjikan.
Ekspansi AI tidak cukup hanya mengandalkan investasi besar
Rencana IPO Anthropic dan proyek Western Downs Digital Park memperlihatkan bahwa persaingan industri AI kini tidak hanya berlangsung di ranah perangkat lunak. Perusahaan juga membutuhkan pusat data, pasokan listrik, sistem pendingin, dan infrastruktur pendukung dalam skala besar.
Namun, pembangunan infrastruktur tersebut membawa konsekuensi nyata bagi wilayah tempat fasilitas didirikan. Kebutuhan air dan energi yang tinggi dapat memunculkan konflik kepentingan apabila tidak dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.
Bagi Australia, tantangannya bukan sekadar menerima atau menolak investasi senilai ratusan triliun rupiah. Pemerintah perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan ketersediaan air, stabilitas listrik, dan kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan ekspansi Anthropic tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengembangkan Claude atau memperoleh valuasi tinggi menjelang IPO. Kemampuan membangun kepercayaan publik juga akan menjadi faktor penting. Sebab, teknologi yang menjanjikan masa depan tetap harus mampu hidup berdampingan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Posting Komentar