Threads Ditegur Komdigi: Perlindungan Anak Tak Cukup dengan Memblokir Akun

Daftar Isi

 

Threads Ditegur Komdigi: Perlindungan Anak Tak Cukup dengan Memblokir Akun



Teguran Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kepada Meta terkait platform Threads seharusnya tidak dilihat sebagai persoalan administratif biasa. Di balik permintaan agar Meta segera menunjukkan komitmennya terhadap perlindungan anak, terdapat persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana platform media sosial seharusnya bertanggung jawab ketika produknya digunakan oleh pengguna yang masih berada di bawah umur.

Dalam konferensi pers mengenai perkembangan implementasi PP Tunas, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa Meta telah melaporkan sejumlah langkah perlindungan terhadap pengguna anak di Instagram dan Facebook. Meta disebut telah menonaktifkan 85.000 akun Instagram dan 99.000 akun Facebook milik pengguna di bawah 16 tahun. Selain itu, sebanyak 22,5 juta akun anak telah dialihkan ke Teen Account.

Di sisi lain, TikTok juga melaporkan peningkatan jumlah akun yang dinonaktifkan, dari sekitar 4 juta menjadi lebih dari 9 juta akun.

Angka-angka tersebut tentu menunjukkan bahwa platform digital mulai melakukan tindakan terhadap akun anak. Namun, Komdigi menegaskan bahwa jumlah akun yang ditindak bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perlindungan anak di ruang digital.

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Memblokir akun bukan berarti masalah selesai

Selama ini, perlindungan anak di media sosial sering kali dipahami secara sederhana: menemukan akun pengguna yang masih di bawah umur, kemudian menonaktifkannya.

Cara tersebut memang diperlukan. Tetapi apakah cukup?

Menurut saya, jawabannya jelas: tidak.

Media sosial bukan sekadar tempat seseorang membuat akun. Di dalamnya terdapat sistem rekomendasi, fitur komunikasi, notifikasi, algoritma, iklan, sistem pencarian, rekomendasi konten, serta berbagai mekanisme yang dirancang agar pengguna betah berlama-lama.

Artinya, ketika seorang anak masuk ke sebuah platform, persoalannya bukan hanya apakah anak tersebut memiliki akun atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah pengalaman seperti apa yang diberikan platform kepada anak tersebut.

Komdigi sendiri menyoroti berbagai risiko yang harus diperhatikan, mulai dari risiko kontak dengan orang asing, risiko konten, kecanduan, keamanan, perlindungan konsumen, kondisi fisik dan fisiologis, hingga kesehatan mental.

Ini merupakan pendekatan yang jauh lebih masuk akal.

Bayangkan saja sebuah platform berhasil memblokir jutaan akun anak, tetapi anak-anak tetap dapat membuat akun baru dengan mudah, berkomunikasi dengan orang asing, mendapatkan rekomendasi konten yang tidak sesuai usia, atau menerima notifikasi yang mendorong mereka terus membuka aplikasi.

Secara angka, platform tersebut mungkin terlihat berhasil.

Namun secara perlindungan, belum tentu.

Threads menjadi pertanyaan besar bagi Meta

Dalam konteks inilah teguran terhadap Threads menjadi penting.

Komdigi menyebut Meta belum memberikan laporan mengenai langkah penonaktifan akun anak di Threads. Berbeda dengan Instagram dan Facebook yang sudah melaporkan angka penindakan serta penerapan Teen Account, Threads disebut belum memberikan laporan serupa.

Bagi saya, ini menimbulkan pertanyaan sederhana: mengapa standar perlindungan anak harus berbeda antara satu platform Meta dan platform Meta lainnya?

Threads memang memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Instagram. Platform tersebut lebih berorientasi pada percakapan berbasis teks dan interaksi publik. Namun justru karena sifat interaksinya yang sangat terbuka, aspek komunikasi dengan orang yang tidak dikenal menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan secara serius.

Seorang pengguna muda tidak hanya berhadapan dengan konten yang muncul di beranda. Mereka juga berpotensi berinteraksi dengan banyak orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Karena itu, perlindungan anak seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, "Berapa banyak akun anak yang sudah diblokir?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Seberapa aman pengalaman anak ketika menggunakan platform tersebut?"

Baca juga : Ransomware as a Service: Ketika Kejahatan Siber Berubah Menjadi Bisnis

Teen Account bukan kartu bebas risiko

Langkah Meta mengalihkan jutaan akun anak ke Teen Account patut diapresiasi. Setidaknya terdapat upaya untuk memberikan perlakuan yang lebih sesuai terhadap pengguna remaja.

Namun, Komdigi belum menganggap Teen Account sebagai platform berisiko rendah.

Alasannya cukup masuk akal. Jika masih terdapat fitur komunikasi dengan orang yang tidak dikenal dan pengaturan yang belum cukup kuat untuk mengatasi risiko adiksi, maka keberadaan label "Teen Account" saja tidak otomatis membuat sebuah platform aman.

Ini merupakan hal yang sering dilupakan dalam pembicaraan mengenai keamanan digital.

Nama fitur tidak menentukan tingkat keamanannya.

Yang menentukan adalah bagaimana fitur tersebut bekerja.

Sebuah akun yang disebut sebagai akun remaja tetap bisa bermasalah apabila seorang anak masih dapat menerima interaksi dari orang asing, terpapar konten yang tidak sesuai, mendapatkan dorongan untuk terus menggulir layar, atau mengalami tekanan psikologis akibat lingkungan digital.

Dengan kata lain, safety by label tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah safety by design.

Platform harus dirancang sejak awal dengan mempertimbangkan bahwa sebagian penggunanya adalah anak-anak dan remaja.

Anak tidak seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab

Ada satu persoalan lain yang menurut saya penting.

Jangan sampai seluruh beban perlindungan anak justru diberikan kepada anak dan orang tua.

Kita sering mendengar nasihat seperti "orang tua harus mengawasi anak", "anak harus bijak menggunakan media sosial", atau "jangan menerima pesan dari orang asing".

Semua itu benar.

Tetapi perusahaan teknologi juga mempunyai tanggung jawab.

Jika sebuah platform memiliki kemampuan teknologi untuk mendeteksi pola perilaku, mengatur rekomendasi konten, membatasi komunikasi, mengelola notifikasi, dan mendeteksi akun berdasarkan usia, maka kemampuan tersebut semestinya digunakan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Orang tua tidak mungkin mengawasi layar anak selama 24 jam.

Anak juga belum tentu memiliki kemampuan psikologis untuk memahami seluruh risiko yang muncul dari sebuah platform.

Karena itu, perusahaan teknologi harus menjadi salah satu lapisan perlindungan.

Bukan satu-satunya lapisan, tetapi salah satu yang paling penting.

Persoalan adiksi juga tidak boleh dianggap sepele

Hal menarik dari pernyataan Komdigi adalah perhatian terhadap risiko kecanduan.

Ini penting karena pembahasan keamanan media sosial sering hanya berfokus pada konten berbahaya atau predator daring. Padahal desain aplikasi itu sendiri juga dapat memengaruhi perilaku pengguna.

Notifikasi, infinite scrolling, rekomendasi konten, dan berbagai mekanisme engagement dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.

Pada pengguna dewasa saja, mekanisme tersebut bisa membuat seseorang menghabiskan waktu terlalu lama di media sosial. Pada anak dan remaja, persoalannya bisa menjadi lebih kompleks karena kemampuan mengendalikan impuls dan mengatur penggunaan teknologi masih berkembang.

Karena itu, pembatasan waktu, pengaturan notifikasi, kontrol rekomendasi, serta fitur keselamatan lainnya bukan sekadar aksesori.

Semua itu merupakan bagian dari perlindungan pengguna muda.

Jangan hanya mengejar angka penindakan

Saya justru melihat laporan mengenai jutaan akun yang ditindak sebagai sesuatu yang harus dibaca secara hati-hati.

Angka besar memang terlihat impresif.

Namun angka penindakan tidak selalu menggambarkan tingkat keamanan sebuah platform.

Misalnya, sebuah platform memblokir satu juta akun anak. Pertanyaannya kemudian: berapa banyak akun anak yang masih lolos? Seberapa mudah mereka membuat akun baru? Apakah sistem verifikasi usia efektif? Apakah akun tersebut masih dapat berinteraksi dengan orang asing? Bagaimana algoritma rekomendasi bekerja terhadap pengguna muda?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar jumlah akun yang berhasil dinonaktifkan.

Karena itu, langkah Komdigi yang meminta Meta menunjukkan perubahan fitur merupakan pendekatan yang patut diperhatikan.

Pemerintah tidak hanya meminta perusahaan teknologi "membersihkan" platform setelah masalah terjadi, tetapi juga mendorong perubahan desain agar risiko dapat dikurangi sejak awal.

Meta perlu menunjukkan komitmen yang konsisten

Pada akhirnya, teguran terhadap Threads seharusnya tidak dipandang sebagai konflik antara pemerintah dan perusahaan teknologi.

Justru ini merupakan kesempatan bagi Meta untuk menunjukkan bahwa komitmen terhadap keamanan anak berlaku secara konsisten di seluruh ekosistem produknya.

Jika Instagram memiliki mekanisme perlindungan tertentu, pengguna tentu akan bertanya mengapa pendekatan yang setara tidak diterapkan pada Threads.

Meta memiliki sumber daya teknologi, pengalaman, serta kemampuan finansial yang sangat besar. Karena itu, ekspektasi terhadap perusahaan sebesar Meta juga wajar jika tinggi.

Perlindungan anak bukan sekadar persoalan memenuhi kewajiban regulasi.

Ini menyangkut kepercayaan publik.

Masa depan media sosial harus lebih ramah bagi anak

Teguran terhadap Threads pada akhirnya membawa kita pada persoalan yang lebih besar: seperti apa seharusnya media sosial di masa depan?

Menurut saya, jawabannya bukan dengan melarang seluruh anak menggunakan internet. Dunia digital sudah menjadi bagian dari pendidikan, komunikasi, hiburan, dan kehidupan sosial generasi muda.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem digital yang lebih bertanggung jawab.

Anak tetap dapat menggunakan teknologi, tetapi platform harus mempunyai pagar pengaman yang proporsional.

Orang tua tetap mempunyai peran, sekolah tetap mempunyai peran, pemerintah tetap mempunyai peran, dan perusahaan teknologi juga harus menjalankan tanggung jawabnya.

Karena itu, laporan jutaan akun yang dinonaktifkan memang patut diapresiasi. Namun pekerjaan sebenarnya belum selesai.

Threads yang belum memberikan laporan mengenai penanganan akun anak menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah bagi Meta.

Dan bagi pemerintah, tantangannya juga bukan hanya memberikan teguran. Pengawasan harus dilakukan secara konsisten agar aturan tidak berhenti sebagai dokumen formal.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perlindungan anak di media sosial bukanlah seberapa banyak akun yang telah diblokir.

Ukuran sebenarnya adalah seberapa kecil kemungkinan seorang anak mengalami risiko ketika menggunakan platform tersebut.

Jika Meta ingin menunjukkan komitmen, maka yang perlu diperlihatkan bukan hanya angka penindakan, melainkan perubahan nyata pada cara platform bekerja.

Sebab bagi anak-anak yang berada di balik jutaan akun tersebut, media sosial bukan sekadar aplikasi.

Itu adalah ruang tempat mereka berkomunikasi, belajar, mencari hiburan, dan membentuk dirinya.

Dan ruang sebesar itu sudah seharusnya dibuat seaman mungkin.

Posting Komentar