Siswi 17 Tahun Ciptakan Alat Pemadam Api Berbasis Suara, Raih Medali Emas di Indonesia

Daftar Isi

 

Siswi 17 Tahun Ciptakan Alat Pemadam Api Berbasis Suara, Raih Medali Emas di Indonesia



Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau perusahaan dengan anggaran penelitian miliaran rupiah. Terkadang, sebuah gagasan sederhana yang berangkat dari rasa penasaran justru mampu menarik perhatian dunia. Hal tersebut dibuktikan oleh Angela Karime Venegas Hernandez, siswi berusia 17 tahun asal Meksiko yang berhasil menciptakan alat pemadam api berbasis gelombang suara.

Melalui perangkat bernama Vortex Tech, Venegas mengembangkan teknologi yang dirancang untuk memadamkan api kecil menggunakan frekuensi suara rendah. Inovasi tersebut mengantarkannya meraih medali emas dalam Pameran Internasional Sains dan Penemuan yang berlangsung di Indonesia pada 14–16 Oktober 2026.

Prestasi ini menjadi pencapaian penting bagi Venegas sekaligus menunjukkan bagaimana pemahaman terhadap prinsip fisika dapat dikembangkan menjadi sebuah prototipe teknologi. Bersama pamannya, Jose Arturo Hernandez Munoz, ia melewati proses eksperimen, kegagalan, dan penyempurnaan sebelum menghasilkan perangkat yang menarik perhatian publik.

Lantas, bagaimana cara kerja Vortex Tech dalam memadamkan api? Apa yang membuat teknologi ini menarik, dan apakah gelombang suara benar-benar berpotensi menjadi alternatif metode pemadaman kebakaran konvensional?

1. Mengenal Vortex Tech, Alat Pemadam Api Berbasis Suara

Vortex Tech merupakan perangkat eksperimental yang dirancang untuk memadamkan api kecil dengan memanfaatkan gelombang akustik. Berbeda dari alat pemadam api konvensional yang menggunakan air, busa, bubuk kimia, atau gas tertentu, perangkat ini mengandalkan gangguan aliran udara yang dihasilkan oleh gelombang suara.

Ide tersebut muncul setelah Venegas menonton video yang memperlihatkan penggunaan meriam sonik untuk memadamkan api. Dalam video tersebut, ia melihat bagaimana gelombang akustik dapat digunakan untuk memengaruhi proses pembakaran.

Meriam sonik yang menjadi inspirasi awalnya dikaitkan dengan penelitian Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan Amerika Serikat atau DARPA. Perangkat yang dilihat Venegas memiliki ukuran sekitar empat meter dan menggunakan dorongan sonik untuk mengganggu nyala api.

Dari sana, Venegas tertarik membuktikan apakah prinsip serupa dapat diterapkan menggunakan perangkat yang lebih sederhana. Ia kemudian mengembangkan Vortex Tech bersama pamannya dengan tujuan awal menguji kemampuan gelombang suara dalam memadamkan nyala lilin.

Proyek ini memperlihatkan pendekatan yang menarik dalam eksperimen sains. Venegas tidak langsung berusaha membuat perangkat pemadam kebakaran berskala besar, tetapi memulai dari pengujian kecil yang lebih mudah diamati dan dievaluasi.

Pendekatan tersebut penting dalam pengembangan teknologi. Sebuah konsep yang terlihat menjanjikan tetap harus diuji melalui eksperimen agar peneliti dapat memahami batas kemampuan, kelemahan, dan kondisi yang diperlukan untuk membuatnya bekerja.

2. Bagaimana Gelombang Suara Bisa Memadamkan Api?

Prinsip kerja Vortex Tech berkaitan dengan hubungan antara gelombang akustik, pergerakan udara, dan proses pembakaran.

Api membutuhkan tiga unsur utama untuk terus menyala, yaitu bahan bakar, oksigen, dan panas. Ketiganya sering dijelaskan melalui konsep segitiga api. Jika salah satu unsur tersebut dihilangkan atau kondisi pembakaran terganggu secara memadai, api dapat padam.

Pada Vortex Tech, pendekatan yang digunakan bukan menyiram api dengan air, melainkan menghasilkan gelombang akustik yang memengaruhi aliran udara di sekitar nyala api.

Menurut informasi mengenai proyek tersebut, perangkat menghasilkan frekuensi rendah sekitar 30 hertz. Artinya, gelombang yang dihasilkan memiliki frekuensi 30 siklus per detik.

Gelombang tersebut kemudian diarahkan melalui lubang berbentuk lingkaran di ujung perangkat. Bentuk saluran ini dirancang untuk menghasilkan aliran udara menyerupai cincin pusaran atau vortex rings.

Cincin pusaran merupakan struktur aliran fluida yang bergerak menyerupai lingkaran atau donat. Fenomena ini dapat diamati pada berbagai peristiwa, mulai dari cincin asap hingga aliran udara yang dihasilkan perangkat tertentu.

Ketika aliran udara tersebut mencapai nyala api, gerakannya dapat mengganggu kestabilan pembakaran. Perubahan aliran udara di sekitar api bisa membantu mengurangi kondisi yang dibutuhkan untuk mempertahankan nyala.

Namun, mekanisme ini perlu dipahami secara tepat. Gelombang suara tidak secara otomatis menghilangkan seluruh oksigen di sekitar api. Efek pemadaman lebih berkaitan dengan gangguan aliran udara dan perubahan kondisi pembakaran. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh intensitas gelombang, jarak perangkat, ukuran api, dan lingkungan pengujian.

Karena itu, keberhasilan memadamkan lilin tidak serta-merta membuktikan bahwa teknologi yang sama mampu mengatasi kebakaran besar. Diperlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui batas penerapannya.

Baca juga : Cara Beli Obat dan Konsultasi dengan Dokter via Shopee, Praktis Tanpa Aplikasi Tambahan

3. Komponen yang Digunakan dalam Vortex Tech

Salah satu hal menarik dari Vortex Tech adalah penggunaan sejumlah komponen elektronik yang relatif mudah dikenali. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, perangkat ini terdiri dari baterai 12 volt, generator frekuensi, pengeras suara, amplifier, serta wadah berbentuk ember yang dimodifikasi menjadi semacam meriam.

Setiap komponen memiliki fungsi berbeda dalam menghasilkan dan mengarahkan gelombang akustik.

Baterai 12 volt berfungsi sebagai sumber energi untuk mengoperasikan sistem elektronik. Penggunaan sumber daya tersebut memungkinkan perangkat bekerja tanpa harus selalu bergantung pada sambungan listrik langsung, meskipun durasi pengoperasian tetap bergantung pada kapasitas baterai dan kebutuhan daya sistem.

Generator frekuensi digunakan untuk menghasilkan sinyal pada frekuensi yang ditentukan. Dalam eksperimen ini, frekuensi rendah menjadi bagian penting dari pendekatan yang dipilih untuk mengganggu nyala api.

Berikutnya, amplifier membantu memperkuat sinyal agar pengeras suara dapat menghasilkan keluaran akustik yang dibutuhkan. Sementara itu, pengeras suara mengubah sinyal listrik menjadi getaran yang menghasilkan gelombang suara.

Bagian terakhir adalah wadah berbentuk ember yang dimodifikasi menjadi saluran pengarah. Lubang berbentuk lingkaran di ujungnya membantu membentuk aliran udara yang diarahkan menuju api.

Kombinasi komponen tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak selalu membutuhkan perangkat yang sangat rumit. Dengan pemahaman yang baik tentang elektronika dan fisika, sejumlah komponen sederhana dapat dirangkai untuk menguji sebuah gagasan.

Meski begitu, merakit perangkat yang mampu menghasilkan suara kuat tetap membutuhkan perhatian terhadap keselamatan. Penggunaan pengeras suara berdaya tinggi dapat menimbulkan risiko gangguan pendengaran, sedangkan sistem elektronik membutuhkan perlindungan yang memadai terhadap panas dan hubungan arus pendek.

4. Dua Bulan Mengembangkan Prototipe hingga Berhasil Memadamkan Api

Di balik medali emas yang diraih Venegas, terdapat proses pengembangan yang tidak berlangsung secara instan. Ia bersama pamannya membutuhkan waktu sekitar dua bulan sejak tahap pengembangan awal hingga prototipe pertama mampu memadamkan api kecil, meskipun hasilnya masih sulit dicapai secara konsisten.

Tahap awal tersebut menjadi bagian penting dalam memahami karakteristik perangkat. Sebuah prototipe mungkin berhasil dalam satu percobaan, tetapi belum tentu memberikan hasil serupa ketika digunakan dalam kondisi berbeda.

Dalam eksperimen teknologi, perbedaan kecil pada posisi perangkat, jarak dari sumber api, kekuatan sinyal, atau bentuk saluran udara dapat memengaruhi hasil pengujian. Karena itu, pengembangan tidak cukup dilakukan hanya dengan membuat perangkat sekali lalu menganggapnya selesai.

Venegas dan pamannya terus melakukan pengujian serta perbaikan hingga menghasilkan prototipe kelima. Versi inilah yang kemudian menarik perhatian melalui penyebaran informasi dan video di media sosial.

Perjalanan tersebut menggambarkan proses iterasi, yaitu metode pengembangan dengan cara menguji, mengevaluasi kekurangan, melakukan perubahan, lalu menguji kembali hasilnya.

Metode seperti ini umum digunakan dalam rekayasa teknologi. Insinyur tidak selalu langsung menemukan desain terbaik pada percobaan pertama. Sebaliknya, mereka mempelajari hasil setiap pengujian untuk menentukan perubahan yang paling masuk akal.

Venegas juga menyampaikan apresiasi kepada pamannya yang memberikan waktu, tenaga, dan pendampingan selama proyek berlangsung. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pelajar yang sedang mengembangkan kemampuan ilmiahnya.

5. Dari Siswi Elektronika hingga Meraih Penghargaan Internasional

Angela Karime Venegas Hernandez merupakan siswi Centro de Estudios Tecnologicos, Industriales y de Servicios atau CETis 78 di Altamira, Tamaulipas, Meksiko.

Ketertarikannya terhadap sains tumbuh ketika menjalani semester kedua pendidikan menengah atas. Pada saat itu, ia mengambil spesialisasi elektronika, bidang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan akan menjadi minat utamanya.

Pengalaman mengembangkan Vortex Tech kemudian membuatnya semakin tertarik pada sains dan teknologi. Proyek tersebut memberinya kesempatan untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan persoalan nyata yang ingin diselesaikan melalui eksperimen.

Sebelum tampil di Indonesia, proyek Vortex Tech juga telah memperoleh penghargaan dalam kompetisi tingkat negara bagian dan nasional di Meksiko. Pencapaian tersebut membuka jalan bagi Venegas untuk mengikuti ajang internasional pada 14–16 Oktober 2026.

Di kompetisi tersebut, ia berhasil membawa pulang medali emas. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas gagasan dan kerja keras yang telah dilakukan bersama timnya.

Bagi Venegas, kemenangan tersebut bukan sekadar penghargaan. Ia memandangnya sebagai hasil dari sikap pantang menyerah, keyakinan terhadap ide yang dikembangkan, serta usaha untuk mewujudkannya menjadi prototipe nyata.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian. Pelajar dapat mulai mengembangkan kemampuan ilmiah melalui proyek yang sesuai dengan pengetahuan, fasilitas, dan pendampingan yang tersedia.

6. Berpotensi Menjadi Alternatif, tetapi Masih Memiliki Keterbatasan

Keberhasilan Vortex Tech memadamkan api kecil memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan penggunaan gelombang suara dalam penanganan kebakaran yang lebih luas.

Secara konsep, metode ini menarik karena tidak mengandalkan air atau bahan pemadam kimia sebagai mekanisme utama. Dalam situasi tertentu, pendekatan tanpa cairan mungkin layak diteliti untuk kebutuhan khusus, misalnya pada lingkungan yang sensitif terhadap air.

Namun, teknologi pemadam berbasis suara masih menghadapi berbagai tantangan sebelum dapat dipertimbangkan sebagai perangkat keselamatan yang digunakan secara luas.

Pertama, kemampuan memadamkan api perlu diuji pada berbagai jenis bahan bakar dan ukuran nyala. Api dari lilin memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran akibat minyak, bahan kimia, atau material bangunan.

Kedua, efektivitas perangkat dapat dipengaruhi oleh jarak, arah gelombang, aliran udara di lingkungan sekitar, serta tingkat kebisingan. Perangkat yang berhasil dalam kondisi laboratorium belum tentu memberikan hasil serupa di luar ruangan atau dalam lingkungan yang kompleks.

Ketiga, keselamatan pengguna harus menjadi prioritas. Gelombang suara dengan intensitas tinggi dapat membahayakan pendengaran. Perangkat juga perlu dirancang agar tidak menimbulkan risiko listrik atau bahaya tambahan ketika digunakan di dekat sumber panas.

Oleh sebab itu, Vortex Tech sebaiknya dipandang sebagai prototipe eksperimental yang menjanjikan, bukan pengganti langsung alat pemadam api standar. Untuk saat ini, pengguna tetap perlu mengandalkan perangkat pemadam yang sesuai dengan jenis kebakaran dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku.

7. Berharap Mendapat Dukungan untuk Mengembangkan Inovasi

Walaupun telah meraih penghargaan internasional, Venegas mengungkapkan bahwa belum ada pendekatan dari sektor publik maupun swasta untuk mengembangkan proyeknya lebih jauh.

Dukungan yang diterimanya sejauh ini berupa bantuan dana dari Gubernur Altamira Armando Martinez Manriquez dan Kementerian Pendidikan Tamaulipas. Bantuan tersebut digunakan untuk mendukung partisipasinya dalam berbagai pameran sains dan teknologi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Venegas berharap pengetahuan dan pengalamannya terus berkembang sehingga Vortex Tech dapat disempurnakan pada masa mendatang.

Dukungan terhadap inovasi pelajar memang tidak seharusnya berhenti setelah penghargaan diberikan. Prototipe yang berpotensi membutuhkan kesempatan untuk menjalani pengujian lebih terstruktur, pendampingan teknis, akses terhadap fasilitas laboratorium, serta evaluasi keselamatan.

Dengan dukungan yang tepat, gagasan awal seorang pelajar dapat berkembang menjadi proyek penelitian yang lebih matang. Bahkan jika pada akhirnya teknologi tersebut belum siap digunakan secara komersial, proses pengembangannya tetap dapat menghasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat.

Kesimpulan

Kisah Angela Karime Venegas Hernandez menunjukkan bagaimana rasa penasaran dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Berawal dari video mengenai meriam sonik, siswi berusia 17 tahun tersebut mengembangkan Vortex Tech bersama pamannya hingga berhasil meraih medali emas dalam kompetisi sains internasional di Indonesia.

Perangkat ini memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi rendah untuk menghasilkan aliran udara berbentuk cincin pusaran yang dapat mengganggu kestabilan nyala api kecil. Proses pengembangannya membutuhkan eksperimen, evaluasi, dan penyempurnaan prototipe secara berulang.

Walaupun masih memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas, Vortex Tech memperlihatkan bahwa konsep fisika dan elektronika dapat menjadi fondasi bagi inovasi yang menarik.

Lebih dari sekadar kemenangan dalam kompetisi, pencapaian Venegas menjadi pengingat bahwa penelitian ilmiah tidak harus selalu dimulai dari fasilitas besar. Dengan rasa ingin tahu, ketekunan, pendampingan, dan dukungan yang tepat, ide sederhana dapat berkembang menjadi karya yang membuka peluang baru dalam dunia sains dan teknologi.

Posting Komentar