NUS Ciptakan Layar Sentuh di Baju, Bisa Dicuci 50 Kali Tanpa Kehilangan Fungsi

Daftar Isi

 

NUS Ciptakan Layar Sentuh di Baju, Bisa Dicuci 50 Kali Tanpa Kehilangan Fungsi



Perkembangan teknologi wearable selama ini identik dengan jam tangan pintar, gelang kesehatan, atau perangkat elektronik yang dikenakan di tubuh. Namun, peneliti dari National University of Singapore (NUS) mencoba membawa konsep tersebut ke tingkat berikutnya dengan mengembangkan layar sentuh yang terintegrasi langsung ke dalam serat pakaian.

Teknologi ini memungkinkan kain menampilkan gambar dan video, merespons sentuhan jari, hingga terhubung secara nirkabel dengan perangkat lain. Menariknya, pakaian tersebut juga dirancang agar tetap fleksibel, nyaman digunakan, dan dapat dicuci menggunakan mesin cuci.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilaporkan tim peneliti, fungsi utama layar masih terjaga setelah 50 kali pencucian menggunakan deterjen dan 1.000 kali pembengkokan. Inovasi ini membuka peluang baru bagi perkembangan pakaian pintar yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga menjadi antarmuka digital.

Lantas, bagaimana cara kerja layar sentuh berbasis serat ini, apa saja kemampuannya, dan apakah teknologi tersebut berpotensi menggantikan layar perangkat konvensional?

1. NUS Mengembangkan Layar Sentuh yang Menyatu dengan Pakaian

Penelitian ini dipimpin oleh Assistant Professor Tural Khudiyev dari Department of Materials Science and Engineering, College of Design and Engineering, NUS. Timnya mengembangkan teknologi serat elektronik yang dapat dirangkai menjadi kain dan digunakan untuk menghadirkan antarmuka digital langsung pada pakaian.

Penelitian berjudul Touch-sensing digital pixel fibre enables interactive garment GUI tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 21 Oktober 2026, berdasarkan informasi dalam artikel sumber.

Berbeda dari layar smartphone atau laptop yang menggunakan panel elektronik terpisah, teknologi ini memanfaatkan serat khusus yang menggabungkan fungsi tampilan dan sensor sentuh. Serat-serat tersebut kemudian disusun menjadi bagian pakaian yang mampu menerima interaksi pengguna.

Dalam prototipe yang diperkenalkan, sebanyak 54 serat berpiksel dipasang pada bagian lengan pakaian. Susunan tersebut menghasilkan permukaan yang dapat menampilkan informasi sekaligus mengenali lokasi sentuhan.

Dengan pendekatan ini, pengguna tidak harus selalu berinteraksi melalui layar perangkat yang terpisah. Bagian pakaian yang dilengkapi serat elektronik dapat menjadi media untuk melihat informasi atau memberikan masukan kepada sistem.

Meski demikian, teknologi ini masih berupa prototipe penelitian. Kehadirannya belum berarti bahwa pakaian sehari-hari akan segera dilengkapi layar sentuh seperti smartphone. Masih ada aspek yang perlu dikembangkan, mulai dari resolusi, kemudahan produksi, hingga integrasi dengan berbagai perangkat digital.

2. Lebih dari 5.000 Chip Mikro Dimasukkan ke dalam Serat

Salah satu tantangan terbesar dalam menciptakan layar pada pakaian adalah bagaimana memasukkan komponen elektronik ke dalam material yang tipis dan fleksibel. Elektronik konvensional umumnya menggunakan papan sirkuit dan panel yang memiliki bentuk relatif kaku, sedangkan kain harus mampu mengikuti gerakan tubuh.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim NUS mengembangkan metode fabrikasi khusus yang memungkinkan ribuan chip mikro diintegrasikan ke dalam serat elektronik.

Proses pembuatannya melibatkan penggunaan laser untuk membuka titik sambungan pada kabel yang dilapisi bahan isolasi. Setelah titik tersebut disiapkan, solder cair digunakan untuk menghubungkan komponen elektronik pada lokasi yang telah ditentukan.

Melalui pendekatan tersebut, peneliti berhasil mengintegrasikan lebih dari 5.000 chip dan sekitar 20.000 sambungan listrik. Komponen-komponen ini kemudian dimasukkan ke dalam serat berlapis menggunakan teknik thermal drawing, yaitu proses pemanasan dan penarikan material untuk menghasilkan serat yang lebih panjang dan tipis.

Hasil akhirnya berupa serat elektronik dengan ketebalan sekitar satu milimeter dan panjang hingga 10 meter.

Di dalam serat tersebut terdapat lapisan LED digital serta sensor sentuh. Kombinasi keduanya memungkinkan satu bagian material menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni menampilkan cahaya dan mendeteksi interaksi pengguna.

Pendekatan ini penting karena elektronik tidak lagi harus dikumpulkan dalam satu panel besar. Komponen dapat didistribusikan sepanjang serat, kemudian disusun menjadi permukaan kain yang memiliki fungsi digital.

Meski begitu, proses fabrikasi yang melibatkan ribuan chip dan sambungan listrik juga menunjukkan bahwa produksi pakaian seperti ini membutuhkan teknologi manufaktur khusus. Efisiensi produksi dan biaya pembuatan masih menjadi faktor penting sebelum penerapannya dapat diperluas ke pasar konsumen.

Baca juga : 7 Layanan dan Brand Teknologi yang Ternyata Dimiliki Microsoft, dari LinkedIn hingga Minecraft

3. Memiliki Resolusi 96 x 54 Piksel dan Mendukung Video

Pada prototipe yang dikembangkan, 54 serat piksel dipasang pada bagian lengan pakaian. Setiap serat membawa 96 LED sehingga membentuk layar dengan resolusi keseluruhan 96 x 54 piksel.

Ukuran area tampilannya mencapai sekitar 168 x 105 milimeter. Layar tersebut juga memiliki kecepatan penyegaran 30 frame per detik dan kedalaman warna 8-bit.

Spesifikasi ini memungkinkan pakaian menampilkan berbagai informasi visual, termasuk gambar dan video. Namun, resolusinya masih jauh di bawah layar smartphone modern yang umumnya memiliki jutaan piksel.

Artinya, teknologi ini lebih tepat dipandang sebagai antarmuka digital eksperimental untuk informasi sederhana daripada pengganti langsung layar ponsel. Teks berukuran kecil, gambar dengan detail tinggi, atau video berkualitas tinggi tentu masih menghadapi keterbatasan pada resolusi tersebut.

Walaupun demikian, layar beresolusi rendah tetap dapat berguna untuk menampilkan simbol, petunjuk arah, notifikasi, dan informasi singkat. Dalam konteks pakaian pintar, kemampuan menyajikan informasi secara cepat bisa lebih penting daripada menghadirkan gambar dengan detail maksimal.

Kecepatan penyegaran 30 frame per detik juga membuat sistem dapat menampilkan konten bergerak. Hal ini memberikan fleksibilitas lebih besar dibandingkan kain yang hanya mampu menampilkan pola atau simbol statis.

Ke depannya, peningkatan jumlah piksel dapat membuka peluang untuk menghadirkan tampilan yang lebih tajam. Namun, peningkatan resolusi perlu diimbangi dengan efisiensi daya, pengelolaan panas, fleksibilitas serat, dan keandalan komponen.

4. Bisa Menjalankan Kalkulator, Kompas, hingga Terhubung melalui Bluetooth

Kemampuan prototipe NUS tidak terbatas pada menampilkan gambar. Sistem ini juga dirancang untuk menjalankan sejumlah fungsi digital yang biasanya ditemukan pada perangkat elektronik.

Berdasarkan informasi penelitian yang diberitakan, pengguna dapat mengakses kalkulator, membuka galeri foto, memutar video, dan menggunakan kompas. Sistem juga mendukung penerimaan gambar melalui koneksi Bluetooth.

Selain itu, layar dapat merespons perintah suara, mengubah orientasi tampilan, dan menyesuaikan tingkat kecerahan secara otomatis. Fitur-fitur ini menunjukkan bahwa pakaian tersebut dikembangkan sebagai antarmuka interaktif, bukan sekadar permukaan kain yang memancarkan cahaya.

Tim peneliti juga mengintegrasikan serat tambahan yang membawa mikrofon, speaker, serta berbagai sensor. Komponen tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi gerakan, menentukan arah utara magnetis, mengukur suhu, dan mengenali tingkat kecerahan lingkungan.

Salah satu penerapan yang menarik adalah penggunaan sensor suhu di bagian bawah lengan untuk membaca dan menampilkan temperatur tubuh pengguna. Informasi tersebut dapat disajikan melalui layar yang terpasang pada pakaian.

Namun, penting untuk membedakan kemampuan prototipe yang telah diuji dengan kemungkinan pengembangan pada masa depan. Kehadiran sensor suhu, misalnya, tidak otomatis menjadikan pakaian ini sebagai alat diagnosis medis. Akurasi pengukuran dan validitas data kesehatan tetap membutuhkan pengujian sesuai tujuan penggunaannya.

Begitu pula dengan fitur Bluetooth dan perintah suara. Keberadaan fungsi tersebut menunjukkan potensi interaksi digital, tetapi belum berarti seluruh fitur smartphone dapat dipindahkan ke dalam pakaian.

5. Tetap Berfungsi Setelah 50 Kali Dicuci

Salah satu persoalan utama dalam pengembangan elektronik berbasis kain adalah daya tahan. Pakaian sehari-hari mengalami berbagai kondisi yang tidak selalu bersahabat bagi komponen elektronik, mulai dari gesekan, peregangan, pembengkokan, air, hingga deterjen saat dicuci.

Jika komponen elektronik mudah rusak, pakaian pintar akan sulit digunakan dalam jangka panjang. Pengguna tentu tidak ingin melepas atau membongkar sistem elektronik setiap kali hendak mencuci baju.

Tim NUS berupaya menjawab tantangan tersebut dengan merancang serat elektronik yang tetap fleksibel sekaligus mampu mempertahankan fungsi digitalnya.

Berdasarkan pengujian yang dilaporkan, kemampuan pakaian untuk menampilkan cahaya dan merespons sentuhan hampir tidak berubah setelah melalui 50 kali pencucian menggunakan deterjen di mesin cuci.

Ketahanannya juga diuji melalui 1.000 kali pembengkokan dengan radius lima milimeter. Hasil pengujian menunjukkan bahwa fungsi utama layar tetap terjaga setelah mengalami perubahan bentuk secara berulang.

Temuan ini menjadi bagian penting dari penelitian karena menunjukkan bahwa integrasi elektronik ke dalam tekstil tidak selalu harus menghasilkan material yang kaku dan sulit dirawat.

Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti pakaian sudah terbukti tahan terhadap semua kondisi penggunaan. Ketahanan setelah 50 kali pencucian dalam pengujian tertentu belum otomatis menjamin daya tahan yang sama pada setiap jenis mesin cuci, program pencucian, suhu air, atau cara pengeringan.

Informasi mengenai petunjuk perawatan produk komersial nantinya tetap diperlukan jika teknologi ini dipasarkan secara luas.

6. Sirkulasi Udara dan Keselamatan Kulit Tetap Diperhatikan

Selain daya tahan, pakaian pintar juga harus memenuhi kebutuhan dasar sebagai tekstil. Pengguna tidak akan nyaman mengenakan pakaian yang terlalu panas, kaku, atau membuat kulit mudah mengalami iritasi.

Karena itu, tim peneliti turut mengevaluasi karakteristik material yang digunakan. Menurut informasi yang dipublikasikan, kemampuan sirkulasi udara pakaian tersebut sebanding dengan bahan tekstil seperti katun, poliester, dan denim.

Hasil ini penting karena pakaian dengan komponen elektronik berpotensi memiliki lapisan tambahan yang memengaruhi pertukaran udara. Jika sirkulasi udara terganggu, panas dan kelembapan dapat lebih mudah terperangkap di dekat kulit.

Tim peneliti juga menyatakan bahwa teknologi tersebut memenuhi batas keselamatan yang berlaku untuk kontak dengan kulit. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan elektronik yang dirancang untuk dikenakan secara langsung.

Walaupun demikian, kenyamanan penggunaan dalam jangka panjang masih perlu dinilai berdasarkan berbagai faktor, termasuk ukuran pakaian, kondisi cuaca, aktivitas fisik, dan sensitivitas kulit setiap pengguna.

Pengembangan berikutnya juga perlu mempertimbangkan cara merawat komponen elektronik, kebutuhan daya, serta bagaimana memastikan sistem tetap aman ketika digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

7. Berpotensi Digunakan untuk Pemantauan Kesehatan

Selain sebagai layar alternatif, teknologi serat elektronik ini berpotensi mendukung perkembangan pakaian pintar untuk pemantauan kesehatan.

Dengan mengintegrasikan berbagai sensor, pakaian dapat mengumpulkan informasi tertentu mengenai kondisi tubuh atau lingkungan pengguna. Data tersebut kemudian dapat ditampilkan langsung melalui antarmuka pada kain.

Assistant Professor Tural Khudiyev juga melihat peluang integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk menghadirkan pemantauan kesehatan yang lebih personal. Dalam skenario pengembangan tersebut, sistem dapat membantu mengolah data sensor dan menyajikan informasi atau umpan balik yang relevan bagi pengguna.

Sebagai contoh, pakaian pintar pada masa depan berpotensi menampilkan informasi suhu tubuh, perubahan gerakan, atau kondisi lingkungan tanpa mengharuskan pengguna membuka aplikasi di smartphone.

Namun, penerapan AI untuk analisis kesehatan masih merupakan arah pengembangan, bukan berarti seluruh kemampuan tersebut sudah tersedia pada prototipe saat ini. Penggunaan untuk tujuan medis juga memerlukan validasi, perlindungan data pribadi, serta pengujian keamanan yang sesuai.

Tim NUS berencana meningkatkan resolusi layar, menambahkan sensor, dan mengembangkan AI yang dapat berjalan langsung pada perangkat. Tujuannya adalah menyatukan tampilan, sentuhan, sensor, dan pemrosesan cerdas dalam satu platform tekstil.

Jika pengembangan tersebut berhasil, pakaian pintar berpotensi digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari olahraga, keselamatan kerja, hingga pemantauan aktivitas sehari-hari.

Kesimpulan

Teknologi layar sentuh berbasis serat yang dikembangkan NUS menunjukkan bahwa pakaian dapat berfungsi lebih dari sekadar pelindung tubuh. Dengan mengintegrasikan ribuan chip mikro, LED, dan sensor sentuh ke dalam serat fleksibel, peneliti berhasil menciptakan prototipe yang mampu menampilkan gambar, memutar video, menjalankan sejumlah fungsi digital, dan terhubung secara nirkabel.

Kemampuan bertahan setelah 50 kali pencucian dan 1.000 kali pembengkokan menjadi salah satu aspek menarik dari inovasi ini. Ditambah karakteristik sirkulasi udara dan perhatian terhadap keselamatan kontak kulit, teknologi tersebut menawarkan gambaran mengenai kemungkinan perkembangan tekstil elektronik pada masa depan.

Meski begitu, layar ini belum siap menggantikan smartphone atau menjadi fitur standar pakaian sehari-hari. Resolusi, biaya produksi, kebutuhan daya, dan ketahanan dalam penggunaan jangka panjang masih menjadi aspek yang perlu dikembangkan.

Untuk saat ini, inovasi NUS lebih tepat dipandang sebagai langkah penting menuju pakaian pintar yang mampu menggabungkan fungsi tekstil dan antarmuka digital. Jika berbagai tantangan teknis berhasil diatasi, baju di masa depan mungkin tidak hanya membantu manusia beraktivitas, tetapi juga menjadi media untuk mengakses informasi langsung dari tubuh mereka.

Posting Komentar