Kisah Tim Berners-Lee, Penemu World Wide Web yang Menolak Memonopoli Ciptaannya

Daftar Isi

 

Kisah Tim Berners-Lee, Penemu World Wide Web yang Menolak Memonopoli Ciptaannya



Bayangkan jika setiap kali membuka sebuah situs web, kita harus membayar royalti kepada penemu teknologi di baliknya. Atau, jika perusahaan ingin membuat browser sendiri, mereka harus membeli lisensi mahal agar bisa mengakses halaman internet. Kedengarannya merepotkan, bukan?

Untungnya, internet yang kita kenal sekarang berkembang melalui jalur yang berbeda. Salah satu tokoh penting di baliknya adalah Tim Berners-Lee, ilmuwan komputer asal Inggris yang menciptakan World Wide Web (WWW). Alih-alih menjadikan penemuannya sebagai sumber keuntungan eksklusif, ia justru memperjuangkan agar teknologi tersebut bisa digunakan secara luas tanpa biaya lisensi.

Keputusan itu menjadi salah satu momen penting dalam sejarah teknologi modern. Berkat sistem yang dikembangkan Berners-Lee bersama komunitas ilmiah, manusia kini bisa mengakses informasi, belajar, bekerja, berbisnis, dan berkomunikasi melalui halaman web yang saling terhubung.

Namun, perjalanan menuju internet modern tidak dimulai dari perusahaan teknologi raksasa atau ambisi menciptakan bisnis bernilai miliaran dolar. Semuanya berawal dari persoalan sederhana di sebuah pusat penelitian fisika di Eropa.

1. Berawal dari Masalah Berbagi Informasi di CERN

Tim Berners-Lee lahir di London, Inggris, pada 8 Juni 1955. Ia kemudian menekuni bidang fisika dan komputasi sebelum bergabung dengan CERN, organisasi penelitian fisika partikel yang berlokasi di dekat Jenewa, Swiss, pada 1980-an.

CERN menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dari berbagai negara untuk mempelajari pertanyaan mendasar tentang alam semesta. Penelitian mereka menghasilkan banyak informasi teknis, dokumen, catatan eksperimen, dan perangkat lunak yang perlu dibagikan kepada tim lain.

Masalahnya, informasi tersebut tersimpan dalam berbagai komputer dan sistem yang tidak selalu kompatibel. Seorang peneliti bisa saja mengetahui bahwa dokumen penting tersedia di komputer tertentu, tetapi kesulitan menemukan atau mengaksesnya. Ketika seseorang meninggalkan proyek, pengetahuan yang ia miliki juga berisiko sulit ditemukan oleh penerusnya.

Pada masa itu, internet sudah ada dan digunakan untuk komunikasi antarkomputer. Akan tetapi, internet belum menyediakan pengalaman menjelajahi dokumen yang saling terhubung semudah sekarang.

Berners-Lee melihat peluang untuk mengatasi persoalan tersebut. Ia membayangkan sistem informasi yang memungkinkan dokumen di komputer berbeda saling terhubung melalui tautan. Pengguna tidak perlu mengetahui seluruh struktur jaringan atau lokasi fisik setiap berkas untuk menemukan informasi yang dibutuhkan.

Pada Maret 1989, ia mengajukan proposal berjudul Information Management: A Proposal. Gagasannya belum langsung menjadi proyek besar. Atasannya, Mike Sendall, bahkan memberikan komentar singkat yang kemudian terkenal: gagasan itu masih samar, tetapi menarik.

Bersama perkembangan berikutnya dan dukungan rekan-rekan seperti Robert Cailliau, gagasan tersebut mulai diwujudkan menjadi proyek yang dikenal sebagai World Wide Web. https://home.cern/science/computing/the-birth-of-the-web/short-history-web/

2. World Wide Web Bukanlah Internet Itu Sendiri

Sebelum melanjutkan kisahnya, ada satu hal penting yang perlu dipahami: World Wide Web dan internet bukanlah dua istilah untuk hal yang sama.

Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan komputer dan perangkat melalui berbagai teknologi komunikasi. Sementara itu, World Wide Web adalah sistem untuk mengakses dan menghubungkan dokumen serta sumber daya informasi melalui jaringan tersebut.

Ibarat sebuah kota, internet adalah infrastruktur jalan yang menghubungkan berbagai tempat, sedangkan World Wide Web merupakan salah satu cara untuk mengunjungi perpustakaan, toko, kantor, dan bangunan lain di kota tersebut.

Internet juga memiliki layanan lain, seperti email dan transfer berkas, yang tidak bergantung pada halaman web sebagaimana kita mengenalnya sekarang.

Perbedaan ini penting karena Berners-Lee tidak menciptakan seluruh internet dari nol. Kontribusi utamanya adalah membangun sistem yang membuat informasi di internet lebih mudah ditemukan dan diakses melalui dokumen yang saling terhubung.

Untuk mewujudkan gagasannya, ia mengembangkan sejumlah komponen yang hingga kini menjadi fondasi penting teknologi web, termasuk HTML, HTTP, dan sistem alamat web yang dikenal melalui URL.

3. HTML, HTTP, dan URL: Tiga Fondasi Penting Web

Pada 1990, Berners-Lee mulai mengembangkan perangkat lunak WorldWideWeb menggunakan komputer NeXT. Ia juga membuat server web pertama dan browser yang dapat digunakan untuk membaca sekaligus menyunting dokumen.

Ketiga teknologi yang mendukung sistem tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi.

Baca juga : Cara Memperbaiki Konektor Charger Type-C yang Longgar dan Tidak Bisa Fast Charging

HTML: Bahasa untuk Menyusun Halaman Web

HTML atau HyperText Markup Language merupakan bahasa markup yang digunakan untuk menyusun struktur dokumen web. Melalui HTML, pembuat halaman dapat menentukan judul, paragraf, daftar, gambar, dan tautan menuju dokumen lain.

Keistimewaan HTML terletak pada konsep hypertext, yaitu teks yang dapat menghubungkan pembaca dengan informasi lain melalui tautan.

Sebelumnya, dokumen digital sering diperlakukan sebagai berkas terpisah. Dengan hypertext, sebuah dokumen dapat menjadi pintu masuk menuju banyak dokumen lain. Pengguna tinggal mengeklik tautan untuk berpindah dari satu informasi ke informasi berikutnya.

Konsep tersebut menjadi salah satu alasan web berkembang menjadi jaringan pengetahuan yang luas.

HTTP: Aturan Komunikasi antara Browser dan Server

HTTP merupakan singkatan dari Hypertext Transfer Protocol. Protokol ini mengatur bagaimana browser meminta sumber daya kepada server web dan bagaimana server memberikan respons.

Ketika seseorang membuka sebuah halaman web, browser mengirimkan permintaan kepada server. Server kemudian memproses permintaan tersebut dan mengirimkan respons yang dapat mencakup dokumen HTML, gambar, atau sumber daya lainnya.

Tanpa mekanisme komunikasi seperti HTTP, browser dan server tidak akan memiliki aturan umum yang sama untuk bertukar informasi melalui web.

Seiring waktu, HTTP terus berkembang untuk mendukung kebutuhan web yang semakin kompleks. Penggunaannya juga kini sering dilindungi melalui HTTPS, yaitu HTTP yang diamankan dengan enkripsi menggunakan TLS.

URL: Alamat untuk Menemukan Sumber Daya

URL adalah singkatan dari Uniform Resource Locator. Teknologi ini memungkinkan sumber daya di web dikenali melalui alamat tertentu.

Contohnya adalah https://example.com/artikel. Bagian awal menunjukkan skema komunikasi, sedangkan bagian berikutnya mengidentifikasi lokasi sumber daya yang dituju.

URL membuat pengguna tidak harus menghafal alamat fisik server atau memahami detail teknis jaringan setiap kali ingin membuka halaman tertentu.

Ketiga komponen tersebut membantu membentuk sistem yang sederhana tetapi sangat kuat. HTML menyusun dokumen, HTTP mengatur pertukaran data, dan URL membantu mengidentifikasi lokasi sumber daya.

Spesifikasi awal teknologi ini kemudian berkembang melalui kolaborasi komunitas dan organisasi standardisasi, sehingga browser dan server dari pengembang berbeda tetap dapat bekerja bersama. https://www.w3.org/about/history/

4. Situs Web Pertama Lahir di Komputer NeXT

Menjelang akhir 1990, Berners-Lee telah menjalankan server web dan browser awal di CERN. Ia juga membuat situs web pertama yang berfungsi menjelaskan proyek World Wide Web itu sendiri.

Situs tersebut menggunakan alamat info.cern.ch dan memuat informasi mengenai konsep web, cara mengakses dokumen, serta petunjuk untuk menjalankan server web.

Jika dibandingkan dengan situs masa kini, tampilannya sangat sederhana. Belum ada desain modern, animasi kompleks, video otomatis, atau antarmuka penuh warna yang biasa ditemukan pada halaman web sekarang.

Namun, kesederhanaan itu justru mencerminkan tujuan awal web: membantu orang menemukan dan membagikan informasi dengan mudah.

Komputer NeXT yang digunakan sebagai server pertama tersebut bahkan ditempeli tulisan peringatan agar tidak dimatikan secara tidak sengaja. Detail kecil ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang kelak mengubah dunia pada awalnya dibangun melalui eksperimen yang relatif sederhana.

Pada 1991, web mulai diperkenalkan kepada komunitas yang lebih luas di luar CERN. Browser lain kemudian dikembangkan agar teknologi ini dapat digunakan pada berbagai sistem komputer.

Perkembangan browser grafis, termasuk Mosaic pada 1993, turut membantu web menjangkau pengguna yang lebih luas. Web perlahan berubah dari alat berbagi informasi di lingkungan penelitian menjadi teknologi yang dapat digunakan masyarakat umum. https://home.cern/science/computing/the-birth-of-the-web/short-history-web/

5. Keputusan Besar pada 1993: Membuka Web untuk Semua Orang

Salah satu bagian paling penting dari kisah Berners-Lee terjadi pada 30 April 1993.

Pada tanggal tersebut, CERN mengumumkan bahwa perangkat lunak web yang dikembangkannya dilepas ke domain publik. Keputusan itu memungkinkan siapa pun menggunakan, menggandakan, memodifikasi, dan mendistribusikan kode yang dirilis tanpa harus membayar biaya lisensi kepada CERN.

Keputusan tersebut bukan berarti Berners-Lee sendirian menandatangani pelepasan seluruh teknologi web atas namanya sendiri. CERN sebagai institusi mengambil keputusan resmi, sementara Berners-Lee dan Robert Cailliau turut mendorong agar teknologi itu dapat dimanfaatkan secara luas.

Langkah tersebut sangat penting karena web masih berada dalam tahap awal pertumbuhan. Jika akses terhadap perangkat lunak dasarnya dibatasi oleh biaya lisensi atau kepemilikan eksklusif, pengembang mungkin akan menghadapi hambatan tambahan ketika membangun browser, server, dan layanan baru.

Sebaliknya, dengan membuka perangkat lunak web, CERN membantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan berbagai pihak berinovasi tanpa harus meminta izin komersial untuk setiap penggunaan kode yang dilepas tersebut.

Perlu dicatat, kebijakan domain publik pada 1993 terutama menyangkut perangkat lunak web yang dirilis CERN. Pada 1994, CERN juga menggunakan lisensi terbuka untuk rilis berikutnya. Jadi, sejarahnya bukan sekadar cerita tentang satu orang yang menolak mematenkan seluruh teknologi internet, melainkan tentang keputusan institusional untuk menghindari pembatasan eksklusif terhadap fondasi web. https://home.web.cern.ch/news/news/computing/30-years-free-and-open-web?trk=feed_main-feed-card_feed-article-content

6. Mengapa Tidak Menjadikan Web sebagai Mesin Uang?

Dari sudut pandang bisnis, keputusan membuka teknologi yang berpotensi digunakan miliaran orang mungkin terdengar tidak masuk akal. Bayangkan jika setiap browser, situs web, atau perusahaan internet harus membayar royalti untuk menggunakan teknologi dasar yang sama.

Namun, nilai sebuah teknologi tidak selalu ditentukan oleh besarnya biaya lisensi yang dapat dikumpulkan penciptanya.

Web justru mendapatkan kekuatannya dari kemampuan berbagai pihak untuk membangun sesuatu di atas fondasi yang sama. Universitas dapat menerbitkan hasil penelitian, perusahaan dapat membuka toko daring, pengembang dapat menciptakan layanan baru, dan individu dapat membuat situs pribadi.

Semua pihak memiliki kesempatan berpartisipasi tanpa harus menggunakan satu produk milik perusahaan tertentu sebagai satu-satunya pintu masuk ke web.

Keterbukaan juga mendorong persaingan. Browser dapat dikembangkan oleh berbagai organisasi, server dapat dibuat dengan beragam perangkat lunak, dan standar web dapat diperbaiki melalui kolaborasi.

Tentu saja, web gratis bukan berarti seluruh aktivitas internet tidak membutuhkan biaya. Pengguna masih mungkin membayar koneksi internet, hosting, perangkat, layanan berlangganan, atau konten premium. Perusahaan juga dapat memperoleh keuntungan melalui iklan dan layanan digital.

Yang dibuka adalah fondasi teknologi web itu sendiri, bukan seluruh layanan yang dibangun di atasnya.

Perbedaan tersebut menjadi kunci untuk memahami warisan Berners-Lee: akses terbuka terhadap teknologi dasar dapat berjalan berdampingan dengan beragam model bisnis.

7. Mendirikan W3C untuk Menjaga Masa Depan Web

Setelah web mulai berkembang pesat, muncul tantangan baru. Browser dan perusahaan yang berbeda membutuhkan standar bersama agar situs dapat berfungsi secara konsisten di berbagai perangkat.

Pada 1994, Berners-Lee mendirikan World Wide Web Consortium atau W3C di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dengan dukungan berbagai organisasi. Tujuannya adalah mengembangkan standar terbuka yang membantu memastikan web tetap interoperabel.

Interoperabilitas berarti sistem dari pengembang berbeda dapat bekerja bersama. Sebuah situs tidak seharusnya hanya dapat dibuka melalui satu browser tertentu karena pemiliknya menguasai teknologi yang digunakan.

Melalui W3C dan ekosistem standardisasi web yang lebih luas, spesifikasi teknis terus dikembangkan agar web dapat mengikuti perubahan kebutuhan, mulai dari aksesibilitas hingga kompatibilitas perangkat.

Berners-Lee juga terus menyuarakan pentingnya web sebagai ruang yang terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, keberhasilan web tidak hanya berkaitan dengan jumlah pengguna, tetapi juga dengan kesempatan orang untuk mengakses informasi dan berpartisipasi di dalamnya.

Meski demikian, keterbukaan standar tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan internet. Konsentrasi kekuatan perusahaan, penyalahgunaan data pribadi, disinformasi, dan kesenjangan akses tetap menjadi tantangan yang memerlukan solusi lebih luas.

8. Warisan Tim Berners-Lee bagi Dunia Digital

Saat ini, World Wide Web menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk belajar, membaca berita, mencari pekerjaan, menjalankan bisnis, mengakses layanan publik, hingga membangun hubungan sosial.

Sulit membayangkan perkembangan ekonomi digital tanpa fondasi web yang memungkinkan informasi dipublikasikan dan diakses secara luas.

Warisan Berners-Lee tidak hanya terletak pada HTML, HTTP, URL, atau browser pertama yang ia kembangkan. Kontribusi terbesarnya juga tercermin dalam keputusan untuk mendukung ekosistem yang terbuka, tempat orang lain dapat mengembangkan teknologi tanpa harus memperoleh izin eksklusif dari satu pemilik.

Seandainya web berkembang sebagai sistem tertutup, sejarah internet mungkin akan berbeda. Inovasi bisa saja tetap terjadi, tetapi hambatan biaya dan lisensi berpotensi membuat perkembangannya lebih sulit dijangkau oleh sebagian pengembang, lembaga pendidikan, maupun masyarakat.

Kita tentu tidak bisa memastikan bagaimana dunia akan terlihat jika keputusan CERN pada 1993 berbeda. Namun, sejarah menunjukkan bahwa pelepasan perangkat lunak web secara terbuka membantu mempercepat penyebarannya.

Pada akhirnya, kisah Tim Berners-Lee mengajarkan bahwa penemuan besar tidak selalu harus dimaksimalkan sebagai sumber keuntungan eksklusif. Dalam kasus World Wide Web, membuka kesempatan bagi banyak orang untuk membangun, berbagi, dan berinovasi menjadi bagian penting dari keberhasilannya.

Dari sebuah proposal sederhana di CERN hingga jaringan informasi global, web membuktikan bahwa teknologi dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika fondasinya dirancang untuk digunakan bersama.

Posting Komentar