4 HP Lipat yang Bentuknya Mirip Paspor, iPhone Duo Ternyata Bukan yang Pertama
4 HP Lipat yang Bentuknya Mirip Paspor, iPhone Duo Ternyata Bukan yang Pertama
Pasar ponsel lipat kembali kedatangan desain baru yang cukup menarik perhatian. Setelah selama beberapa tahun konsumen akrab dengan ponsel lipat model clamshell seperti Galaxy Z Flip dan model book-style seperti Galaxy Z Fold, kini muncul tren wide foldable yang menawarkan bentuk lebih lebar ketika perangkat dibuka.
Salah satu ponsel yang membawa pendekatan tersebut adalah iPhone Duo. Apple memperkenalkan perangkat ini pada 9 September 2026 sebagai langkah pertamanya memasuki pasar ponsel lipat.
Alih-alih menggunakan layar dalam yang memanjang seperti sebagian besar ponsel lipat model buku, iPhone Duo mempunyai layar utama dengan rasio yang mendekati 4:3. Bentuknya ketika dibuka pun lebih menyerupai sebuah tablet kecil atau paspor yang dibentangkan.
Menariknya, Apple ternyata bukan perusahaan pertama yang mencoba konsep tersebut. Sebelum iPhone Duo muncul, sejumlah produsen Android sudah lebih dulu bereksperimen dengan layar lipat berukuran lebar.
Beberapa di antaranya bahkan sudah menggunakan konfigurasi layar yang sangat mirip dengan konsep iPhone Duo.
Berikut empat ponsel lipat yang memiliki desain menyerupai paspor.
1. iPhone Duo
iPhone Duo menjadi salah satu contoh terbaru dari tren wide foldable. Apple merancang perangkat ini dengan layar luar berukuran 5,4 inci dan layar utama berukuran 7,6 inci.
Layar dalam tersebut memiliki rasio yang mendekati 4:3. Alhasil, ketika perangkat dibuka sepenuhnya, bentuknya terlihat jauh lebih lebar dibandingkan Galaxy Z Fold generasi sebelumnya yang cenderung memanjang.
Konsep tersebut membuat iPhone Duo berada di antara smartphone dan tablet berukuran kecil. Pengguna dapat menggunakan layar luar untuk aktivitas sehari-hari seperti membaca pesan, membuka aplikasi atau melakukan berbagai pekerjaan ringan.
Ketika membutuhkan bidang layar yang lebih luas, perangkat cukup dibuka untuk mengakses layar utama.
Pendekatan ini juga memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan ponsel lipat book-style konvensional. Layar utama yang lebih lebar secara teori dapat memberikan ruang yang lebih nyaman untuk multitasking, membaca dokumen, menjelajahi web, hingga menjalankan aplikasi yang membutuhkan area tampilan besar.
Apple juga membekali perangkat ini dengan dukungan stylus. Kamera depan pada layar utama ditempatkan di bawah layar sehingga tidak membutuhkan lubang kamera konvensional yang dapat mengganggu area tampilan.
Untuk fotografi, iPhone Duo membawa kamera utama 48 MP dengan sensor berukuran 1/1,28 inci, aperture f/1.6, dan sensor-shift optical image stabilization atau OIS.
Kamera tersebut ditemani kamera ultrawide 48 MP dengan sudut pandang 120 derajat.
Dari sisi fisik, iPhone Duo memiliki ketebalan sekitar 11,3 mm ketika dilipat dan bobot mencapai 254 gram. Perangkat ini dijadwalkan mulai tersedia pada akhir Oktober 2026.
Dengan desain tersebut, Apple memang menghadirkan identitas visual yang berbeda dari iPhone biasa. Namun, konsep layarnya sebenarnya sudah pernah dicoba oleh sejumlah produsen Android.
2. Samsung Galaxy Z Fold 8
Samsung merupakan salah satu perusahaan yang paling lama mengembangkan kategori ponsel lipat. Pada Galaxy Z Fold 8, perusahaan asal Korea Selatan tersebut mulai membawa perangkatnya ke arah desain yang lebih lebar.
Galaxy Z Fold 8 memiliki layar luar berukuran 5,5 inci. Ketika dibuka, pengguna mendapatkan layar utama 7,8 inci dengan rasio sekitar 4:3.
Dengan konfigurasi tersebut, bentuk Galaxy Z Fold 8 ketika terbuka semakin menyerupai sebuah tablet mini dengan orientasi landscape, bukan sekadar smartphone yang diperbesar secara vertikal.
Menariknya, Galaxy Z Fold 8 memiliki bodi yang lebih tipis dan ringan dibandingkan iPhone Duo.
Ketebalannya berada di angka 9,7 mm dengan bobot sekitar 201 gram. Sebagai perbandingan, iPhone Duo memiliki ketebalan 11,3 mm dan bobot 254 gram.
Samsung juga menggunakan Flex Titanium sebagai salah satu material pada perangkat ini.
Untuk fotografi, Galaxy Z Fold 8 mempunyai kamera utama 50 MP dengan sensor 1/1,56 inci dan OIS. Kamera tersebut ditemani kamera ultrawide 50 MP dengan sudut pandang 120 derajat.
Sektor daya ditopang baterai 4.800 mAh. Pengisian daya kabelnya mencapai 45 watt, sedangkan pengisian nirkabel mendukung hingga 20 watt.
Kombinasi layar lebar, bodi relatif ringan, dan kemampuan multitasking menjadi bagian penting dari konsep Galaxy Z Fold 8.
Baca juga : Instagram Hadirkan AI untuk Analisis Reels dan Cari Ide Konten Kreator
3. Xiaomi 18 Fold
Tidak lama sebelum iPhone Duo diperkenalkan, Xiaomi juga menghadirkan ponsel lipat dengan konsep wide foldable melalui Xiaomi 18 Fold.
Perangkat ini mempunyai layar luar 5,38 inci dan layar dalam 7,58 inci. Layar utamanya memiliki rasio 3:2 sehingga tampilannya lebih lebar ketika perangkat dibuka.
Secara fisik, Xiaomi 18 Fold memiliki ketebalan 10,7 mm dan bobot sekitar 219 gram. Ukuran tersebut membuatnya berada di antara desain foldable konvensional dan konsep wide foldable yang semakin populer.
Xiaomi juga memberikan perhatian besar pada sektor kamera.
Kamera utama perangkat ini mempunyai resolusi 200 MP dengan sensor 1/1,56 inci serta OIS. Kamera tersebut ditemani kamera telefoto 50 MP yang mendukung optical zoom 3,5x dan kamera ultrawide 50 MP.
Konfigurasi tersebut membuat Xiaomi 18 Fold tidak hanya mengandalkan bentuk layar sebagai daya tarik.
Baterainya juga cukup besar untuk ukuran perangkat lipat. Xiaomi membekali ponsel ini dengan baterai 6.000 mAh, lengkap dengan pengisian cepat 67 watt melalui kabel dan 50 watt secara nirkabel.
Dari sisi kapasitas baterai, angka tersebut bahkan menunjukkan bagaimana produsen mencoba mengatasi salah satu tantangan utama ponsel lipat, yakni kebutuhan daya dari dua layar.
4. Huawei Pura X Max
Huawei juga sudah lama bereksperimen dengan konsep wide foldable melalui keluarga Pura X.
Pura X Max memiliki layar luar berukuran 5,4 inci dan layar dalam 7,7 inci dengan rasio 4:3. Konsep tersebut membuatnya memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan ponsel lipat model buku pada umumnya.
Bahkan, Huawei termasuk salah satu perusahaan yang lebih dahulu mencoba pendekatan ini melalui Pura X generasi sebelumnya.
Secara konsep, Pura X berada di antara ponsel lipat model clamshell dan book-style. Ketika dibuka, perangkat menghasilkan layar yang lebih lebar dan mendekati bentuk persegi panjang dengan orientasi horizontal.
Untuk fotografi, Pura X Max mengandalkan kamera utama 50 MP dengan aperture variabel f/1.4 hingga f/4.0.
Kamera tersebut ditemani kamera periskop 50 MP dengan kemampuan pembesaran optis 3,5x serta kamera ultrawide 12,5 MP.
Huawei membekali perangkat dengan baterai 5.300 mAh. Pengisian cepatnya mencapai 66 watt melalui kabel dan 50 watt secara nirkabel.
Namun, ada satu kendala besar bagi konsumen internasional. Seri Pura X memiliki ketersediaan yang terbatas dan tidak dipasarkan secara luas di luar China.
Dari sisi ukuran, Pura X Max mempunyai ketebalan sekitar 11,5 mm ketika dilipat dan bobot 229 gram.
Google dan Oppo Juga Pernah Mencoba
Tren wide foldable sebenarnya bukan fenomena yang baru muncul pada 2026.
Google Pixel Fold generasi pertama, misalnya, sudah mempunyai pendekatan yang berbeda dari Galaxy Z Fold pada masa itu. Perangkat tersebut membawa layar luar 5,8 inci dan layar dalam 7,6 inci dengan rasio sekitar 3,6:3.
Oppo juga pernah mencoba konsep serupa melalui Find N generasi pertama.
Oppo Find N mempunyai layar luar 5,49 inci dan layar dalam 7,1 inci dengan rasio sekitar 3,2:3. Generasi berikutnya, Find N2, masih mempertahankan pendekatan tersebut dengan layar luar 5,54 inci dan layar dalam 7,1 inci.
Meski belum sepenuhnya sama dengan wide foldable terbaru seperti iPhone Duo, Galaxy Z Fold 8, Xiaomi 18 Fold, atau Huawei Pura X Max, desain tersebut menunjukkan bahwa produsen Android sebenarnya sudah bereksperimen dengan konsep layar yang lebih lebar sejak beberapa tahun lalu.
Namun, Google dan Oppo kemudian mengubah arah desain pada generasi berikutnya. Keduanya beralih menuju bentuk book-style dengan layar yang lebih besar dan memanjang.
Mengapa Bentuk "Paspor" Mulai Menarik?
Perubahan desain tersebut menunjukkan bahwa produsen ponsel lipat masih mencari bentuk yang paling ideal untuk perangkat layar besar.
Ponsel lipat model buku memang memungkinkan layar smartphone berubah menjadi tablet. Namun, layar dalam yang terlalu tinggi dan sempit juga mempunyai konsekuensi tertentu ketika digunakan untuk membaca, menonton video, menjalankan aplikasi, atau multitasking.
Wide foldable mencoba menawarkan pendekatan berbeda.
Dengan layar dalam mendekati rasio 4:3 atau 3:2, bidang layar menjadi lebih seimbang. Pengguna mendapatkan ruang horizontal yang lebih besar ketika menjalankan dua aplikasi secara berdampingan atau membaca dokumen.
Di sisi lain, desain tersebut juga membawa kompromi. Bodi yang lebih lebar ketika dibuka harus tetap nyaman digunakan ketika dilipat. Produsen pun harus memperhitungkan ketebalan, bobot, mekanisme engsel, kapasitas baterai, dan ukuran layar luar secara bersamaan.
Karena itu, belum tentu satu bentuk akan menggantikan bentuk lainnya.
Kemunculan iPhone Duo justru memperlihatkan bahwa desain wide foldable masih menjadi salah satu eksperimen menarik dalam perkembangan ponsel lipat.
Apple memang baru memasuki pasar tersebut pada 2026, tetapi perusahaan seperti Huawei, Oppo, Google, Samsung, dan Xiaomi sudah lebih dulu mencoba berbagai pendekatan.
Jadi, jika iPhone Duo terlihat seperti paspor ketika dibuka, desain tersebut sebenarnya bukanlah ide yang benar-benar baru. Yang menarik adalah bagaimana Apple menerjemahkan konsep wide foldable tersebut ke dalam ekosistem iPhone dan apakah pendekatan ini nantinya akan menjadi salah satu bentuk standar baru untuk ponsel lipat.

Posting Komentar