10 Emiten dengan Jaringan Kabel Fiber Optik Terpanjang di Indonesia, Siapa Juaranya?
10 Emiten dengan Jaringan Kabel Fiber Optik Terpanjang di Indonesia, Siapa Juaranya?
Di balik aktivitas internet yang kita gunakan setiap hari, terdapat infrastruktur besar yang membentang melintasi berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari membuka media sosial, melakukan panggilan video, mengakses layanan perbankan digital, hingga menjalankan pusat data, semuanya membutuhkan jaringan telekomunikasi yang mampu mengirimkan informasi dengan cepat dan stabil. Salah satu infrastruktur terpenting untuk mendukung kebutuhan tersebut adalah kabel fiber optik.
Fiber optik merupakan media transmisi yang menggunakan serat kaca atau plastik untuk mengirimkan data dalam bentuk sinyal cahaya. Teknologi ini mampu membawa data dalam kapasitas besar dengan kecepatan tinggi serta tingkat gangguan elektromagnetik yang relatif rendah. Tidak mengherankan jika perusahaan telekomunikasi, penyedia infrastruktur menara, hingga pengelola jaringan internet terus memperluas bentangan fiber optik mereka.
Di Indonesia, sejumlah perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki jaringan fiber optik dengan panjang mencapai puluhan hingga ratusan ribu kilometer. Beberapa di antaranya bahkan mengoperasikan infrastruktur yang menghubungkan wilayah domestik dan internasional.
Namun, menentukan perusahaan dengan jaringan terpanjang tidak sesederhana membandingkan angka kilometer. Setiap perusahaan memiliki metode pelaporan, cakupan jaringan, periode pengukuran, dan struktur kepemilikan yang berbeda. Berikut gambaran sejumlah emiten yang memiliki jaringan fiber optik berskala besar di Indonesia.
1. Telkom Indonesia Memiliki Backbone hingga 211.121 Kilometer
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu perusahaan dengan pengungkapan jaringan fiber optik terbesar. Pada semester I 2026, Telkom melaporkan jaringan backbone sepanjang 211.121 kilometer.
Jaringan tersebut terdiri atas 115.921 kilometer jaringan domestik dan 95.200 kilometer jaringan internasional. Komposisi ini memperlihatkan luasnya infrastruktur yang dimiliki Telkom untuk mendukung komunikasi dan pertukaran data, baik di dalam negeri maupun lintas negara.
Backbone merupakan jaringan utama yang berfungsi menghubungkan berbagai jaringan yang lebih kecil. Infrastruktur ini menjadi jalur penting bagi pengiriman trafik internet dalam kapasitas besar, termasuk komunikasi antarkota dan konektivitas menuju pusat data.
Dengan jaringan domestik dan internasional tersebut, Telkom memiliki peran strategis dalam ekosistem telekomunikasi Indonesia. Infrastruktur backbone juga menjadi fondasi bagi berbagai layanan digital yang membutuhkan koneksi berkapasitas tinggi.
2. XL Axiata Mencatat 195.000 Kilometer Kabel Serat Optik
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) juga masuk dalam kelompok perusahaan dengan jaringan fiber optik berskala besar.
Berdasarkan laporan tahunan XL Axiata 2024, sebelum perusahaan tersebut bergabung dalam proses merger menjadi XLSMART, XL Axiata mencatat total kabel serat optik sepanjang 195.000 kilometer.
Angka ini perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan data historis XL Axiata pada 2024. Dengan demikian, angka tersebut tidak otomatis menggambarkan keseluruhan jaringan XLSMART setelah merger.
Meski begitu, data tersebut menunjukkan besarnya infrastruktur fiber optik yang sebelumnya telah dibangun untuk mendukung layanan telekomunikasi XL Axiata. Jaringan serat optik memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai elemen jaringan seluler, termasuk menara telekomunikasi dan fasilitas pendukung lainnya.
Baca juga : Google Rilis Gemini 4 Carbon, AI Terkuat untuk Coding dan Keamanan Siber
3. Mora Memiliki Jaringan Fiber Optik Lebih dari 183.000 Kilometer
PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) turut menjadi salah satu pemain besar dalam bisnis infrastruktur fiber optik.
Melalui situs resminya, perusahaan mencantumkan total jaringan fiber optik lebih dari 183.000 kilometer. Skala tersebut menempatkan MORA dalam kelompok perusahaan dengan bentangan jaringan yang sangat luas.
Jaringan fiber optik menjadi aset penting bagi perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi karena dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kebutuhan konektivitas. Selain menghubungkan pelanggan, jaringan tersebut juga dapat menjadi jalur transmisi bagi operator dan perusahaan lain yang membutuhkan kapasitas komunikasi data.
Besarnya jaringan yang dimiliki juga memperlihatkan bahwa bisnis fiber optik tidak hanya dijalankan oleh operator seluler atau penyedia internet rumah. Perusahaan infrastruktur khusus memiliki peran tersendiri dalam menyediakan jalur komunikasi bagi berbagai pelaku industri.
4. Sarana Menara Nusantara Memiliki Aset Fiber Sekitar 182.600 Kilometer
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) merupakan perusahaan yang dikenal melalui bisnis infrastruktur telekomunikasi, khususnya menara. Namun, perusahaan ini juga memiliki aset jaringan fiber optik dalam skala besar.
Pada semester I 2026, TOWR melaporkan aset fiber nasional sepanjang sekitar 182.600 kilometer.
Infrastruktur tersebut mendukung berbagai layanan konektivitas, termasuk fiber-to-the-tower (FTTT) dan fiber-to-the-home (FTTH). FTTT merupakan konsep penggunaan jaringan fiber optik untuk menghubungkan menara telekomunikasi dengan jaringan utama. Sementara itu, FTTH menghubungkan jaringan fiber hingga ke lokasi pelanggan, seperti rumah atau bangunan.
Kepemilikan jaringan fiber membuat perusahaan menara tidak hanya bergantung pada penyewaan lokasi untuk perangkat telekomunikasi. Infrastruktur konektivitas juga menjadi bagian penting dari layanan yang dapat ditawarkan kepada pelanggan korporasi maupun operator.
5. DNET Melalui FiberStar Memiliki Jaringan 63.758 Kilometer
Pemain lain yang turut meramaikan bisnis jaringan fiber optik adalah PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET).
Melalui anak usahanya, PT Mega Akses Persada yang menggunakan merek FiberStar, DNET mencatat panjang gelaran jaringan serat optik mencapai 63.758 kilometer hingga akhir 2025.
FiberStar bergerak dalam penyediaan infrastruktur jaringan fiber optik untuk mendukung layanan internet berkecepatan tinggi. Infrastruktur semacam ini dapat digunakan oleh berbagai penyedia layanan telekomunikasi untuk memperluas jangkauan konektivitas tanpa harus membangun seluruh jaringan sendiri.
Model bisnis tersebut menunjukkan pentingnya perusahaan penyedia infrastruktur independen dalam industri telekomunikasi. Mereka dapat menyediakan jaringan yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak, sehingga pembangunan infrastruktur tidak sepenuhnya harus dilakukan oleh masing-masing operator.
6. Mitratel Memisahkan Aset Fisik dan Jaringan yang Ditagihkan
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), atau Mitratel, juga menjadi salah satu perusahaan yang perlu diperhatikan dalam industri infrastruktur telekomunikasi.
Pada semester I 2026, Mitratel melaporkan aset fisik fiber sepanjang 59.239 kilometer. Namun, perusahaan juga mencatat angka berbeda untuk panjang jaringan yang ditagihkan kepada pelanggan atau billable length, yakni 74.779 kilometer.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa panjang aset fisik dan panjang jaringan yang menghasilkan pendapatan tidak selalu sama. Angka komersial dapat dihitung berdasarkan cakupan layanan atau skema pemanfaatan jaringan yang ditagihkan kepada pelanggan.
Karena itu, investor maupun pembaca perlu memahami definisi setiap indikator sebelum membandingkan data antaremiten. Menggunakan angka billable length sebagai pengganti panjang kabel fisik, misalnya, dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat.
7. LINK Memiliki Fiber Optik dan Jaringan HFC
PT Link Net Tbk (LINK) juga mengungkapkan infrastruktur jaringan yang digunakan untuk mendukung layanan konektivitas.
Perusahaan mencatat jaringan fiber optik sepanjang 33.861 kilometer. Selain itu, terdapat jaringan hybrid fiber-coaxial (HFC) sepanjang 16.346 kilometer.
HFC merupakan teknologi jaringan yang menggabungkan kabel fiber optik dengan kabel koaksial. Dalam penerapannya, fiber optik digunakan untuk membawa data menuju titik distribusi tertentu, kemudian kabel koaksial meneruskan koneksi ke area pelanggan.
Artinya, jaringan HFC tidak bisa begitu saja disamakan dengan jaringan fiber optik murni. Keduanya memiliki karakteristik dan komposisi infrastruktur yang berbeda.
Pemisahan data tersebut penting agar pembaca tidak keliru menjumlahkan seluruh panjang jaringan sebagai kabel fiber optik. Angka yang dilaporkan LINK menunjukkan bahwa perusahaan mengoperasikan lebih dari satu jenis infrastruktur untuk mendukung layanan telekomunikasinya.
8. DATA dan BALI Turut Memiliki Infrastruktur Fiber
Selain perusahaan-perusahaan di atas, terdapat emiten lain yang juga mengungkapkan kepemilikan atau pengelolaan jaringan fiber optik.
PT Remala Abadi Tbk (DATA) termasuk perusahaan yang memiliki pengungkapan jaringan fiber. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari kegiatan usaha di bidang layanan dan konektivitas telekomunikasi.
Sementara itu, PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) mencatat panjang jaringan 8.839 kilometer pada segmen menara dan infrastruktur telekomunikasi.
Namun, angka BALI tersebut perlu dipahami sesuai kategori pelaporannya. Panjang 8.839 kilometer yang dicantumkan dalam segmen tersebut tidak otomatis mewakili keseluruhan jaringan yang mungkin dikelola oleh kelompok usaha.
Perbedaan kategori pelaporan seperti ini menjadi alasan mengapa perbandingan antaremiten harus dilakukan secara cermat. Angka yang terlihat lebih kecil belum tentu berarti perusahaan memiliki cakupan bisnis jaringan yang lebih terbatas.
Fiber Optik Menopang Internet Rumah hingga Pusat Data
Panjang jaringan fiber optik bukan sekadar angka yang menggambarkan banyaknya kabel yang dibentangkan perusahaan. Infrastruktur ini memiliki fungsi strategis dalam ekosistem digital.
Salah satu penggunaannya adalah menghubungkan jaringan backbone dengan menara telekomunikasi. Koneksi fiber menuju menara memungkinkan trafik data dari jaringan seluler diteruskan ke jaringan utama dengan kapasitas yang memadai.
Fiber optik juga digunakan untuk layanan FTTH. Dalam skema ini, jaringan dibentangkan hingga mendekati atau mencapai lokasi pelanggan, sehingga rumah tangga dapat menikmati akses internet berkecepatan tinggi.
Selain itu, jaringan fiber berperan dalam menghubungkan pusat data. Kebutuhan konektivitas antarpusat data semakin penting seiring meningkatnya penggunaan komputasi awan, kecerdasan buatan, layanan digital, dan penyimpanan data dalam jumlah besar.
Dengan fungsi yang beragam, perusahaan pemilik jaringan fiber optik dapat melayani kebutuhan operator telekomunikasi, penyedia internet, perusahaan, hingga pengelola pusat data.
Mengapa Panjang Jaringan Tidak Bisa Dibandingkan Begitu Saja?
Satu hal yang sering terlewat ketika membaca daftar perusahaan dengan jaringan terpanjang adalah perbedaan definisi pengukuran.
Pertama, ada perusahaan yang melaporkan jaringan backbone, sedangkan perusahaan lain mencatat gabungan jaringan backbone dan akses. Backbone merupakan jalur utama pengiriman data, sementara jaringan akses menghubungkan infrastruktur tersebut dengan pengguna atau titik layanan.
Kedua, kepemilikan jaringan juga perlu diperhatikan. Sebagian perusahaan mengelola infrastruktur secara langsung, sedangkan perusahaan lain melaporkan jaringan melalui anak usaha atau perusahaan patungan.
Ketiga, periode pelaporan tidak selalu sama. Data semester I 2026 tentu tidak sepenuhnya sebanding dengan laporan tahunan 2024 atau data akhir 2025. Perubahan jaringan akibat pembangunan, akuisisi, maupun restrukturisasi perusahaan dapat memengaruhi angka yang dilaporkan.
Keempat, panjang aset fisik berbeda dengan panjang jaringan yang menghasilkan pendapatan. Data Mitratel dan TOWR memperlihatkan bahwa indikator komersial dapat memiliki angka berbeda dari panjang aset jaringan yang dilaporkan.
Kesimpulan
Industri fiber optik Indonesia melibatkan banyak perusahaan dengan skala jaringan yang beragam. Telkom Indonesia melaporkan backbone sepanjang 211.121 kilometer pada semester I 2026, sementara data historis XL Axiata mencatat 195.000 kilometer pada 2024. Mora dan Sarana Menara Nusantara juga memiliki pengungkapan jaringan berskala besar, masing-masing lebih dari 183.000 kilometer dan sekitar 182.600 kilometer.
Di sisi lain, FiberStar melalui DNET, Mitratel, Link Net, DATA, dan Bali Towerindo turut menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur konektivitas nasional.
Meski demikian, angka kilometer tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan perusahaan terbaik atau paling unggul. Perbedaan cakupan jaringan, periode pelaporan, kepemilikan, dan metode pengukuran harus diperhitungkan sebelum membuat perbandingan.
Bagi investor, informasi panjang jaringan dapat menjadi salah satu indikator untuk memahami skala infrastruktur perusahaan. Namun, analisis tetap perlu dilengkapi dengan kondisi keuangan, pertumbuhan pendapatan, tingkat utilisasi jaringan, belanja modal, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari aset yang dimiliki.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Posting Komentar