Wamen Stella Sebut AI Rakus Listrik dan Air, Mengapa Ini Bisa Jadi Peluang Indonesia?

Daftar Isi

 

Wamen Stella Sebut AI Rakus Listrik dan Air, Mengapa Ini Bisa Jadi Peluang Indonesia?



Perkembangan artificial intelligence atau AI selama beberapa tahun terakhir memang terlihat sangat cepat. Model AI semakin pintar, mampu mengolah informasi dalam jumlah besar, membantu pekerjaan profesional, membuat gambar dan video, hingga menjalankan berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan campur tangan manusia.

Namun, di balik perkembangan tersebut terdapat kebutuhan infrastruktur yang sangat besar. AI tidak hanya membutuhkan chip canggih dan pusat data dengan kapasitas komputasi tinggi, tetapi juga membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah besar.

Hal inilah yang disoroti Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie. Dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Stella menggambarkan AI sebagai teknologi yang sangat "rakus" terhadap energi. Ia juga menyoroti penggunaan air yang berkaitan dengan operasional pusat data AI.

Menariknya, Stella tidak hanya melihat persoalan tersebut sebagai ancaman. Menurutnya, kebutuhan energi AI yang terus meningkat justru dapat menjadi peluang bagi Indonesia karena negara ini memiliki berbagai potensi energi, terutama energi baru terbarukan.

Konsumsi Listrik AI Disebut Mencapai 155 TWh

Stella menunjukkan data mengenai konsumsi listrik pusat data AI di Amerika Serikat. Berdasarkan angka yang ia paparkan, pusat data AI saat ini menggunakan sekitar 155 triliun watt-hour atau 155 TWh energi listrik. Ia juga menyebut terdapat pusat data dengan kebutuhan daya sekitar 10 hingga 11 gigawatt.

Angka tersebut tentu cukup sulit dibayangkan jika hanya dilihat sebagai angka konsumsi listrik. Karena itu, Stella menggunakan perbandingan dengan konsumsi listrik sejumlah negara untuk menggambarkan skalanya.

Menurut penjelasan Stella, konsumsi energi AI pada 2025 kira-kira setara dengan konsumsi energi Latvia selama satu tahun. Berikutnya, kebutuhan tersebut diproyeksikan setara dengan konsumsi energi negara-negara Eropa lainnya seiring pertumbuhan AI.

Ia menyebut Romania, Czechia, Italia, hingga Inggris Raya sebagai gambaran mengenai besarnya kebutuhan energi AI pada tahun-tahun mendatang.

Perlu dicatat, perbandingan tersebut merupakan cara Stella menggambarkan skala konsumsi energi AI berdasarkan data dan proyeksi yang ia paparkan. Angka tersebut bukan berarti seluruh listrik negara-negara tersebut secara harfiah dialihkan untuk AI.

Pada 2030 Diproyeksikan Mencapai 465 TWh

Kebutuhan energi AI juga diperkirakan belum berhenti pada angka saat ini.

Stella menyebut konsumsi listrik AI dapat meningkat hingga sekitar 465 TWh pada 2030. Artinya, jika angka 155 TWh menjadi titik acuan, kebutuhan energi tersebut dapat meningkat sekitar tiga kali lipat dalam beberapa tahun.

Lonjakan tersebut berkaitan erat dengan semakin banyaknya pusat data yang dibangun untuk mendukung AI.

Model AI membutuhkan computing power dalam jumlah besar. Semakin kompleks model yang dikembangkan dan semakin banyak pengguna yang mengaksesnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap server dan akselerator komputasi.

Pusat data kemudian menjadi tempat seluruh komputasi tersebut berlangsung. Akibatnya, pertumbuhan AI secara langsung ikut mendorong pertumbuhan kebutuhan listrik.

Inilah alasan mengapa pembahasan mengenai masa depan AI tidak cukup hanya melihat perkembangan GPU, CPU, atau chip AI. Infrastruktur energi juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.

AI Tidak Hanya Membutuhkan Listrik, tetapi Juga Air

Selain konsumsi listrik, Stella menyoroti kebutuhan air dalam operasional infrastruktur AI.

Pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar karena server dan akselerator bekerja secara terus-menerus. Panas tersebut harus dikendalikan agar perangkat dapat beroperasi dalam kondisi aman.

Salah satu bagian dari persoalan tersebut adalah kebutuhan air untuk sistem pendinginan.

Stella menyebut bahwa pada periode yang ia paparkan, penggunaan air untuk AI diperkirakan setara dengan kebutuhan air minum sekitar 1,2 juta orang.

Angka ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai jejak penggunaan air yang dikaitkan dengan aktivitas AI, bukan berarti 1,2 juta orang kehilangan akses terhadap air minum karena AI.

Perhitungan kebutuhan air pusat data dapat mencakup berbagai aspek, termasuk air yang digunakan dalam proses pendinginan dan kemudian mengalami penguapan.

Dengan semakin besarnya pusat data, persoalan air juga berpotensi menjadi semakin penting, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air.

Baca juga : Ensiklopedia Co-Packaged Optics (CPO): Saat Cahaya Masuk Langsung ke Dalam Package Chip

Energi Bisa Menjadi Faktor Pembatas AI

Salah satu poin menarik dari penjelasan Stella adalah pandangannya bahwa tantangan AI ke depan tidak hanya berada pada ketersediaan semikonduktor.

Menurutnya, kebutuhan yang sangat penting bagi perkembangan AI justru adalah energi.

Pernyataan tersebut masuk akal jika melihat cara kerja infrastruktur AI modern. Chip yang semakin canggih tetap membutuhkan pusat data untuk menjalankan modelnya. Pusat data tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sistem pendinginan, jaringan, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.

Artinya, memiliki chip AI yang sangat canggih saja tidak cukup jika tidak tersedia infrastruktur energi yang mampu mengoperasikannya.

Kebutuhan tersebut bahkan menjadi semakin penting ketika perusahaan teknologi membangun cluster AI dalam skala besar.

Semakin banyak GPU yang bekerja secara bersamaan, semakin besar pula kebutuhan listrik dan sistem pendinginan. Dengan demikian, perkembangan AI dan perkembangan sektor energi menjadi semakin sulit dipisahkan.

Indonesia Justru Punya Peluang

Di tengah kekhawatiran tersebut, Stella melihat posisi Indonesia dengan perspektif berbeda.

Indonesia memiliki berbagai sumber energi yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan industri data center. Salah satunya adalah energi baru terbarukan.

Potensi energi surya dan angin sudah cukup dikenal. Namun, Indonesia juga memiliki potensi panas bumi yang besar.

Stella menyebut Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia dan menilai potensi tersebut masih belum dioptimalkan secara maksimal.

Jika dikembangkan dengan tepat, energi terbarukan dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun infrastruktur data center yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan resmi Kemdiktisaintek pada awal September 2026. Pemerintah menyebut Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam industri data center berbasis AI apabila sumber daya energi terbarukan dapat dikelola dengan tepat.

Hidrogen Alami Juga Menjadi Perhatian

Selain panas bumi, Stella turut menyinggung potensi sumber energi lain yang relatif baru dibicarakan, yaitu hidrogen alami.

Menurut Stella, Indonesia baru menemukan cadangan hidrogen alami yang sangat besar dan berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Ia melihat temuan tersebut sebagai salah satu peluang baru bagi Indonesia.

Namun, potensi sumber energi tidak otomatis berubah menjadi keunggulan industri.

Diperlukan teknologi, investasi, infrastruktur, regulasi, serta sumber daya manusia yang mampu mengelola dan mengembangkan sumber energi tersebut.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar memiliki cadangan energi, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang tersedia, terjangkau, stabil, dan sesuai kebutuhan industri.

Data Center AI Bisa Menjadi Industri Strategis

Jika kebutuhan listrik AI terus meningkat, negara yang mampu menyediakan energi dalam jumlah besar dan stabil memiliki peluang untuk menarik investasi data center.

Indonesia memiliki beberapa modal awal yang dapat mendukung peluang tersebut, termasuk potensi energi, lahan, dan sumber daya air. Kemdiktisaintek juga menyebut ketersediaan talenta sebagai salah satu faktor penting agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan.

Artinya, peluang Indonesia bukan hanya menjual listrik kepada perusahaan teknologi.

Ada ekosistem yang jauh lebih besar, mulai dari pembangunan data center, jaringan fiber optic, sistem pendinginan, pembangkit energi, teknologi AI, hingga pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.

Jika ekosistem tersebut berkembang secara bersamaan, pertumbuhan AI dapat menciptakan permintaan baru terhadap berbagai jenis pekerjaan dan keahlian.

Tantangannya Bukan Sekadar Menyediakan Energi

Meski peluangnya besar, Indonesia tetap perlu berhati-hati.

Pertumbuhan data center membutuhkan energi yang stabil. Jika pasokan energi terlalu bergantung pada sumber yang tidak konsisten, operasional pusat data dapat terganggu.

Di sisi lain, pembangunan data center juga harus memperhitungkan penggunaan air, dampak lingkungan, kebutuhan lahan, serta kapasitas jaringan listrik.

Energi terbarukan pun membutuhkan investasi dan infrastruktur pendukung agar dapat digunakan dalam skala besar.

Karena itu, peluang dari AI tidak otomatis berarti Indonesia harus menerima semua pembangunan data center tanpa pertimbangan.

Yang lebih penting adalah bagaimana membangun ekosistem AI dan data center yang efisien, berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.

AI Rakus Energi, tetapi Bisa Menjadi Peluang

Pernyataan Stella Christie mengenai AI yang "rakus" energi dan air menunjukkan sisi lain dari perkembangan kecerdasan buatan yang sering luput dari perhatian.

Selama ini, pembicaraan mengenai AI lebih sering berfokus pada kemampuan model, chip terbaru, chatbot, dan aplikasi yang dapat digunakan masyarakat.

Padahal, di belakang semua itu terdapat infrastruktur fisik yang membutuhkan listrik, air, pusat data, jaringan, dan sistem pendinginan.

Stella menyebut konsumsi listrik AI sekitar 155 TWh dan memproyeksikannya meningkat menjadi sekitar 465 TWh pada 2030.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan sekaligus peluang.

Indonesia memiliki potensi panas bumi, surya, angin, dan sumber energi lain yang dapat dikembangkan. Pemerintah juga telah menyoroti peluang pengembangan data center AI yang ditopang energi terbarukan.

Jadi, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah AI akan semakin rakus terhadap energi. Kemungkinan besar kebutuhan tersebut memang akan terus meningkat.

Pertanyaannya adalah apakah Indonesia mampu mengubah kebutuhan energi AI menjadi peluang untuk membangun industri data center, energi terbarukan, teknologi, dan talenta digital secara bersamaan.

Jika mampu, kebutuhan energi yang awalnya terlihat sebagai masalah justru dapat menjadi salah satu jalan bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam ekonomi AI global.

Posting Komentar