Pudarnya Keaslian di Media Sosial: Ketika Algoritma Memaksa Semua Orang Membuat Konten yang Sama

Daftar Isi

 

Pudarnya Keaslian di Media Sosial: Ketika Algoritma Memaksa Semua Orang Membuat Konten yang Sama



Dulu, membuka media sosial terasa seperti membuka jendela ke kehidupan banyak orang. Ada teman yang mengunggah foto makanan seadanya, seseorang yang membagikan cerita perjalanan, musisi amatir yang merekam lagu di kamar, sampai orang random yang tiba-tiba membuat video lucu tanpa konsep yang terlalu dipikirkan.

Sekarang, pengalaman tersebut perlahan berubah.

Buka TikTok, Instagram Reels, atau platform video pendek lainnya, lalu gulir beberapa menit. Kita mungkin akan menemukan sesuatu yang terasa aneh. Orangnya berbeda, tempatnya berbeda, bahkan bahasanya berbeda, tetapi format videonya sering kali terasa sama.

Pembukaan yang dibuat untuk menarik perhatian dalam beberapa detik. Teks besar di layar. Musik yang sedang viral. Potongan video cepat. Caption dengan gaya tertentu. Ekspresi yang dibuat seolah spontan. Kemudian ditutup dengan kalimat yang mengajak penonton berkomentar, menyimpan, atau membagikan video.

Sekilas semuanya terlihat kreatif.

Namun setelah menonton puluhan video, muncul pertanyaan sederhana: sebenarnya kita sedang melihat kreativitas manusia atau sedang melihat kreativitas yang sudah dibentuk oleh algoritma?

Ketika Semua Orang Belajar dari Feed yang Sama

Masalahnya bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan kreativitas. Justru sebaliknya, manusia masih sangat kreatif.

Persoalannya adalah lingkungan digital tempat kreativitas itu diproduksi telah berubah.

Platform seperti TikTok dan Instagram Reels menggunakan sistem rekomendasi untuk menentukan video apa yang muncul di hadapan pengguna. Sistem tersebut mempelajari berbagai sinyal, seperti video yang ditonton sampai selesai, video yang dilewati, konten yang disukai, komentar, dibagikan, disimpan, hingga akun yang sering dikunjungi.

Tujuannya sederhana: membuat pengguna betah berada di platform.

Konten yang mendapatkan respons bagus kemudian memiliki peluang lebih besar untuk direkomendasikan kepada pengguna lain. Ketika sebuah format terbukti berhasil, kreator lain tentu akan memperhatikannya.

Di sinilah siklusnya dimulai.

Satu orang membuat format yang berhasil. Kreator lain menirunya. Format tersebut semakin sering muncul. Penonton terbiasa melihatnya. Algoritma membaca tingginya interaksi sebagai sinyal bahwa format tersebut disukai. Akhirnya, lebih banyak video dengan pola serupa didorong kepada pengguna.

Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya unik berubah menjadi formula.

Kreator Akhirnya Belajar "Apa yang Disukai Algoritma"

Kreator media sosial tentu membutuhkan penonton. Bagi sebagian orang, membuat konten bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi pekerjaan.

Karena itu, wajar jika kreator memperhatikan performa kontennya.

Masalahnya muncul ketika angka mulai menentukan hampir semua keputusan kreatif.

Video dengan pembukaan tertentu mendapatkan banyak penonton? Gunakan lagi.

Durasi 20 detik memiliki retention lebih bagus? Buat video berikutnya sekitar 20 detik.

Audio tertentu sedang viral? Pakai audio tersebut.

Format storytelling tertentu mendapatkan banyak komentar? Ulangi.

Judul tertentu membuat orang berhenti scrolling? Gunakan pola yang sama.

Dari sudut pandang bisnis, strategi tersebut masuk akal. Namun dari sudut pandang kreativitas, ada sesuatu yang perlahan hilang.

Kreator tidak lagi hanya bertanya, "Apa yang ingin saya buat?"

Mereka mulai bertanya, "Apa yang kemungkinan besar akan disukai algoritma?"

Perubahan kecil dalam pertanyaan tersebut memiliki dampak besar.

Baca juga : Bahaya Botnet Mirai, Malware yang Bisa Bajak Jutaan Perangkat IoT

Ketika Keunikan Justru Menjadi Risiko

Konten yang benar-benar berbeda membutuhkan keberanian.

Seorang kreator mungkin ingin berbicara dengan gaya yang tidak biasa. Ia mungkin ingin menggunakan kamera statis, membuat video lebih panjang, menggunakan humor yang absurd, tidak memakai musik viral, atau menyampaikan sesuatu tanpa mengikuti struktur storytelling yang sedang populer.

Masalahnya, format seperti itu belum tentu langsung mendapatkan respons besar.

Jika performanya rendah, kreator bisa menyimpulkan bahwa gaya tersebut tidak bekerja.

Akhirnya ia kembali ke format yang sudah terbukti.

Ini menciptakan situasi yang agak ironis. Algoritma seharusnya membantu kreator menemukan audiens yang tepat. Namun dalam praktiknya, sistem rekomendasi juga dapat mendorong kreator untuk membuat konten yang lebih mudah dikenali, lebih mudah dikonsumsi, dan lebih mirip dengan konten yang sebelumnya berhasil.

Keunikan menjadi risiko.

Keseragaman menjadi pilihan yang lebih aman.

Efek "Semua Orang Seperti Influencer"

Salah satu dampak paling mudah dilihat adalah perubahan cara orang berbicara di depan kamera.

Banyak video memiliki intonasi yang serupa. Ada gaya berbicara cepat, ekspresi wajah tertentu, jeda dramatis, hingga pola kalimat yang dibuat untuk mempertahankan perhatian.

Bahkan gaya bercanda pun bisa terasa seperti template.

"POV..."

"Nobody talks about this..."

"Wait until you see the ending..."

"Ini yang nggak pernah diajarin di sekolah..."

"Kalau kamu masih melakukan ini, stop sekarang juga..."

Kalimat-kalimat semacam itu tidak selalu buruk. Bahkan sebagian memang efektif untuk menyampaikan informasi.

Masalahnya adalah ketika terlalu banyak orang menggunakan formula yang sama, formula tersebut kehilangan kekuatannya.

Kita akhirnya bisa menebak bagaimana sebuah video akan berjalan hanya dari tiga detik pertama.

Dan ketika penonton sudah bisa menebak semuanya, rasa penasaran pun berkurang.

Tren Membuat Kreativitas Terasa Seperti Perlombaan

Tren sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Sebelum era TikTok dan Reels, manusia sudah mengikuti tren musik, fashion, meme, gaya fotografi, hingga format acara televisi.

Perbedaannya sekarang adalah kecepatan.

Sebuah tren dapat muncul, meledak, ditiru ribuan orang, lalu menjadi usang dalam waktu sangat singkat.

Audio yang hari ini ada di mana-mana mungkin beberapa minggu kemudian sudah terasa membosankan.

Format video yang awalnya lucu akhirnya menjadi template.

Gerakan tertentu yang awalnya spontan berubah menjadi kewajiban agar video dianggap relevan.

Akibatnya, kreativitas di media sosial sering terasa seperti perlombaan untuk mengejar sesuatu yang sedang ramai sebelum terlambat.

Kreator bukan hanya membuat konten. Mereka juga harus terus memantau tren.

Penonton Pun Ikut Terjebak

Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada kreator.

Penonton juga memiliki peran.

Ketika kita terus menonton jenis konten tertentu, algoritma akan belajar bahwa kita menyukainya. Kemudian sistem memberikan lebih banyak konten serupa.

Awalnya menyenangkan.

Kita merasa platform memahami selera kita.

Namun setelah beberapa waktu, feed bisa menjadi sangat homogen.

Jika seseorang sering menonton video tentang gadget, misalnya, ia akan mendapatkan semakin banyak video gadget. Jika sering menonton konten olahraga, video olahraga akan mendominasi. Jika menyukai drama atau gosip, rekomendasi akan bergerak ke arah tersebut.

Personalisasi memang membuat pengalaman terasa relevan.

Tetapi personalisasi juga dapat mempersempit dunia yang kita lihat.

Kita akhirnya tidak hanya hidup dalam algoritma yang sama dengan orang lain. Kita juga hidup dalam versi algoritma masing-masing.

Mengapa Konten yang Sama Bisa Terasa Membosankan?

Otak manusia menyukai sesuatu yang familiar, tetapi juga membutuhkan variasi.

Jika setiap video menggunakan struktur yang sama, kejutan menjadi semakin kecil. Kita tahu kapan punchline akan muncul, kapan musik berubah, kapan teks besar muncul, bahkan kapan kreator akan meminta kita untuk memberikan komentar.

Ketika formula terlalu mudah ditebak, konten kehilangan rasa spontan.

Padahal salah satu daya tarik terbesar media sosial pada awal kemunculannya justru adalah ketidaksempurnaan.

Foto yang sedikit miring.

Video dengan kualitas kamera biasa.

Cerita yang tidak memiliki hook sempurna.

Orang berbicara dengan gaya mereka sendiri.

Konten seperti itu mungkin tidak selalu mendapatkan jutaan views, tetapi terasa lebih manusiawi.

Apakah Algoritma Benar-Benar Membunuh Kreativitas?

Mungkin terlalu berlebihan jika mengatakan algoritma benar-benar membunuh kreativitas.

Algoritma bukan satu-satunya penyebab keseragaman konten.

Kreator juga memiliki kebutuhan ekonomi. Platform memang membutuhkan konten yang menarik perhatian. Penonton pun memiliki preferensi tertentu.

Namun algoritma memperkuat semuanya.

Ketika satu pola berhasil, pola tersebut dapat disebarkan dengan sangat cepat. Ketika sebuah gaya mendapat engagement tinggi, gaya tersebut dapat direplikasi oleh ribuan kreator dalam waktu singkat.

Akibatnya, ruang untuk eksperimen menjadi lebih kecil.

Bukan karena eksperimen dilarang, tetapi karena eksperimen memiliki risiko performa yang lebih tinggi.

Dan bagi kreator yang hidup dari angka, risiko tersebut tidak selalu mudah diterima.

Mungkin Kita Perlu Konten yang Tidak "Sempurna"

Ada sesuatu yang menarik dari konten yang tidak terlalu memikirkan algoritma.

Video yang dibuat karena seseorang memang ingin bercerita.

Foto yang diunggah tanpa strategi engagement.

Musik yang dibuat dengan gaya sendiri.

Tulisan yang tidak diawali dengan kalimat bombastis.

Humor yang mungkin hanya dipahami oleh sebagian kecil orang.

Konten seperti ini mungkin tidak selalu viral.

Namun justru di situlah keasliannya.

Tidak semua karya harus menjadi viral. Tidak semua kreativitas harus menghasilkan jutaan views.

Kadang-kadang sebuah karya cukup berarti karena dibuat dengan jujur.

Menjadi Kreator Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

Mengikuti algoritma bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Kreator tetap perlu memahami bagaimana platform bekerja jika ingin membangun audiens.

Tetapi memahami algoritma seharusnya berbeda dengan membiarkan algoritma menentukan seluruh identitas kreator.

Kreator masih bisa menggunakan hook tanpa harus meniru gaya bicara orang lain. Masih bisa mengikuti tren tanpa kehilangan karakter. Masih bisa menggunakan audio viral sambil membawa ide sendiri.

Algoritma boleh menjadi alat distribusi.

Jangan sampai algoritma berubah menjadi direktur kreatif.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi tempat manusia menunjukkan berbagai macam kepribadian, pengalaman, humor, perspektif, dan kreativitas. Jika semua orang terus membuat konten berdasarkan formula yang sama karena takut kehilangan views, kita mungkin memang akan mendapatkan feed yang sangat optimal secara algoritmik.

Tetapi belum tentu menarik sebagai manusia.

Mungkin tantangan terbesar kreator di era algoritma bukan lagi bagaimana mendapatkan perhatian.

Tantangannya adalah bagaimana mendapatkan perhatian tanpa kehilangan keunikan diri sendiri.

Karena ketika semua orang berusaha menjadi konten yang paling disukai algoritma, hal yang justru semakin langka adalah sesuatu yang terasa benar-benar dibuat oleh manusia.

Posting Komentar