Kenapa HP Masih Dipenuhi Bloatware? Ternyata Ada Alasan Bisnis di Baliknya

Daftar Isi

 

Kenapa HP Masih Dipenuhi Bloatware? Ternyata Ada Alasan Bisnis di Baliknya



Pernah beli HP baru, lalu begitu dinyalakan justru menemukan banyak aplikasi yang sebenarnya tidak pernah kamu minta? Ada game yang tidak pernah dimainkan, aplikasi belanja, layanan video, browser tambahan, bahkan aplikasi bawaan vendor yang fungsinya terasa mirip dengan aplikasi milik Google.

Kondisi seperti ini biasa disebut sebagai bloatware.

Bagi pengguna, bloatware sering dianggap sebagai aplikasi "sampah" karena memenuhi layar, memakan sebagian kapasitas penyimpanan, dan pada kondisi tertentu bisa ikut menggunakan RAM serta berjalan di latar belakang. Tidak sedikit pengguna yang akhirnya harus menghapus atau menonaktifkan aplikasi tersebut begitu HP baru selesai disiapkan.

Namun, bagi produsen HP, keberadaan bloatware sebenarnya bukan sekadar keputusan teknis. Di balik aplikasi-aplikasi tersebut terdapat kepentingan bisnis yang cukup besar. Bahkan, dalam industri smartphone dengan persaingan harga yang sangat ketat, bloatware bisa menjadi salah satu cara vendor mendapatkan pemasukan tambahan.

Lantas, kenapa produsen HP masih gemar memasang aplikasi bawaan?

Bloatware Bisa Menjadi Sumber Pendapatan Tambahan

Alasan pertama dan mungkin yang paling masuk akal adalah uang.

Membuat dan menjual smartphone membutuhkan biaya besar. Produsen harus membayar komponen seperti prosesor, layar, kamera, memori, baterai, modem, serta biaya produksi, distribusi, pemasaran, dan layanan purnajual.

Di sisi lain, konsumen menginginkan spesifikasi tinggi dengan harga semurah mungkin. Persaingan ini sangat terasa terutama di kelas entry-level dan mid-range.

Karena itu, produsen memiliki berbagai cara untuk mendapatkan pemasukan tambahan selain sekadar menjual perangkat.

Salah satunya adalah kerja sama dengan perusahaan aplikasi.

Sebuah aplikasi pihak ketiga dapat membayar atau bekerja sama dengan produsen agar aplikasinya sudah terpasang ketika HP pertama kali dinyalakan. Bentuknya bisa berupa aplikasi belanja, game, layanan hiburan, media sosial, atau berbagai layanan digital lainnya.

Dari sudut pandang pengguna, aplikasi tersebut mungkin terlihat seperti tambahan yang tidak diperlukan. Tetapi dari sudut pandang vendor, aplikasi itu bisa menjadi bagian dari kesepakatan bisnis.

Pendapatan tersebut pada akhirnya dapat membantu produsen menekan biaya atau menjaga harga jual perangkat tetap kompetitif.

Jadi, ketika kamu membeli HP dengan spesifikasi lumayan tinggi tetapi harganya terasa murah, jangan heran jika sebagian ruang penyimpanannya sudah diisi berbagai aplikasi sejak awal.

Bukan berarti harga HP sepenuhnya disubsidi oleh bloatware, tetapi pemasukan dari kerja sama software dan layanan bisa menjadi salah satu bagian dari strategi bisnis produsen.

Baca juga : Evolusi Warna iPhone, dari XS hingga 18 Pro Max

Bukan Cuma Aplikasi Pihak Ketiga, Vendor Juga Punya "Bloatware" Sendiri

Tidak semua bloatware berasal dari perusahaan lain.

Produsen HP juga sering memasukkan aplikasi buatannya sendiri.

Contohnya, sebuah vendor mungkin memiliki browser sendiri, galeri sendiri, toko aplikasi sendiri, aplikasi pembersih perangkat, pengelola file, layanan cloud, aplikasi musik, atau berbagai utilitas lainnya.

Masalahnya, Android sendiri sudah menyediakan banyak aplikasi serupa melalui ekosistem Google.

Akibatnya, pengguna bisa menemukan dua aplikasi dengan fungsi yang hampir sama. Misalnya, ada browser bawaan Google dan browser milik vendor. Ada Google Photos dan aplikasi galeri bawaan. Ada Google Drive dan layanan penyimpanan cloud milik produsen.

Bagi pengguna, kondisi ini bisa membingungkan.

Namun, bagi vendor, aplikasi tersebut memiliki fungsi strategis. Produsen ingin membangun ekosistemnya sendiri sehingga pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada layanan Google.

Ekosistem Bisa Menjadi Sumber Bisnis Jangka Panjang

Ketika pengguna mulai terbiasa memakai aplikasi dan layanan milik sebuah vendor, kemungkinan mereka untuk tetap berada dalam ekosistem tersebut juga semakin besar.

Misalnya, pengguna menggunakan layanan cloud vendor untuk menyimpan foto, memakai toko aplikasi milik vendor, menggunakan browser bawaan, kemudian membeli perangkat lain dari merek yang sama.

Di sinilah aplikasi bawaan memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar "aplikasi tambahan".

Aplikasi tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju layanan lain.

Vendor kemudian memiliki peluang untuk menghasilkan pendapatan melalui layanan premium, penyimpanan cloud, iklan, pembelian digital, atau layanan berlangganan.

Strategi seperti ini juga menjelaskan mengapa beberapa produsen tetap mempertahankan aplikasi yang sebenarnya memiliki alternatif sangat populer dari Google.

Mereka tidak hanya memikirkan apa yang terjadi ketika HP pertama kali dijual, tetapi juga bagaimana pengguna tetap berada di dalam ekosistem mereka selama bertahun-tahun.

Operator Seluler Juga Bisa Ikut Menambahkan Aplikasi

Bloatware juga bisa muncul karena hubungan antara produsen dan operator seluler.

Di sejumlah pasar, smartphone yang dijual melalui paket operator dapat membawa aplikasi atau layanan khusus dari operator tersebut.

Misalnya, operator bisa memiliki aplikasi untuk mengecek kuota, membayar tagihan, membeli paket internet, mengakses layanan hiburan, atau mendapatkan promosi tertentu.

Jika perangkat tersebut dijual sebagai bagian dari paket pascabayar atau kontrak layanan, pemasangan aplikasi operator bisa menjadi bagian dari kesepakatan bisnis.

Dari sisi operator, cara ini menguntungkan karena aplikasinya langsung tersedia ketika pengguna pertama kali memakai perangkat.

Pengguna juga tidak perlu mencari dan mengunduh aplikasi operator secara manual.

Masalahnya muncul ketika aplikasi tersebut tidak pernah digunakan. Dalam kondisi seperti ini, aplikasi yang awalnya dibuat untuk memberikan kemudahan justru terasa seperti beban tambahan.

Apakah Bloatware Benar-Benar Membuat HP Lemot?

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Bloatware memang bisa mengganggu, tetapi tidak semua aplikasi bawaan otomatis membuat HP menjadi lambat.

Aplikasi yang hanya tersimpan di penyimpanan dan tidak aktif di latar belakang belum tentu memberikan dampak besar terhadap performa sehari-hari.

Masalah menjadi lebih terasa ketika aplikasi tersebut menjalankan proses di background, melakukan sinkronisasi, mengirim notifikasi, menggunakan koneksi internet, atau mengonsumsi RAM secara terus-menerus.

Selain itu, kapasitas penyimpanan yang terlalu penuh juga dapat membuat pengalaman menggunakan HP menjadi kurang nyaman.

Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung menganggap semua aplikasi bawaan sebagai penyebab HP lemot.

Ada baiknya melihat penggunaan baterai, RAM, penyimpanan, dan aktivitas aplikasi terlebih dahulu.

Dengan begitu, pengguna bisa mengetahui apakah sebuah aplikasi memang memberikan dampak atau hanya sekadar memenuhi daftar aplikasi.

Cara Mengurangi Bloatware di HP Android

Kabar baiknya, sebagian bloatware bisa diatasi tanpa melakukan modifikasi ekstrem pada perangkat.

Cara pertama adalah menghapus aplikasi secara normal.

Jika aplikasi tersebut merupakan aplikasi pihak ketiga dan memang diizinkan untuk dihapus, cukup tekan dan tahan ikon aplikasi kemudian pilih opsi uninstall. Cara lainnya bisa dilakukan melalui menu pengaturan aplikasi.

Namun, tidak semua aplikasi bisa dihapus.

Untuk aplikasi sistem tertentu, pengguna biasanya hanya mendapatkan opsi Disable atau Nonaktifkan.

Ketika dinonaktifkan, aplikasi tersebut tidak akan berjalan seperti sebelumnya dan biasanya tidak lagi muncul di daftar aplikasi yang digunakan sehari-hari. Beberapa aplikasi juga akan kembali ke versi awalnya jika sebelumnya mendapatkan pembaruan.

Tetapi perlu hati-hati. Jangan sembarangan menonaktifkan aplikasi sistem yang tidak diketahui fungsinya.

Ada aplikasi yang terlihat tidak penting tetapi ternyata dibutuhkan oleh fitur tertentu pada sistem. Jika salah menonaktifkan komponen, beberapa fungsi HP bisa mengalami masalah.

Pengguna Tingkat Lanjut Bisa Memanfaatkan ADB

Bagi pengguna yang lebih paham teknologi, ada metode lain menggunakan ADB atau Android Debug Bridge.

ADB memungkinkan komputer berkomunikasi dengan perangkat Android melalui perintah tertentu. Dengan metode ini, pengguna tingkat lanjut dapat menghapus atau menonaktifkan paket aplikasi tertentu yang tidak menyediakan opsi uninstall biasa.

Ada pula tool komunitas seperti Universal Android Debloater yang dirancang untuk membantu pengguna mengidentifikasi dan mengelola sejumlah paket bawaan Android.

Namun, metode ini tidak cocok untuk semua orang.

Menghapus paket sistem secara sembarangan bisa menimbulkan masalah pada perangkat. Bahkan, dalam kasus tertentu, fitur penting dapat berhenti bekerja.

Karena itu, pengguna pemula sebaiknya tidak langsung mengikuti tutorial "hapus semua bloatware" tanpa memahami fungsi setiap paket.

Dan yang lebih penting, melakukan debloat dengan ADB tidak selalu berarti HP akan tiba-tiba menjadi jauh lebih kencang. Hasilnya bergantung pada aplikasi yang dihapus, spesifikasi perangkat, serta seberapa aktif aplikasi tersebut sebelumnya.

Kenapa Vendor Tidak Sekalian Memberikan Android yang Bersih?

Pertanyaan ini sebenarnya masuk akal.

Kalau pengguna tidak suka bloatware, mengapa produsen tidak memberikan Android yang lebih bersih saja?

Jawabannya kembali kepada model bisnis.

Produsen tidak hanya menjual perangkat keras. Smartphone modern merupakan bagian dari ekosistem layanan digital yang sangat besar.

Setelah HP berada di tangan pengguna, masih ada banyak peluang untuk menghasilkan uang melalui aplikasi, layanan cloud, toko aplikasi, iklan, konten digital, subscription, hingga layanan lainnya.

Karena itu, aplikasi bawaan bisa menjadi semacam "aset" bagi produsen.

Bagi pengguna, aplikasi tersebut mungkin tidak berguna. Tetapi bagi perusahaan, aplikasi itu dapat menjadi jalur distribusi langsung menuju jutaan pengguna.

Inilah alasan mengapa bloatware kemungkinan besar tidak akan benar-benar hilang dalam waktu dekat.

Bloatware Adalah Kompromi yang Tidak Selalu Terlihat

Pada akhirnya, bloatware merupakan salah satu bentuk kompromi dalam industri smartphone.

Pengguna mendapatkan perangkat dengan harga yang lebih kompetitif, sementara produsen memperoleh sumber pendapatan tambahan dan kesempatan membangun ekosistem.

Masalahnya, kompromi tersebut sering kali tidak terasa seperti kompromi bagi pengguna. Yang terlihat justru adalah ruang penyimpanan yang berkurang, daftar aplikasi yang semakin panjang, notifikasi yang tidak dibutuhkan, dan beberapa layanan yang terus berjalan di belakang layar.

Karena itu, ketika membeli HP baru, jangan hanya melihat kapasitas penyimpanan yang tertulis di kotak.

Perhatikan juga berapa banyak aplikasi bawaan yang disertakan, apakah sebagian bisa dihapus, seberapa besar kontrol yang diberikan kepada pengguna, dan apakah sistem menyediakan opsi untuk menonaktifkan aplikasi yang tidak diperlukan.

Dengan memahami alasan di balik bloatware, pengguna bisa melihat bahwa keberadaannya bukan sekadar karena vendor "malas membersihkan HP". Ada kepentingan bisnis yang jauh lebih besar di baliknya.

Dan selama aplikasi bawaan masih bisa menghasilkan uang, membantu membangun ekosistem, atau menjadi bagian dari kerja sama dengan perusahaan lain, kemungkinan besar bloatware akan tetap menjadi penghuni tetap di smartphone kita.

Posting Komentar