Cara Mengukur Jatuh Tegangan pada Instalasi AC dan Mengatasinya dengan Benar

Daftar Isi

 

Cara Mengukur Jatuh Tegangan pada Instalasi AC dan Mengatasinya dengan Benar



AC yang terasa kurang dingin tidak selalu berarti freon habis atau kompresornya bermasalah. Ada satu faktor kelistrikan yang juga perlu diperiksa, terutama jika AC membutuhkan waktu lama untuk mencapai suhu yang diinginkan, suara kompresor terasa tidak normal, atau perangkat mengalami masalah ketika banyak peralatan listrik dinyalakan bersamaan.

Faktor tersebut adalah jatuh tegangan atau voltage drop.

Jatuh tegangan merupakan kondisi ketika tegangan listrik yang sampai ke perangkat lebih rendah dibandingkan tegangan pada sumber listrik. Penyebabnya bisa berasal dari hambatan kabel, panjang jalur instalasi, ukuran kabel yang terlalu kecil, sambungan yang kurang baik, atau beban listrik yang terlalu besar.

Pada instalasi AC, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena kompresor membutuhkan pasokan listrik yang sesuai dengan spesifikasinya.

Lantas, bagaimana cara mengetahui apakah instalasi AC mengalami voltage drop? Berikut tutorialnya.

Apa Itu Jatuh Tegangan pada Instalasi AC?

Sebelum melakukan pengukuran, penting untuk memahami konsepnya terlebih dahulu.

Misalnya, tegangan listrik yang terukur ketika AC tidak bekerja adalah 220 volt. Setelah AC dinyalakan dan kompresor mulai bekerja, tegangan di titik yang sama ternyata turun menjadi 210 volt.

Artinya terdapat selisih tegangan sebesar 10 volt.

Penurunan tersebut disebut voltage drop atau jatuh tegangan.

Secara sederhana, semakin besar hambatan pada jalur kabel, semakin besar pula potensi terjadinya penurunan tegangan ketika arus listrik mengalir.

Kabel yang terlalu kecil, jalur terlalu panjang, sambungan yang buruk, atau banyaknya beban yang melewati satu jalur dapat meningkatkan masalah tersebut.

Mengapa Voltage Drop Bisa Membuat AC Bermasalah?

AC membutuhkan suplai listrik yang memadai agar komponen-komponennya dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Jika tegangan turun terlalu jauh ketika AC bekerja, perangkat dapat mengalami penurunan performa. Salah satu gejala yang mungkin dirasakan adalah AC membutuhkan waktu lebih lama untuk mendinginkan ruangan.

Dalam kondisi tertentu, suplai listrik yang tidak sesuai juga dapat memberikan beban tambahan pada komponen kelistrikan.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa AC yang kurang dingin pasti disebabkan oleh voltage drop. Masalah tersebut juga bisa disebabkan oleh filter kotor, kapasitas AC yang tidak sesuai dengan ruangan, masalah refrigeran, evaporator atau kondensor kotor, dan berbagai gangguan lainnya.

Karena itu, pengukuran tegangan dapat menjadi salah satu langkah diagnosis, bukan satu-satunya pemeriksaan.

Alat yang Dibutuhkan

Untuk mengukur tegangan, alat yang umum digunakan adalah multimeter digital atau AVO meter yang memiliki fungsi pengukuran tegangan AC.

Pastikan multimeter yang digunakan memang memiliki spesifikasi dan kategori keselamatan yang sesuai untuk pengukuran instalasi listrik rumah tangga.

Selain itu, pastikan probe dan kabel multimeter dalam kondisi baik. Jangan menggunakan alat dengan kabel terkelupas, probe rusak, atau bagian isolasi yang sudah tidak layak.

Yang paling penting, pengukuran pada instalasi listrik bertegangan memiliki risiko sengatan listrik dan korsleting. Jika tidak terbiasa bekerja dengan listrik PLN, sebaiknya jangan melakukan pengukuran langsung pada terminal AC. Mintalah bantuan teknisi listrik yang kompeten.

Langkah 1: Atur Multimeter ke Mode Tegangan AC

Sebelum melakukan pengukuran, atur multimeter pada mode AC Voltage atau tegangan bolak-balik.

Simbol yang digunakan berbeda-beda tergantung merek multimeter. Biasanya terdapat tanda V dengan simbol gelombang ~.

Jangan sampai multimeter berada pada mode pengukuran arus atau resistansi ketika digunakan untuk mengukur tegangan listrik. Kesalahan pemilihan mode dapat menyebabkan alat rusak dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Untuk multimeter manual range, pilih rentang pengukuran yang sesuai dan lebih tinggi dari tegangan yang diperkirakan.

Baca juga : CGM Non-Invasive: Teknologi Pantau Gula Darah Tanpa Tusuk Jarum yang Sedang Dikembangkan

Langkah 2: Ukur Tegangan Tanpa Beban

Tahap pertama adalah mendapatkan nilai tegangan ketika AC belum bekerja.

Jika pengukuran dilakukan pada titik listrik yang aman dan sesuai prosedur, catat tegangan ketika AC dalam keadaan mati.

Misalnya, hasil pengukuran menunjukkan:

Tegangan tanpa beban = 220 volt

Angka tersebut menjadi nilai pembanding untuk pengukuran berikutnya.

Namun, istilah "tanpa beban" perlu dipahami dengan benar. Jika ada banyak perangkat lain yang tetap menyala pada instalasi yang sama, sebenarnya sistem belum sepenuhnya tanpa beban.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, kondisi beban lain sebaiknya diperhitungkan atau dimatikan sesuai prosedur pemeriksaan.

Langkah 3: Nyalakan AC dan Beri Beban

Selanjutnya, AC dinyalakan dan dibiarkan bekerja.

Untuk melihat kondisi ketika beban cukup tinggi, AC dapat diatur pada suhu rendah sehingga kompresor bekerja. Tunggu sampai kondisi operasi yang ingin diperiksa tercapai.

Kemudian ukur kembali tegangan pada titik suplai AC menggunakan prosedur keselamatan yang sama.

Misalnya, hasil pengukuran kedua adalah:

Tegangan saat AC bekerja = 210 volt

Sekarang kita sudah memiliki dua data:

  • Tanpa beban: 220 volt
  • Saat AC bekerja: 210 volt

Dari sini, kita bisa menghitung selisih tegangannya.

Langkah 4: Hitung Jatuh Tegangan

Rumus sederhana yang digunakan adalah:

ΔV = V tanpa beban − V berbeban

Dengan contoh sebelumnya:

ΔV = 220 V − 210 V

ΔV = 10 V

Artinya, terjadi penurunan tegangan sebesar 10 volt ketika AC bekerja.

Selain melihat selisih dalam volt, persentasenya juga dapat dihitung.

Rumusnya:

Persentase voltage drop = (ΔV ÷ tegangan nominal) × 100%

Jika tegangan nominal yang digunakan adalah 220 volt:

(10 ÷ 220) × 100% = sekitar 4,5%

Dengan cara ini, hasil pengukuran menjadi lebih mudah dibandingkan dengan batas yang digunakan pada instalasi listrik.

Berapa Batas Jatuh Tegangan yang Masih Wajar?

Batas jatuh tegangan perlu dilihat berdasarkan standar instalasi yang berlaku dan konteks rangkaian yang diperiksa. Bahan acuan yang diberikan menyebut kisaran toleransi instalasi rumah sekitar 2–4 persen dari tegangan nominal.

Namun, angka tersebut jangan diperlakukan sebagai satu-satunya patokan untuk menentukan apakah AC aman atau tidak. Persyaratan teknis dapat berbeda berdasarkan jenis instalasi dan bagian rangkaiannya.

Sebagai ilustrasi sederhana, jika menggunakan tegangan nominal 220 volt, penurunan 2 persen adalah sekitar 4,4 volt, sedangkan 4 persen sekitar 8,8 volt.

Jadi, penurunan dari 220 volt menjadi sekitar 215,6 volt berarti sekitar 2 persen. Sementara penurunan menjadi sekitar 211,2 volt berarti sekitar 4 persen.

Jika tegangan turun jauh lebih besar, pemeriksaan instalasi menjadi semakin penting.

Bahan acuan juga memberikan contoh bahwa penurunan hingga di bawah 198 volt dari 220 volt, atau susut lebih dari 10 persen, sudah tergolong sangat besar dan perlu segera diperiksa.

Penyebab Voltage Drop pada Instalasi AC

Salah satu penyebab paling umum adalah ukuran kabel yang terlalu kecil untuk beban dan panjang jalur yang digunakan.

Semakin panjang kabel, resistansinya dapat semakin besar. Jika arus yang mengalir cukup tinggi, penurunan tegangan pada kabel juga dapat meningkat.

Masalah juga dapat muncul jika jalur menuju AC memiliki terlalu banyak sambungan, terminal yang kurang baik, atau titik koneksi yang mengalami masalah.

Selain itu, menggabungkan AC dengan peralatan berdaya besar lain pada jalur yang sama dapat meningkatkan beban pada rangkaian.

Misalnya, AC digunakan bersamaan dengan pompa air atau mesin cuci pada jalur yang sama. Ketika beberapa perangkat aktif secara bersamaan, arus yang melewati jalur tersebut dapat meningkat.

Cara Mengatasi Voltage Drop: Perbesar Ukuran Kabel

Jika pemeriksaan menunjukkan masalah berasal dari instalasi kabel, salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah menggunakan kabel dengan penampang yang sesuai.

Sebagai contoh, kabel 1,5 mm² dapat diganti dengan ukuran yang lebih besar seperti 2,5 mm² jika memang sesuai dengan hasil perhitungan dan persyaratan instalasi.

Kabel yang lebih besar memiliki resistansi yang lebih rendah untuk panjang yang sama, sehingga dapat membantu mengurangi voltage drop.

Namun, jangan mengganti ukuran kabel secara asal. Pemilihan kabel harus mempertimbangkan kapasitas arus, panjang jalur, metode pemasangan, jenis kabel, pengaman seperti MCB, dan standar instalasi yang berlaku.

Buat Jalur Kabel Lebih Pendek

Panjang jalur juga berpengaruh.

Jika memungkinkan, instalasi AC sebaiknya memiliki jalur yang efisien dari panel menuju unit AC. Hindari jalur yang terlalu panjang atau memiliki banyak sambungan yang tidak diperlukan.

Semakin sederhana dan rapi jalurnya, semakin mudah pula teknisi melakukan pemeriksaan apabila terjadi masalah di kemudian hari.

Gunakan Dedicated Line untuk AC

AC juga sebaiknya mendapatkan jalur khusus atau dedicated line, terutama untuk instalasi yang memang dirancang demikian.

Artinya, AC tidak berbagi satu jalur dengan berbagai peralatan berdaya besar lainnya.

Pendekatan ini membantu mengurangi beban bersamaan pada satu rangkaian dan membuat instalasi lebih mudah dikelola.

Namun, kebutuhan dedicated line tetap harus disesuaikan dengan desain instalasi rumah, kapasitas listrik, ukuran kabel, dan pengaman yang digunakan.

Bagaimana Jika Tegangan dari PLN Memang Rendah?

Tidak semua voltage drop berasal dari kabel menuju AC.

Ada kemungkinan tegangan yang diterima rumah memang sudah rendah dari sisi sumber atau jaringan listrik.

Jika setelah dilakukan pemeriksaan oleh teknisi diketahui bahwa masalah berasal dari tegangan suplai, salah satu perangkat yang dapat dipertimbangkan adalah Automatic Voltage Regulator (AVR) atau stabilizer dengan kapasitas yang sesuai.

Perangkat tersebut dirancang untuk membantu menjaga tegangan keluaran pada rentang tertentu.

Namun, stabilizer bukan solusi untuk semua masalah instalasi. Jika penyebab sebenarnya adalah kabel yang terlalu kecil, sambungan buruk, atau instalasi yang tidak sesuai, sumber masalah tersebut tetap perlu diperbaiki.

Jangan Asal Membongkar Instalasi Listrik

Mengukur tegangan listrik berbeda dengan mengukur benda elektronik biasa.

Tegangan listrik rumah tangga dapat menyebabkan sengatan serius, luka bakar, bahkan kematian. Karena itu, jangan membuka panel, terminal AC, atau bagian instalasi bertegangan jika tidak mempunyai kompetensi dan peralatan keselamatan yang sesuai.

Jika hasil pengukuran menunjukkan voltage drop yang besar, kabel panas, bau terbakar, MCB sering turun, atau terdapat suara mendesis dari sambungan listrik, matikan penggunaan dan panggil teknisi listrik yang kompeten.

Jangan mencoba memperbaiki sambungan dengan cara seadanya hanya karena ingin menghemat biaya.

Kesimpulan

Jatuh tegangan atau voltage drop merupakan salah satu hal yang patut diperhatikan dalam instalasi AC. Kondisi ini terjadi ketika tegangan yang sampai ke AC turun akibat hambatan pada jalur listrik.

Untuk pemeriksaan dasar, tegangan dapat dibandingkan antara kondisi tanpa beban dan ketika AC sedang bekerja. Selisihnya dapat dihitung menggunakan rumus ΔV = V tanpa beban − V berbeban, kemudian dikonversikan ke persentase.

Sebagai ilustrasi, tegangan 220 volt yang turun menjadi 210 volt berarti mengalami penurunan 10 volt atau sekitar 4,5 persen.

Jika penurunannya besar, penyebabnya perlu dicari. Beberapa kemungkinan meliputi kabel terlalu kecil, jalur terlalu panjang, sambungan bermasalah, atau terlalu banyak perangkat berdaya besar menggunakan satu jalur.

Solusinya dapat berupa penyesuaian ukuran kabel, memperpendek jalur, menggunakan dedicated line, atau memasang AVR jika memang masalah berasal dari tegangan suplai.

Yang terpenting, jangan menganggap AC kurang dingin selalu berarti masalah freon. Pemeriksaan kelistrikan juga dapat menjadi bagian penting dari diagnosis. Namun, karena instalasi AC bekerja pada tegangan berbahaya, pemeriksaan langsung sebaiknya dilakukan oleh teknisi yang kompeten apabila pengguna tidak memiliki pengalaman kelistrikan.

Dengan instalasi yang tepat, suplai listrik yang sesuai, dan pemeriksaan berkala, AC dapat bekerja lebih optimal sekaligus mengurangi risiko gangguan pada sistem kelistrikan maupun perangkat.

Posting Komentar