Cara Menguji dan Mengganti Thermistor AC yang Rusak dengan Multimeter
Cara Menguji dan Mengganti Thermistor AC yang Rusak dengan Multimeter
Thermistor atau sensor suhu merupakan salah satu komponen penting dalam sistem kerja AC. Meskipun ukurannya kecil, komponen ini berperan besar dalam menentukan bagaimana AC membaca kondisi suhu ruangan dan suhu evaporator.
Ketika thermistor mengalami kerusakan, AC bisa menunjukkan berbagai gejala, mulai dari kurang dingin, kompresor sering mati-hidup, evaporator membeku, muncul kode error, hingga AC tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Masalah thermistor juga tidak selalu berarti sensor benar-benar putus. Ada kondisi yang disebut drift, yaitu thermistor masih memiliki nilai resistansi dan terlihat bekerja, tetapi nilai hambatannya sudah bergeser dari standar yang seharusnya.
Karena itu, mengecek thermistor tidak cukup hanya dengan melihat apakah sensor masih memiliki hambatan. Nilai resistansi perlu dibandingkan dengan suhu aktual dan tabel karakteristik thermistor yang digunakan pada AC tersebut.
Apa Itu Thermistor pada AC?
Thermistor merupakan resistor yang nilai resistansinya berubah mengikuti perubahan suhu. Pada AC split, umumnya terdapat setidaknya dua sensor yang memiliki fungsi berbeda, yaitu room sensor dan pipe sensor.
Room sensor bertugas membaca suhu udara ruangan. Data dari sensor ini digunakan PCB indoor untuk menentukan apakah suhu ruangan sudah mencapai target yang dipilih melalui remote.
Sementara itu, pipe sensor digunakan untuk membaca suhu pipa atau evaporator. Sensor ini membantu sistem mengetahui kondisi evaporator, termasuk mendeteksi kondisi yang berpotensi menyebabkan pembekuan.
Kedua sensor tersebut kemudian mengirimkan informasi suhu dalam bentuk perubahan resistansi kepada PCB utama. Karena itu, ketika nilai resistansi thermistor tidak lagi sesuai dengan karakteristik aslinya, PCB bisa menerima informasi suhu yang keliru.
Inilah alasan AC terkadang mengalami masalah meskipun secara fisik thermistornya terlihat masih bagus.
Kenali Masalah Thermistor Drift
Kerusakan thermistor dapat dibagi secara sederhana menjadi beberapa kondisi. Pertama adalah sensor putus total. Kedua adalah sensor mengalami korsleting. Ketiga adalah sensor masih memiliki resistansi, tetapi nilainya sudah bergeser atau mengalami drift.
Kondisi drift justru bisa lebih sulit dikenali karena ketika diukur dengan multimeter, thermistor masih menunjukkan angka. Teknisi yang hanya melihat adanya nilai resistansi bisa saja menganggap sensor masih normal.
Padahal, nilai tersebut harus dibandingkan dengan karakteristik thermistor pada suhu tertentu.
Misalnya, sebuah sensor memiliki standar tertentu pada suhu 25 derajat Celsius. Jika pengukuran pada suhu tersebut menunjukkan nilai yang jauh berbeda dari tabel pabrikan, sensor patut dicurigai mengalami perubahan karakteristik.
Dampaknya dapat terasa langsung pada kinerja AC.
Jika room sensor membaca suhu seolah-olah ruangan sudah lebih dingin daripada kondisi sebenarnya, PCB dapat mematikan kompresor terlalu cepat. Akibatnya, ruangan belum mencapai suhu target tetapi kompresor sudah berhenti bekerja.
Sebaliknya, jika pembacaan sensor membuat sistem menganggap kondisi ruangan belum cukup dingin, kompresor dapat bekerja lebih lama.
Pada pipe sensor, kesalahan pembacaan juga dapat menyebabkan masalah. Sensor yang membaca suhu pipa tidak sesuai kondisi sebenarnya dapat mengganggu sistem perlindungan evaporator. Dalam kondisi tertentu, evaporator bisa mengalami pembekuan karena sistem tidak mendeteksi kondisi yang seharusnya.
Pada AC modern, terutama sistem inverter, pembacaan sensor yang berada jauh dari karakteristik normal juga dapat menyebabkan munculnya kode error.
Baca juga : Meta One Resmi di Indonesia, Mulai Rp 13.900 Bawa Fitur Premium WhatsApp, Instagram, dan Facebook
Alat yang Dibutuhkan untuk Mengecek Thermistor
Untuk melakukan pemeriksaan dasar, alat yang diperlukan sebenarnya cukup sederhana.
Anda membutuhkan multimeter digital dan termometer untuk mengetahui suhu lingkungan saat pengukuran. Air es dan air hangat juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melihat apakah nilai resistansi sensor berubah ketika suhu berubah.
Namun, sebelum melakukan pemeriksaan, pastikan Anda memahami bahwa bagian indoor AC memiliki komponen listrik. Jika tidak terbiasa bekerja dengan peralatan listrik, pemeriksaan dan penggantian sebaiknya dilakukan teknisi AC.
Cara Mengukur Resistansi Thermistor AC
Langkah pertama adalah mematikan sumber listrik AC. Cabut steker jika menggunakan steker atau turunkan MCB yang memasok listrik ke unit AC.
Setelah listrik dipastikan mati, buka casing indoor untuk mengakses thermistor dan PCB. Lokasi sensor bisa berbeda tergantung desain dan tipe AC.
Lepaskan soket thermistor dari PCB agar pengukuran tidak terganggu oleh rangkaian elektronik lainnya.
Selanjutnya, atur multimeter ke mode pengukuran resistansi atau Ohm. Pilih rentang yang sesuai dengan perkiraan nilai sensor. Jika menggunakan multimeter dengan pilihan 20 kΩ atau 40 kΩ, pilih rentang yang mampu membaca nilai thermistor.
Hubungkan probe multimeter ke kedua pin thermistor. Karena thermistor pada dasarnya merupakan komponen resistif, polaritas probe tidak menjadi masalah untuk pengukuran resistansi biasa.
Catat angka yang muncul.
Namun, jangan langsung menyimpulkan sensor rusak hanya berdasarkan angka tersebut. Anda juga harus mencatat suhu saat pengukuran.
Misalnya, suhu ruangan saat pengukuran adalah 25 derajat Celsius. Nilai resistansi kemudian dibandingkan dengan tabel temperatur thermistor yang digunakan pada AC tersebut.
Jangan Menyamakan Semua Thermistor AC
Ini bagian yang sangat penting saat melakukan servis AC.
Tidak semua thermistor mempunyai nilai resistansi yang sama. Bahkan AC dari merek yang sama dapat menggunakan thermistor dengan karakteristik berbeda pada tipe tertentu.
Sebagai gambaran umum, beberapa AC dapat menggunakan thermistor sekitar 5 kΩ, 10 kΩ, 15 kΩ, atau 20 kΩ pada suhu tertentu, termasuk 25 derajat Celsius.
Ada unit yang menggunakan karakteristik 10 kΩ, sementara unit lainnya dapat menggunakan nilai berbeda. Karena itu, angka seperti 10 kΩ tidak boleh dianggap sebagai standar universal untuk semua AC.
Tabel temperatur dari pabrikan atau spesifikasi sensor bawaan menjadi acuan yang lebih tepat.
Sebagai contoh, jika thermistor tertentu memang dirancang memiliki resistansi sekitar 10 kΩ pada 25 derajat Celsius, hasil pengukuran yang mendekati nilai tersebut dapat dianggap sesuai.
Sebaliknya, jika pada suhu yang sama nilainya terpaut jauh, misalnya hanya beberapa kilo-ohm atau jauh lebih tinggi dari standar, sensor perlu dicurigai mengalami drift.
Bagaimana Mengetahui Thermistor Masih Sensitif?
Selain membandingkan nilai dengan tabel temperatur, Anda juga dapat melakukan pemeriksaan perubahan resistansi terhadap perubahan suhu.
Thermistor seharusnya mengalami perubahan nilai resistansi ketika suhunya berubah. Gunakan termometer sebagai acuan suhu dan lakukan pengamatan terhadap nilai resistansi.
Anda dapat memberikan perubahan suhu secara perlahan menggunakan media yang aman, misalnya udara atau media air dengan catatan bagian konektor dan komponen listrik tidak terkena air.
Jika suhu berubah tetapi nilai resistansi hampir tidak berubah, sensor patut dicurigai bermasalah.
Sebaliknya, jika resistansi berubah secara konsisten, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan membandingkan nilainya terhadap tabel karakteristik sensor.
Mengenali Sensor Putus atau Korslet
Kerusakan total biasanya lebih mudah dikenali.
Jika multimeter menunjukkan OL atau indikasi open circuit, kemungkinan jalur thermistor mengalami putus. Penyebabnya dapat berupa elemen sensor rusak atau kabel sensor terputus.
Jika multimeter menunjukkan nilai yang mendekati 0 Ω, sensor atau kabelnya dapat dicurigai mengalami korsleting.
Namun, pemeriksaan tetap perlu dilakukan secara menyeluruh karena kerusakan tidak selalu berasal dari elemen thermistor. Kabel, konektor, atau sambungan sensor juga dapat menjadi sumber masalah.
Cara Mengganti Thermistor AC
Jika hasil pengukuran menunjukkan thermistor sudah mengalami drift atau rusak total, langkah berikutnya adalah menggantinya.
Pastikan sensor pengganti memiliki karakteristik resistansi yang sesuai dengan sensor bawaan. Jangan hanya membeli berdasarkan merek AC.
Hal yang lebih penting adalah nilai resistansi dan karakteristik perubahan resistansinya terhadap suhu. Thermistor dengan bentuk yang mirip belum tentu mempunyai karakteristik yang sama.
Setelah mendapatkan sensor yang sesuai, pasang konektor pada soket PCB. Pastikan konektor terpasang dengan kuat dan tidak longgar.
Kemudian perhatikan posisi pemasangan masing-masing sensor.
Room sensor biasanya ditempatkan pada area yang memungkinkan sensor membaca udara ruangan yang masuk ke unit indoor. Sensor tidak boleh dipasang sembarangan atau ditempel langsung pada permukaan evaporator karena dapat membuat pembacaan suhu tidak sesuai kondisi udara ruangan.
Sementara itu, pipe sensor diposisikan pada bagian pipa evaporator menggunakan dudukan atau selongsong yang memang disediakan. Sensor harus menempel dengan baik agar dapat membaca temperatur pipa secara akurat.
Kesalahan posisi sensor dapat membuat thermistor yang sebenarnya masih bagus memberikan pembacaan yang tidak sesuai.
Setelah Diganti, Lakukan Pengujian
Setelah thermistor terpasang, periksa kembali konektor dan posisi kabel sebelum menutup casing.
Nyalakan kembali sumber listrik dan hidupkan AC. Perhatikan apakah unit dapat bekerja normal, apakah kompresor bekerja sesuai kondisi sistem, serta apakah muncul kode error.
Untuk AC inverter, perhatikan juga apakah indikator pada indoor menunjukkan adanya gangguan sensor.
Jika AC kembali bekerja normal, proses penggantian dapat dianggap selesai. Namun, apabila masalah tetap muncul, jangan langsung mengganti PCB.
Periksa kembali thermistor, konektor, kabel, posisi sensor, dan karakteristik resistansinya. PCB memang dapat mengalami kerusakan, tetapi pemeriksaan sensor dan jalur kabel merupakan langkah penting sebelum menyimpulkan modul elektronik sebagai sumber masalah.
Kesimpulan
Thermistor merupakan komponen kecil yang memiliki peran besar dalam pengaturan kerja AC. Room sensor membaca suhu ruangan, sedangkan pipe sensor membantu sistem mengetahui kondisi temperatur evaporator.
Pemeriksaan thermistor dapat dilakukan menggunakan multimeter dengan mengukur nilai resistansinya dalam satuan Ohm atau kilo-ohm. Namun, angka yang muncul tidak boleh langsung dianggap benar atau salah tanpa mengetahui suhu saat pengukuran dan tabel karakteristik thermistor yang digunakan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi drift. Sensor yang mengalami drift masih dapat menunjukkan nilai resistansi, tetapi nilainya sudah tidak sesuai dengan standar. Kondisi ini dapat menyebabkan kompresor terlalu cepat mati, sistem bekerja tidak sesuai target, evaporator berpotensi membeku, atau AC menampilkan kode error.
Jika thermistor terbukti rusak, penggantian harus menggunakan sensor dengan karakteristik yang sesuai. Setelah itu, posisi room sensor dan pipe sensor juga harus dipasang dengan benar agar pembacaan suhu kembali akurat.
Dengan memahami cara mengukur resistansi dan membandingkannya dengan karakteristik temperatur, pemeriksaan thermistor dapat dilakukan lebih tepat. Yang paling penting, jangan menjadikan satu angka kilo-ohm sebagai standar untuk semua AC karena setiap model dapat menggunakan karakteristik sensor yang berbeda.

Posting Komentar