6 Game Zelda yang Masih Belum Bisa Dimainkan di Nintendo Switch 2
6 Game Zelda yang Masih Belum Bisa Dimainkan di Nintendo Switch 2
Nintendo Switch 2 membuka peluang besar bagi Nintendo untuk membawa kembali berbagai game klasik ke konsol generasi terbaru. Apalagi, seri The Legend of Zelda punya katalog game yang sangat luas, mulai dari petualangan 3D hingga game dengan konsep eksperimental yang memanfaatkan fitur unik konsol pada zamannya.
Meski beberapa judul Zelda sudah tersedia di Nintendo Switch maupun Switch 2, ternyata masih ada sejumlah game yang belum mendapatkan versi resmi untuk konsol tersebut. Sebagian bahkan berasal dari platform yang sudah cukup tua seperti Nintendo DS, Nintendo 3DS, GameCube, hingga Wii U.
Masalahnya bukan sekadar memindahkan file game lama ke hardware baru. Beberapa judul memiliki mekanisme permainan yang sangat bergantung pada fitur khusus konsol asalnya. Ada yang menggunakan layar sentuh sebagai kontrol utama, ada pula yang dirancang untuk multiplayer dengan perangkat tambahan.
Berikut enam game Zelda yang masih belum bisa dimainkan secara resmi di Nintendo Switch 2.
1. The Legend of Zelda: Phantom Hourglass
The Legend of Zelda: Phantom Hourglass menjadi salah satu game paling sulit untuk sekadar di-port ke Nintendo Switch 2.
Game yang awalnya dirilis untuk Nintendo DS ini sangat bergantung pada layar sentuh. Pemain mengendalikan Link melalui sentuhan stylus untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menyerang musuh, berinteraksi dengan objek, sampai menyelesaikan puzzle.
Bahkan, peri yang menemani Link memiliki fungsi seperti kursor yang membantu pemain berinteraksi dengan dunia permainan. Karena itu, layar sentuh bukan sekadar fitur tambahan, melainkan bagian penting dari desain gameplay.
Nintendo sebenarnya bisa mencari solusi. Misalnya, mekanisme sentuh dapat disesuaikan dengan layar touchscreen Switch 2 ketika dimainkan dalam mode handheld. Ada juga kemungkinan memanfaatkan fitur mouse pada Joy-Con 2 untuk menggantikan beberapa fungsi stylus.
Namun, masalahnya tetap sama. Jika kontrol asli dipertahankan, pengalaman bermain dalam mode tertentu bisa terasa kurang nyaman. Jika kontrolnya diubah, Nintendo harus mendesain ulang banyak mekanisme yang sejak awal dibuat khusus untuk DS.
2. The Legend of Zelda: Twilight Princess
Kalau ada satu game dalam daftar ini yang terasa paling aneh karena belum hadir di Switch 2, The Legend of Zelda: Twilight Princess mungkin menjadi salah satunya.
Game ini awalnya dirilis untuk GameCube dan Wii, kemudian mendapatkan versi HD di Wii U. Artinya, secara teknis sudah ada versi remaster yang dapat menjadi dasar untuk port ke konsol Nintendo generasi berikutnya.
Namun, sampai sekarang versi resmi Twilight Princess HD masih belum tersedia di Nintendo Switch 2.
Twilight Princess sendiri memiliki karakteristik yang cukup berbeda dari beberapa game Zelda lainnya. Atmosfernya lebih gelap, ceritanya lebih serius, dan dunia yang ditawarkan terasa lebih suram.
Pemain memulai petualangan sebagai Link sebelum akhirnya terlibat dengan dunia Twilight. Salah satu bagian ikoniknya adalah kemampuan Link berubah menjadi Wolf Link, yang kemudian menjadi bagian penting dalam eksplorasi dan cerita.
Setelah bagian pembuka yang relatif lambat, petualangan Twilight Princess berkembang menjadi perjalanan yang lebih besar dengan dungeon, pertarungan, eksplorasi, dan cerita yang cukup serius.
Dari enam game dalam daftar ini, Twilight Princess bisa dibilang punya fondasi yang cukup kuat untuk diadaptasi ke Switch 2 karena versi HD-nya sudah tersedia di platform Nintendo sebelumnya.
Baca juga : AI dan Anak: Mengapa Chatbot Bisa Menjadi Tantangan Baru yang Lebih Personal daripada Media Sosial
3. The Legend of Zelda: A Link Between Worlds
The Legend of Zelda: A Link Between Worlds merupakan salah satu kandidat yang relatif mudah dibayangkan hadir di Switch 2.
Game ini awalnya dirilis untuk Nintendo 3DS dan memiliki mekanisme gameplay yang cukup unik. Link bisa berubah menjadi gambar dua dimensi dan menempel di permukaan dinding.
Kemampuan tersebut bukan sekadar gimmick visual. Mekanisme ini digunakan untuk menyelesaikan puzzle, mengeksplorasi area tertentu, serta berpindah antara Hyrule dan dunia paralel bernama Lorule.
Menariknya, A Link Between Worlds tidak terlalu bergantung pada layar sentuh seperti game Zelda yang dirilis untuk Nintendo DS. Fitur 3D pada Nintendo 3DS memang menjadi bagian dari pengalaman bermain, tetapi bukan fondasi utama gameplay.
Hal tersebut membuat adaptasinya ke Switch 2 terasa lebih sederhana. Nintendo bisa mempertahankan sistem permainan utama tanpa harus melakukan perubahan besar pada kontrol.
Ketika pertama dirilis pada 2013, A Link Between Worlds juga mendapatkan banyak respons positif karena berhasil mempertahankan elemen klasik Zelda sambil memasukkan mekanisme baru.
Dengan desain yang lebih fleksibel, game ini sebenarnya cocok untuk generasi pemain yang mengenal Zelda lewat game-game modern.
4. The Legend of Zelda: Tri Force Heroes
Berbeda dari Zelda pada umumnya, The Legend of Zelda: Tri Force Heroes mengandalkan pengalaman multiplayer.
Game 3DS ini membawa Link ke kerajaan Hytopia, tempat sang putri terkena kutukan. Untuk menyelesaikan petualangan, Link bekerja sama dengan dua Link lainnya yang dikendalikan pemain lain.
Ketiganya harus berkolaborasi untuk menyelesaikan puzzle, menghadapi musuh, dan melewati berbagai area.
Salah satu fitur menariknya adalah kostum. Pemain dapat mengenakan berbagai pakaian yang memberikan kemampuan berbeda. Jadi, kerja sama tidak hanya mengandalkan posisi karakter, tetapi juga kombinasi kemampuan dari kostum yang digunakan.
Namun, konsep multiplayer tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa game ini tidak sepopuler judul Zelda utama.
Tri Force Heroes memiliki pendekatan yang lebih ringan dan komedi. Hal tersebut cukup berbeda dari game Zelda yang menawarkan petualangan solo dengan cerita dan dunia yang lebih serius.
Jika Nintendo ingin membawanya ke Switch 2, mereka juga perlu mempertimbangkan bagaimana sistem multiplayer-nya diterapkan agar tetap nyaman dimainkan pemain modern.
5. The Legend of Zelda: Spirit Tracks
Masih dari Nintendo DS, ada The Legend of Zelda: Spirit Tracks.
Game ini menawarkan konsep yang cukup berbeda karena Link berperan sebagai masinis kereta api. Alih-alih menjelajahi dunia dengan berjalan kaki atau menggunakan kapal, pemain akan menghabiskan sebagian perjalanan dengan mengendarai kereta.
Cerita juga menghadirkan Princess Zelda dengan peran yang lebih aktif. Setelah kehilangan tubuhnya dan menjadi roh, Zelda dapat membantu Link dengan merasuki berbagai objek, termasuk armor yang kemudian dapat digunakan dalam pertempuran.
Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik Spirit Tracks.
Namun, game ini menghadapi dua masalah besar jika ingin langsung dibawa ke Switch 2. Pertama adalah kontrol touchscreen yang menjadi bagian penting dari game DS. Kedua adalah sistem perjalanan menggunakan kereta yang bagi sebagian pemain justru terasa panjang dan kurang menarik.
Karena itu, dibandingkan port biasa, Spirit Tracks mungkin lebih cocok jika mendapatkan remake.
Dengan remake, Nintendo bisa memperbaiki sistem perjalanan kereta, menyesuaikan kontrol, sekaligus mempertahankan mekanisme Zelda dan roh Princess Zelda yang menjadi ciri khasnya.
6. The Legend of Zelda: Four Swords Adventures
Terakhir ada The Legend of Zelda: Four Swords Adventures, game yang dirilis untuk Nintendo GameCube.
Game ini sejak awal memang dirancang untuk pengalaman multiplayer. Masalahnya, sistem multiplayer pada zaman GameCube cukup merepotkan.
Untuk memainkan Four Swords Adventures secara maksimal bersama beberapa pemain, pemain membutuhkan beberapa Game Boy Advance yang dihubungkan dengan GameCube.
Buat ukuran zaman sekarang, persyaratan tersebut tentu terasa ribet.
Namun, justru konsep multiplayer-nya menjadi alasan game ini menarik jika suatu hari dibawa ke Switch 2. Nintendo bisa mengubah sistem tersebut menjadi multiplayer online sehingga pemain tidak lagi membutuhkan perangkat tambahan seperti Game Boy Advance.
Gameplay Four Swords Adventures berfokus pada kerja sama hingga empat Link. Pemain harus berkoordinasi untuk menyelesaikan puzzle, melawan musuh, dan menghadapi bos.
Secara visual, desainnya juga mengingatkan pada gaya The Legend of Zelda: A Link to the Past, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemar Zelda klasik.
Mengapa Keenam Game Ini Sulit Dibawa ke Switch 2?
Masalah utama dari keenam game tersebut sebenarnya bukan kemampuan hardware Switch 2.
Justru tantangannya ada pada desain gameplay.
Phantom Hourglass dan Spirit Tracks menggunakan touchscreen DS sebagai bagian penting dari kontrol. A Link Between Worlds memang lebih mudah karena tidak bergantung pada touchscreen, tetapi tetap membutuhkan penyesuaian dari pengalaman 3DS.
Sementara itu, Tri Force Heroes dan Four Swords Adventures memiliki tantangan berbeda karena multiplayer merupakan bagian penting dari desain game.
Twilight Princess mungkin menjadi kasus paling sederhana karena sudah memiliki versi HD. Namun, Nintendo tetap perlu menentukan apakah port biasa sudah cukup atau justru ingin melakukan peningkatan tertentu untuk Switch 2.
Dengan kata lain, enam game ini bukan sekadar game lama yang tinggal dipindahkan ke konsol baru. Masing-masing memiliki karakteristik yang membuat proses adaptasi membutuhkan keputusan desain tersendiri.
Zelda Mana yang Paling Cocok Hadir di Switch 2?
Enam game tersebut menawarkan pengalaman yang cukup berbeda.
Phantom Hourglass dan Spirit Tracks merupakan dua game DS yang paling membutuhkan penyesuaian kontrol. Keduanya bahkan bisa mendapatkan keuntungan lebih besar jika Nintendo membuat remake daripada port langsung.
A Link Between Worlds memiliki fondasi gameplay yang relatif mudah disesuaikan karena touchscreen bukan elemen utama.
Tri Force Heroes dan Four Swords Adventures memiliki daya tarik multiplayer yang bisa dikembangkan lebih jauh dengan sistem online modern.
Sementara itu, Twilight Princess memiliki modal paling kuat berupa versi HD yang sebelumnya sudah dirilis di Wii U.
Pada akhirnya, Nintendo Switch 2 masih memiliki banyak ruang untuk menghadirkan kembali katalog Zelda yang lebih luas. Keenam game ini menunjukkan bahwa ada banyak eksperimen dalam sejarah Zelda yang belum mendapatkan kesempatan untuk tampil di hardware modern.
Jika Nintendo benar-benar ingin menggali kembali arsip klasiknya, game-game tersebut bisa menjadi pilihan menarik, terutama jika tidak hanya di-port begitu saja, tetapi mendapatkan penyesuaian kontrol, multiplayer, dan kualitas visual yang sesuai dengan standar konsol masa kini.

Posting Komentar